kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Kinerja Investasi Maret 2026 Tertekan Gejolak Global, Emas Terkoreksi Tajam


Jumat, 03 April 2026 / 21:00 WIB
Kinerja Investasi Maret 2026 Tertekan Gejolak Global, Emas Terkoreksi Tajam
ILUSTRASI. Geopolitik memanas menekan hampir semua aset, dari emas hingga saham. Ada satu instrumen yang justru menguat, apa itu? (REUTERS/Mohamed Abd El Ghany)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan global masih membayangi kinerja berbagai instrumen investasi di awal 2026. Ketidakpastian geopolitik hingga risiko domestik menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan.

Geopolitik yang memanas hingga risiko domestik seperti ketidakpastian kebijakan fiskal dan pergerakan nilai tukar rupiah menjadi sentimen utama yang memengaruhi arah pasar. Alhasil, kinerja instrumen investasi bergerak variatif sepanjang Maret 2026.

Di tengah kondisi tersebut, emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) justru mencatatkan pelemahan paling dalam.

Berdasarkan data Bloomberg per akhir Maret 2026, emas spot membukukan return minus 11,5% secara bulanan (month on month/MoM) dan turun 1,4% sejak awal tahun (year to date/YtD). Sementara itu, emas Antam juga terkoreksi 7,16% MoM dan melemah 1,1% YtD.

Tekanan tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga merambah pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 14,4% secara bulanan dan terkoreksi 15,4% sejak awal tahun.

Baca Juga: Bidik Peningkatan Transaksi, KISI Tawarkan Bunga Margin 3%

Di pasar obligasi, kinerja juga cenderung melemah. Obligasi korporasi dan pemerintah masing-masing mencatatkan return minus 1,21% dan 2,08% secara bulanan. Di sisi lain, nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah (USD/IDR) justru menguat dengan return positif 1,5% MoM.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, gejolak geopolitik menjadi katalis utama yang menekan hampir seluruh kelas aset.

"Boleh dibilang semua aset mengalami penurunan yang besar di bulan Maret setelah Iran menutup selat Hormuz, melonjakkan harga minyak mentah dunia dan memicu potensi stagflasi ekonomi dunia," ujar Lukman saat dihubungi Kontan, Kamis (2/4/2026).

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) akibat ekspektasi kenaikan suku bunga turut memberikan tekanan tambahan pada berbagai instrumen investasi.

Di tengah tekanan tersebut, emas yang sebelumnya mencatatkan reli panjang sejak awal tahun kini mengalami koreksi. Meski demikian, kondisi ini dinilai sebagai fase konsolidasi yang wajar.

“Penurunan emas ini wajar menyusul rally yang cukup panjang dan kenaikan fantastis di awal 2026,” tambah Lukman.

Kendati mengalami pelemahan dalam jangka pendek, prospek emas dinilai masih positif dalam jangka panjang. Lukman melihat kondisi ini justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi oleh investor.

Ia memperkirakan harga emas spot berpotensi mencapai US$ 5.700 - US$ 6.000 per ons troi atau naik sekitar 20%–30% sepanjang 2026. Sementara itu, harga emas Antam diproyeksikan berada di kisaran Rp 3,4 juta hingga Rp 3,7 juta per gram.

Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto turut menilai bahwa pergerakan return investasi yang beragam tidak lepas dari tingginya ketidakpastian global.

Menurutnya, hubungan antara risiko dan imbal hasil (return) menjadi semakin terlihat dalam kondisi seperti saat ini. Ketika risiko belum dapat diantisipasi secara jelas, maka pergerakan hasil investasi cenderung tidak menentu.

Baca Juga: Alamtri Resources (ADRO) Naikkan Anggaran Dana Buyback Jadi Rp 5 Triliun

Ia menambahkan, kondisi global yang belum memiliki arah yang pasti serta tekanan dari dalam negeri membuat fluktuasi pasar menjadi hal yang wajar terjadi.

Di tengah ketidakpastian tersebut, sebagian investor mulai mencari alternatif investasi. Aset kripto menjadi salah satu pilihan yang dilirik, terutama setelah sebelumnya mengalami penurunan signifikan.

“Ketika mata uang tidak menjanjikan dan investasi fisik diragukan, investor mencoba aset non-fisik seperti kripto. Apalagi kripto sebelumnya sudah turun cukup dalam,” jelas Eko.

Hal ini tercermin dari kinerja kripto yang mulai pulih pada Maret 2026. Bitcoin mencatatkan return positif 4,3% secara bulanan, meskipun masih turun 16,34% sejak awal tahun. Sementara itu, Ethereum menguat 10,2% MoM dengan posisi YtD masih minus 16,9%.

Co-founder CryptoWatch sekaligus Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, menilai penguatan kripto tersebut lebih didorong oleh aksi akumulasi pelaku pasar saat harga berada di level rendah.

Menurutnya, investor memanfaatkan fase koreksi sebagai peluang masuk, yang pada akhirnya mendorong pemulihan sementara. Selain itu, peluncuran produk ETF kripto oleh BlackRock turut memberikan sentimen positif bagi pasar.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penguatan tersebut belum ditopang oleh katalis fundamental yang kuat.

“Pemulihan ini diperkirakan tidak dapat bertahan lama karena belum adanya katalis yang mendukung tren naik berkelanjutan,” tutur Christopher.

Ia memperkirakan Bitcoin berpotensi bergerak di kisaran US$ 45.000 - US$ 50.000 sepanjang 2026. Sementara Ethereum diproyeksikan berada pada rentang US$ 1.300 - US$ 1.600.

Di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, investor diimbau untuk menerapkan strategi pengelolaan portofolio secara disiplin. CEO dan Founder PT Solusi Finansialku Indonesia Melvin Mumpuni menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara emosi dan rasionalitas dalam berinvestasi.

Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Masih Volatil, Tapi Berpeluang Rebound di Kuartal II 2026

Menurutnya, fenomena loss aversion atau kecenderungan takut rugi secara berlebihan merupakan hal yang wajar, namun investor tetap perlu bersikap objektif dalam mengambil keputusan.

“Di tengah kondisi yang tidak pasti ini, investor harus tetap objektif dan fokus pada hal yang bisa dikontrol, yaitu menjaga arus kas (cash flow) dan melakukan rebalancing portofolio secara disiplin,” terang Melvin.

Melvin menyarankan agar investor melakukan diversifikasi portofolio sesuai dengan profil risiko masing-masing.

Untuk investor konservatif, alokasi sekitar 40% dapat ditempatkan pada instrumen likuid seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang, serta emas fisik maupun digital. Kemudian 40% dialokasikan ke instrumen pendapatan tetap (fixed income), dan sisanya ke saham berfundamental kuat seperti saham blue chip atau saham dengan dividen stabil.

Sementara itu, bagi investor dengan profil moderat, komposisi portofolio dapat dibagi menjadi 25% pada aset likuid, 40% pada instrumen pendapatan tetap, dan 35% pada saham bertipe value stock atau saham dividen.

Adapun untuk investor agresif, Melvin merekomendasikan alokasi sekitar 50% pada saham value dan dividen, 25% pada instrumen pendapatan tetap, serta 20% pada aset likuid. Sisanya sekitar 5% dapat ditempatkan pada aset kripto sebagai instrumen berisiko tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×