kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Menakar dampak dan risiko krisis energi terhadap pasar komoditas


Rabu, 06 Oktober 2021 / 20:28 WIB
ILUSTRASI. Menakar dampak dan risiko krisis energi terhadap pasar komoditas


Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Noverius Laoli

Wahyu memproyeksikan harga batubara berpotensi meroket ke US$ 260-US$ 280 per metrik ton di akhir tahun ini. Sementara, di 2022 harga batubara berpotensi menyentuh US$ 300 per metrik ton.

"Jika terjadi koreksi harga batubara bisa mengarah ke US$ 200 bahkan US$ 100 tergantung bagaimana kebijakan China," kata Wahyu. 

Sedangkan Ibrahim memproyeksikan harga CPO di akhir tahun ini berpotensi naik ke RM 5.100 per ton. 

Namun, harga komoditas tidak akan selamanya naik. Ibrahim mengatakan jika harga terus naik, investor tidak ada yang mau beli karena sudah terlalu mahal. 

Baca Juga: Daya tarik investasi reksadana di tengah pemulihan ekonomi

Selain itu jika harga komoditas tidak dikontrol dan terus meroket maka negara berpotensi merugi akan harus meningkatkan subsidi komoditas energi. 

Wahyu menambahkan, jika kenaikan harga komoditas tidak terbendung, maka yang paling besar risikonya adalah memunculkan krisis baru. Wahyu mencontohkan di 2008 harga minyak sempat melambung ke US$ 140 per barel sebelum akhirnya anjlok seiring krisis subprime mortgage. 

Selanjutnya: Kenaikan harga komoditas menyokong kenaikan IHSG 2,06% pada Rabu (6/10)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×