Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan FTSE Russell mempertahankan pasar saham Indonesia dalam kategori emerging market belum menjadi katalis yang cukup kuat untuk membalikkan tekanan jual investor asing. Arus dana asing masih deras keluar dari pasar saham Indonesia hingga perdagangan Rabu (7/10/2026).
FTSE Russell sebelumnya memutuskan untuk mempertahankan status pasar saham Indonesia sebagai emerging market dan tidak memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantauan atau watchlist.
Melansir pengumuman FTSE Russell pada Rabu (7/10/2026) pagi WIB, lembaga tersebut menyatakan akan terus memantau secara cermat reformasi terkait integritas pasar modal Indonesia.
Setelah menunda perubahan indeks tertentu untuk Indonesia dalam tinjauan indeks pada Maret, Juni, dan September 2026, FTSE Russell kini mengevaluasi efektivitas berbagai reformasi yang baru diterapkan. Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan proses transisi kembali menuju tinjauan indeks standar dapat berlangsung secara tertib dan stabil.
“Hal itu telah diuraikan dalam FAQ FTSE Russell mengenai Perlakuan terhadap Efek Indonesia,” tulis pengumuman tersebut.
Baca Juga: Saham Multi Bintang (MLBI) Melonjak 20,70% Sepanjang 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya
FTSE Russell menilai Indonesia telah menjalankan sejumlah reformasi pasar. Beberapa di antaranya mencakup peningkatan keterbukaan informasi bagi pemegang saham, perluasan kategori klasifikasi investor, penerapan persyaratan free float minimum, serta penguatan perangkat pengawasan pasar.
Berbagai langkah tersebut diarahkan untuk menjawab kekhawatiran yang sebelumnya muncul terkait transparansi serta kemampuan investor untuk mereplikasi data pasar.
“FTSE Russell akan terus memantau penerapan dan efektivitas langkah-langkah tersebut serta berinteraksi dengan para pelaku pasar untuk menghimpun masukan,” ungkapnya.
FTSE Russell selanjutnya akan memberikan perkembangan terbaru mengenai perlakuan terhadap sekuritas Indonesia menjelang tinjauan indeks pada Desember 2026. Keputusan tersebut akan mempertimbangkan perkembangan reformasi pasar serta masukan dari berbagai pemangku kepentingan.
Indonesia saat ini berada dalam kelompok Secondary Emerging bersama Chile, China, Kolombia, Mesir, Islandia, India, Kuwait, Filipina, Qatar, Romania, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (UEA), dan Vietnam.
Asing Masih Jual Saham Indonesia
Meski keputusan FTSE Russell memberikan sentimen positif, pasar saham Indonesia justru ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (7/10/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,75% ke level 6.146 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan demikian, sejak awal tahun IHSG telah terkoreksi 28,91% secara year to date (YTD).
Tekanan juga terlihat dari arus dana investor asing. Pada perdagangan hari ini, dana asing tercatat keluar sebesar Rp 828,65 miliar. Secara kumulatif, foreign outflow telah mencapai Rp 109,45 triliun sepanjang tahun berjalan.
Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pengumuman FTSE Russell merupakan perkembangan positif bagi pasar saham Indonesia, terutama karena mengurangi salah satu risiko besar yang sebelumnya membayangi pasar.
Baca Juga: Emiten CPO Berpeluang Jadi Jawara, Ini Saham Pilihan Analis
Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan bahwa dari perspektif FTSE Russell, reformasi pasar yang sedang berlangsung belum memberikan alasan untuk memasukkan Indonesia ke dalam proses reklasifikasi.
“Ini penting untuk sentimen karena menunjukkan bahwa concern terhadap struktur pasar Indonesia tidak serta-merta diterjemahkan oleh seluruh global index providers menjadi risiko penurunan klasifikasi,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (7/10/2026).
Namun, keputusan FTSE Russell belum cukup untuk secara langsung menghentikan arus keluar dana asing. Investor global tidak hanya menjadikan status klasifikasi pasar sebagai pertimbangan investasi.
Dalam beberapa pekan terakhir, tekanan foreign flow juga dipengaruhi oleh pelemahan rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dolar AS, imbal hasil (yield) US Treasury yang masih berada di kisaran 5,2%-5,3%, penguatan dolar AS, serta kondisi global risk appetite yang belum sepenuhnya kondusif.
“Sepanjang September 2026 sendiri foreign net sell tercatat sekitar Rp 10,2 triliun,” ungkapnya.
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan, keputusan FTSE Russell sebenarnya sudah diperkirakan oleh pelaku pasar.
Ekspektasi tersebut tercermin dari kenaikan IHSG sebesar 1,25% dalam sepekan terakhir sebelum akhirnya indeks kembali terkoreksi pada perdagangan Rabu.
Menurut Teguh, FTSE Russell selama ini lebih banyak menjadi acuan bagi investor asal Eropa. Sementara itu, sebagian besar investor asing yang memiliki pengaruh besar terhadap arus dana keluar dari pasar saham Indonesia berasal dari Amerika Serikat.
Managing Director PT Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai keputusan FTSE Russell tetap merupakan sentimen positif. Namun, efeknya lebih berperan dalam mengurangi downside risk ketimbang langsung mendorong masuknya dana asing dalam jumlah besar.
Dipertahankannya Indonesia sebagai Secondary Emerging Market serta keputusan untuk tidak memasukkan Indonesia ke dalam watchlist dinilai dapat meredakan kekhawatiran mengenai potensi penurunan klasifikasi pasar.
Meski demikian, keputusan tersebut belum cukup kuat untuk menghentikan outflow asing secara konsisten. Investor global masih memperhatikan sejumlah faktor lain seperti pergerakan rupiah, yield US Treasury, suku bunga global, pertumbuhan laba emiten, serta kondisi makroekonomi domestik.
“Efek FTSE lebih merupakan confidence stabilizer. Investor asing berpotensi mulai melihat Indonesia kembali, tetapi masuknya dana kemungkinan masih selektif ke saham yang likuid, free float besar dan fundamentalnya kuat,” ujarnya kepada Kontan, Rabu.
Baca Juga: Redemption Reksadana Meningkat, Investor Sedang Rebalancing Portofolio
Jadi Sinyal Positif Jelang MSCI?
Keputusan FTSE Russell juga menjadi perhatian menjelang evaluasi pasar Indonesia oleh MSCI pada November 2026. Namun, keputusan FTSE tidak dapat secara otomatis dijadikan indikator bahwa MSCI akan mengambil keputusan serupa.
Rully menjelaskan bahwa masing-masing index provider memiliki kerangka kerja dan metode penilaian yang berbeda. Meski begitu, terdapat sinyal positif karena FTSE Russell dan MSCI sama-sama memberikan perhatian terhadap reformasi yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), khususnya terkait transparansi, free float, dan integritas pasar.
“Jadi keputusan FTSE setidaknya memberikan indikasi bahwa reformasi Indonesia mendapatkan recognition dari salah satu global index provider utama,” paparnya.
Untuk MSCI, sejumlah perhatian yang disampaikan sebelumnya lebih spesifik. Hal tersebut mencakup transparansi pemegang saham, kemampuan menentukan genuine free float, daftar high shareholding concentration (HSC), serta kekhawatiran terhadap aktivitas perdagangan yang terkoordinasi.
“MSCI juga menegaskan bahwa yang ingin mereka lihat bukan hanya perubahan regulasi, tetapi consistent implementation and sustained effect dari reformasi tersebut,” paparnya.
Teguh melihat terdapat kemungkinan MSCI mengikuti langkah FTSE Russell dengan mempertahankan status Bursa Indonesia dalam kategori emerging market. Namun, hal tersebut belum tentu diikuti dengan keputusan untuk segera melakukan unfreeze terhadap saham-saham Indonesia.
Salah satu alasannya adalah masih terdapat banyak emiten Indonesia yang masuk dalam daftar HSC dan belum memperbaiki konsentrasi kepemilikan saham.
Di sisi lain, kebijakan penurunan harga transaksi saham menjadi Rp 1 dinilai positif oleh investor asing. Kebijakan tersebut memungkinkan investor asing menarik investasi dari emiten yang harga sahamnya sebelumnya tertahan di level Rp 50, seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
“Penilaian dari S&P, Fitch, dan Moody’s nanti juga akan memengaruhi pergerakan pasar. Sentimennya bisa bagus kalau Indonesia dapat outlook stabil,” tuturnya.
Harry menilai keputusan FTSE Russell memberikan sinyal positif menjelang evaluasi MSCI pada November. Namun, keputusan tersebut tidak otomatis berarti MSCI akan melakukan unfreeze.
FTSE Russell dan MSCI memiliki metodologi serta fokus perhatian yang berbeda. Kendati demikian, peluang unfreeze tetap terbuka apabila MSCI dan investor institusi global menilai data free float Indonesia sudah lebih dapat diandalkan dan reformasi telah diterapkan secara konsisten di lapangan.
“Pasar sebaiknya belum menganggap unfreeze sebagai base case sampai MSCI mengeluarkan keputusan resmi,” paparnya.
Prospek IHSG hingga Akhir 2026
Di tengah tekanan pasar saat ini, Teguh memproyeksikan IHSG bergerak pada kisaran 6.500-6.700 dalam waktu dekat dan berpotensi mencapai level 7.000 pada akhir 2026.
Sektor perbankan serta komoditas seperti nikel, CPO, dan batubara menjadi sejumlah sektor yang dinilai masih menarik untuk dicermati. Ketiga komoditas tersebut masih mencatatkan kenaikan harga sehingga saham-saham terkait dinilai memiliki prospek.
Baca Juga: Terungkap Broker Transaksi Jumbo BYAN Rp 26,1 Triliun Rabu (7/10), Ini Pelakunya
“Mengingat tidak ada indikator makroekonomi yang mengkhawatirkan, ini adalah kesempatan yang bagus untuk investor domestik untuk masuk atau hold di sektor perbankan dan komoditas,” paparnya.
Sementara itu, Harry menilai pasar saham Indonesia pada akhir 2026 hingga 2027 akan bergerak lebih selektif dan volatil.
Jika persoalan terkait status pasar mulai mereda, Indonesia berpeluang mendapatkan kembali sebagian investability premium yang hilang dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, sejumlah tantangan masih membayangi. Rupiah masih rentan mengalami tekanan, yield global tetap tinggi, biaya pendanaan meningkat, inflasi domestik mulai naik, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya menguat.
Untuk akhir 2026, Harry memperkirakan IHSG berada di kisaran 6.400-6.600. Potensi kenaikan menuju area tersebut sangat bergantung pada stabilisasi rupiah, penurunan global yield, serta hasil evaluasi MSCI pada November.
Menurut Harry, saham perbankan besar, telekomunikasi, serta sektor energi dan komoditas masih dapat menjadi pilihan investor hingga akhir 2026.
Investor juga perlu lebih disiplin dalam memperhatikan aspek likuiditas dan free float saham. Pasalnya, kedua faktor tersebut kini menjadi perhatian penting bagi penyedia indeks global.
“Dalam kondisi pasar seperti sekarang, strategi yang lebih tepat adalah selective stock picking, fokus pada fundamental dan liquidity, bukan mengejar saham hanya karena ekspektasi masuk indeks,” paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














