Reporter: Eldo Christoffel Rafael | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Asia merupakan pasar beras dunia. Lebih dari 90% total produksi dan konsumsi beras global beredar di benua ini. Dari pangsa Asia, Indonesia bersama Tiongkok, India, Bangladesh, Vietnam dan Filipina menelan 80% produksi dan konsumsi beras.
Phillip Securities Indonesia menyatakan, dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta orang, total konsumsi beras Indonesia pada 2015 menyentuh 39 juta ton. PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) melihat prospek bisnis beras di negeri ini semakin pulen.
AISA terus ekspansi produksi dari saat ini 480.000 ton per tahun menuju 810.000 ton per tahun. Penambahan kapasitas ini diprediksi rampung pada akhir tahun ini. Dus, hasil ekspansi itu mulai terasa di tahun depan.
Selama ini, AISA memang mengandalkan bisnis beras. Apalagi, bisnis minyak sawit mentah yang dijalani anak usahanya, PT Golden Plantation Tbk (GOLL), semakin layu.
"Kontribusi bisnis beras terus meningkat, dari tahun 2011 menyumbang 40% total pendapatan menjadi 68% total pendapatan per akhir kuartal III 2015," ujar Edward Lowis, analis Phillip Securities Indonesia, dalam risetnya.
Analis Minna Padi Investama, Christian Saortua menambahkan, sumber pendatapan terbesar AISA memang dari segmen beras. Selanjutnya didukung makanan ringan. "Jika perusahaan mampu mengembangkan kerjasama dengan petani, tentu akan membantu menekan harga produksi," kata Christian.
AISA juga berupaya meningkatkan nilai produk di pasar. Saat ini AISA berinvestasi pada brand (merek) beras, dengan mengutamakan kualitas beras yang jauh lebih baik dibandingkan beras curah.
Dengan memoles brand, menurut Christian, hal ini akan memberikan keunggulan bagi produk AISA. AISA fokus menggarap Sumatera sebagai target pasar selanjutnya. "Sedangkan NTT adalah salah satu lumbung beras yang menyuplai perusahaan," kata dia.
Tahun ini, AISA mengalokasikan belanja modal (capex) Rp 600 miliar. Dari jumlah itu, senilai Rp 300 miliar untuk pengembangan bisnis beras dan Rp 300 miliar untuk menyokong bisnis makanan.
AISA menilai, lesunya industri kelapa sawit nasional dapat membebani kinerja. Hal ini terkait bisnis CPO anak usahanya, Golden Plantation. Christian menilai, rencana perseroan menjual GOLL sebagai langkah tepat. "Dana yang diperoleh bisa digunakan untuk mendukung investasi lainnya," kata Christian.
Sejumlah analis masih memprediksi, kinerja AISA tumbuh pada tahun ini. Christian memprediksi, AISA akan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sekitar 4% pada tahun ini.
Sementara analis UOB Kay Hian Stevanus Juanda dalam risetnya juga memproyeksikan, laba bersih AISA tahun ini hanya tumbuh single digit, yakni 8,6% year on year (yoy). Adapun laba bersih pada tahun depan diperkirakan meningkat 11,8% (yoy). Sedangkan pendapatan AISA pada tahun ini diperkirakan tumbuh 15%-20% (yoy).
Stevanus merekomendasikan hold AISA dengan target Rp 1.210 per saham. Analis Maybank Kim Eng Securities, Janni Asman menyarankan buy dengan target Rp 1.300. Edward juga merekomendasikan buy dengan target Rp 2.060. Harga saham AISA kemarin menurun 0,42% menjadi Rp 1.175 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













