kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45946,58   -0,57   -0.06%
  • EMAS969.000 -0,82%
  • RD.SAHAM -1.34%
  • RD.CAMPURAN -0.36%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.03%

Menakar dampak kenaikan harga minyak terhadap emiten petrokimia pasca serangan Iran


Rabu, 08 Januari 2020 / 16:32 WIB
Menakar dampak kenaikan harga minyak terhadap emiten petrokimia pasca serangan Iran
ILUSTRASI. Petugas melintas di depan jaringan pipa minyak di kilang unit pengolahan (Refinery Unit) V, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (23/10/2019). Refinery Unit V memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah 260 MBSD setara 25 persen dari kapasitas 'intake' nasi


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik antara Amerika Serikat dengan Iran memicu naiknya harga komoditas minyak dunia. Di satu sisi, kenaikan harga minyak tentu menguntungkan emiten minyak dan gas (migas). Namun, di sisi lain kenaikan harga minyak menjadi pemberat kinerja emiten petrokimia.

Sebagaimana diketahui, minyak menjadi salah satu bahan baku produk petrokimia, yakni naphtha.

Baca Juga: Perang terbuka AS-Iran kian dekat, begini kekuatan militer kedua negara

Lantas, bagaimana dampak kenaikan harga minyak terhadap kinerja emiten petrokimia seperti PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dan PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI).

Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso mengamini bahwa naiknya harga minyak mentah bakal mengerek harga bahan baku dari emiten petrokimia. “Namun, kembali lagi bahwa harga jual produk petrokimia juga akan terkerek naik,” ujar Aria kepada Kontan.co.id, Rabu (8/1).

Menurut Aria, ada dua faktor yang akan membantu kinerja emiten petrokimia, yakni peningkatan harga jual produk dan efisiensi perusahaan. Kedua hal ini dipercaya akan menjadi penyeimbang kenaikan harga bahan baku dan menjaga margin keuntungan.

Senada, Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus juga menilai naiknya harga minyak dunia akan memengaruhi margin keuntungan produk petrokimia. Namun, ia menilai sentimen kenaikan harga minyak dunia ini hanyalah bersifat sementara.

Baca Juga: OPEC kembali memangkas produksi, ICP Desember naik jadi US$ 67,18 per barel

“Memang benar tensi (kedua Negara) sedang memanas, tetapi kami berpikir bahwa tidak semudah itu terjadinya perang antara kedua Negara,” ujar Nico kepada Kontan.co.id.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×