kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45874,12   -12,06   -1.36%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Mayoritas Bursa Asia Menguat pada Selasa (6/2), Terdorong Kenaikan Bursa di China


Selasa, 06 Februari 2024 / 19:52 WIB
Mayoritas Bursa Asia Menguat pada Selasa (6/2), Terdorong Kenaikan Bursa di China
ILUSTRASI. Indeks saham di Asia sore ini, Selasa (6/2) mayoritas ditutup menguat.


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks saham di Asia sore ini, Selasa (6/2) mayoritas ditutup menguat. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 1,2%, didorong oleh rebound tajam pada indeks saham di China seperti Hang Seng yang naik 3,94% dan Indeks CSI 300 yang naik 3,48%

Menurut Tim Riset Phillip Sekuritas Indonesia, kenaikan ini terjadi setelah investor yang didukung oleh Pemerintah mulai membeli saham-saham unggulan (blue chips).

Pemerintah China sedang berusaha memutus tren penurunan di pasar saham. Sejumlah pengumuman telah dikeluarkan oleh regulator pasar modal dan juga kabar pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dengan berbagai badan regulator.

Pertemuan ini menggarisbawahi betapa pentingnya bagi Pemerintah China untuk menghentikan penurunan di pasar saham yang belakangan ini telah anjlok ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: IHSG Naik 0,68%, Simak Proyeksi Arah Indeks Saham Untuk Rabu (7/2)

Regulator pasar modal mengatakan, akan melarang perusahaan perantara efek atau perusahaan sekuritas dari meminjam saham untuk dipinjamkan dalam praktik short-selling dan membatasi nilai dari apa yang disebut securities refinancing.

Kebijakan ini sebagai bagian dari upaya lebih lanjut untuk memperketat short-selling. Perusahaan investasi milik Pemerintah China, Central Huijin Investment, hari ini (6/2) mengatakan telah memperluas cakupan investasinya hingga meliputi exchange-traded funds (ETFs) dan akan memperbesar porsi investasi di ETF.

Sementara itu, bank sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga acuan cash rate di 4,35%, level tertinggi dalam 12 tahun. RBA juga memberi sinyal pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut masih dimungkinkan.

Baca Juga: IHSG Menguat 0,68%, Simak Prediksi Untuk Rabu (7/2)

Dengan kata lain, Reserve Bank of Australia bergabung dengan bank-bank sentral besar lain seperti Federal Reserve dan European Central Bank (ECB) dalam melawan ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

RBA juga merilis ramalan kuartalan terkini yang memperlihatkan inflasi hanya akan mencapai titik tengah dari kisaran target 2% - 3% di 2026. Inflasi inti berada di 4,2% pada kuartal IV-2023.

Lamanya jangka waktu yang diperlukan inflasi untuk kembali ke dalam kisaran target memberi indikasi Reserve Bank of Australia akan mempertahankan pandangan bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk beberapa periode ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×