Reporter: Yuliana Hema | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menguat dan ramai ditransaksikan pada perdagangan Selasa (6/10), seiring perhatian investor terhadap valuasi dan prospek bisnis fintech.
Saham GOTO ditutup naik 6,9% menjadi Rp 31 per saham, Selasa (6/10/2026). Sepanjang perdagangan, sebanyak 18,44 miliar saham GOTO berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp 570,9 miliar.
Analis Panin Sekuritas Sarkia Adelia menilai kembali ramainya transaksi saham GOTO memberikan ruang bagi investor untuk mencermati valuasi serta prospek bisnis perusahaan dalam jangka panjang.
Menurut Sarkia, harga saham GOTO saat ini menawarkan valuasi relatif rendah dibandingkan potensi perusahaan. Valuasi tersebut tercermin dari posisi saham yang diperdagangkan sekitar satu kali nilai buku.
“Sekarang GoTo dihargai sekitar satu kali nilai buku atau 1x PBV, artinya nilai pasarnya kurang lebih setara dengan ekuitas yang tercatat. Menurut kami, ini sudah tergolong murah,” ujar Sarkia, Selasa (6/10/2026).
Baca Juga: Saham GOTO Naik 7,14%, Investor Mulai Cermati Valuasi dan Buyback
Sebagai pembanding, perusahaan regional dengan skala bisnis sebanding dapat dihargai sekitar tiga hingga empat kali nilai buku. Namun, perbedaan karakteristik dan profil profitabilitas masing-masing perusahaan tetap perlu menjadi pertimbangan investor.
Bisnis Fintech
Selain valuasi, Sarkia menyebut, prospek bisnis fintech GOTO semakin menarik karena kontribusinya terhadap kinerja grup terus meningkat. Pertumbuhan layanan pembayaran dan pinjaman mulai mendorong profitabilitas segmen tersebut.
Pada kuartal II-2026, EBITDA yang disesuaikan fintech GOTO melonjak 447% secara tahunan menjadi Rp 481 miliar. Angka tersebut untuk pertama kalinya melampaui ODS yang mencapai Rp 464 miliar.
Pendapatan bersih fintech juga meningkat 53% secara tahunan menjadi Rp 2,07 triliun. Kinerja tersebut menunjukkan fintech mulai menjadi sumber pertumbuhan GOTO di luar bisnis transportasi dan pengantaran.
Pertumbuhan fintech ditopang peningkatan jumlah pengguna dan aktivitas transaksi. Pengguna bertransaksi bulanan fintech mencapai 28,8 juta, naik 29% secara tahunan, sedangkan transaksi melonjak 91% menjadi 2,4 miliar.
Core GTV fintech juga tumbuh 91% menjadi Rp 157 triliun. Peningkatan keterlibatan pengguna tersebut turut mendukung bisnis pinjaman GOTO yang mencatat pertumbuhan portofolio sebesar 58% menjadi Rp 11 triliun.
Sarkia menilai perkembangan kedua mesin bisnis GOTO perlu menjadi perhatian investor. Meski bisnis ODS menghadapi penyesuaian akibat perubahan regulasi, pertumbuhan fintech memberikan peluang baru bagi perusahaan.
“Fintech berpotensi menjadi katalis fundamental yang kuat bagi GoTo karena GoPay semakin sering digunakan untuk bertransaksi, sementara bisnis pinjamannya ikut berkembang dan membuka ruang pertumbuhan pendapatan,” kata Sarkia.
Baca Juga: Saham GOTO Rebound, Cermati Prospek dan Rekomendasi Analis
Buyback Saham
Selain prospek bisnis, strategi alokasi modal juga menjadi faktor yang dapat menopang pergerakan saham GOTO. Perusahaan telah memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melakukan pembelian kembali saham.
Program buyback tersebut memiliki anggaran maksimal Rp 3,5 triliun. Pelaksanaannya berpotensi meningkatkan permintaan terhadap saham GOTO di tengah tekanan jual yang masih terjadi di pasar.
Selain buyback, GOTO berencana meminta persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB pada 14 Oktober 2026 untuk membatalkan sekitar 32 miliar saham tresuri atau sekitar 2,7% dari total saham beredar.
Setelah pembatalan dilakukan, porsi kepemilikan pemegang saham GOTO akan meningkat secara proporsional. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pengelolaan modal perusahaan.
“Anggaran buyback Rp 3,5 triliun memberikan kapasitas yang besar bagi GoTo untuk menyerap sebagian tekanan jual apabila program tersebut dilaksanakan,” kata Sarkia.
Menurut Sarkia, valuasi saham GOTO saat ini membuat momentum buyback cukup menarik. Namun, investor tetap perlu memperhatikan kebutuhan kas serta prioritas investasi perusahaan dalam menjalankan program tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














