kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45949,73   8,09   0.86%
  • EMAS1.029.000 -0,10%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Lelang Sukuk Negara Sepi Peminat, Investor Minta Yield Tinggi


Selasa, 04 Oktober 2022 / 17:40 WIB
Lelang Sukuk Negara Sepi Peminat, Investor Minta Yield Tinggi
ILUSTRASI. Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara sepi peminat.


Reporter: Aris Nurjani | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara sepi peminat. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, total penawaran yang masuk dalam lelang SBSN, Selasa (4/10), cuma sebesar Rp 7,05 triliun.

Penawaran tersebut lebih rendah dari penawaran yang masuk dalam lelang SBSN sebelumnya yang senilai Rp 17,11 triliun. Sementara, pemerintah hanya menyerap Rp 755 milliar dari hasil lelang sukuk negara kali ini.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan, lelang SBSN tidak terlalu ramai karena Inflasi yang tinggi dan kebijakan suku bunga agresif.

"Sehingga cenderung membuat investor lebih berhati-hati untuk masuk ke surat berharga negara karena masih melihat apakah data inflasi terutama di Amerika Serikat (AS) bisa turun atau tidak," terang Rudiyanto kepada Kontan.co.id, Selasa (4/10).

Baca Juga: Utang Pemerintah Bertambah, Wamenkeu: Jangan Cuma Lihat Nominalnya

Menurut Rudiyanto, seri yang diburu investor pada lelang SBSN hari ini adalah seri dengan tenor 10 tahun atau yang menjadi benchmark/acuan.

"Yield 7,4% termasuk tinggi karena yang 10 tahun di konvensional sekitar 7,3%. Biasanya yang 10 tahun itu menjadi benchmark," jelasnya.

Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kementerian Keuangan Dwi Irianti Hadiningdyah mengatakan hasil lelang SBSN hari ini lebih rendah lantaran tren kenaikan suku bunga dan inflasi yang tinggi sehingga membuat investor wait and see. Ditambah pergerakan dolar AS yang masih fluktuatif.

Hasil lelang SBSN juga menunjukkan investor lebih banyak memburu tenor panjang. Menurut Dwi, untuk tenor panjang, investornya lebih ke perusahaan asuransi. Sementara, untuk tenor pendek peminatnya lebih perbankan dan asing.

"Perbankan dan asing mereka minta yield yang tinggi, jadi tidak masuk," jelas Dwi.

Baca Juga: Pemerintah Hanya Menyerap Rp 755 Milliar pada Lelang Sukuk Negara Selasa (4/10)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×