Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Rumor tersebut muncul setelah Haji Isam bersama Low Tuck Kwong dan pemilik PT Republik Korpora Indonesia Norman Joesoef terlihat meninjau area operasional tambang BYAN di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
KONTAN juga mencatat bahwa rumor tersebut sempat menjadi salah satu sentimen yang menggerakkan saham BYAN. Namun, setelah itu saham BYAN justru mengalami tekanan.
Per 15 September 2026, harga saham BYAN telah turun sekitar 41% sejak 19 Agustus, di tengah sejumlah sentimen negatif yang membayangi saham tersebut.
Adapun PT Jhonlin Baratama merupakan bagian dari kelompok usaha Jhonlin yang dikaitkan dengan Haji Isam.
Baca Juga: Haji Isam Beli 10 Miliar Saham BYAN, Segini Nilainya Jika Pakai Harga Pasar
Dalam pemberitaan KONTAN sebelumnya, Haji Isam disebut sebagai pengusaha yang dikabarkan menyiapkan akuisisi saham BYAN.
Dengan adanya perjanjian bersyarat ini, nama Jhonlin Baratama kini muncul secara resmi sebagai calon pembeli saham dari keluarga Low Tuck Kwong.
Bayan Resources menyatakan transaksi tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan maupun kelangsungan usaha perseroan.
Di pasar saham, BYAN ditutup menguat 1,14% ke Rp11.525 per saham pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Meski demikian, secara year to date harga saham BYAN masih melemah 26,59%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














