Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
Syafruddin pun memperkirakan imbal hasil SUN tenor 10 tahun berpotensi bergerak di kisaran 7,25%-7,60% hingga akhir 2026 dalam skenario dasar. Rasio bid-to-cover juga berpotensi lebih rendah dibandingkan periode normal selama rupiah, CDS Indonesia, dan imbal hasil US Treasury masih tinggi.
Permintaan investor dapat membaik apabila imbal hasil US Tresury turun, rupiah kembali stabil di bawah Rp 18.000 per dolar AS, CDS Indonesia turun mendekati 90-100 basis poin, serta tekanan dari isu MSCI mereda.
Sebaliknya, jika imbal hasil US Tresury kembali menembus 5,2%-5,3%, CDS Indonesia naik di atas 120 basis poin, atau rupiah melemah menuju Rp 18.300-Rp 18.500 per dolar AS, investor berpotensi meminta yield lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat membuat pemerintah kembali membatasi penyerapan dalam lelang.
Baca Juga: Isu MSCI Pukul Pasar Obligasi RI, Yield SUN 10 Tahun Melesat
Maka, menurutnya indikator paling penting bukan hanya total bid, tetapi bid-to-cover, komposisi investor, weighted-average yield dibanding pasar sekunder, spread SBN-UST, foreign net flow, CDS, dan rupiah.
“Pemerintah sebaiknya menerima penyerapan lelang yang lebih kecil bila harga yang diminta pasar tidak ekonomis, selama kebutuhan kas tetap aman dan kanal pembiayaan alternatif tersedia,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














