Reporter: Alya Fathinah | Editor: Noverius Laoli
Berdasarkan situs logam mulia, harga emas bersertifikat ANTAM naik Rp 20.000 menjadi Rp 2.774.000 per gram. Harga beli kembali (buyback) juga meningkat Rp 22.000 menjadi Rp 2.579.000 per gram.
Selisih harga jual dan buyback saat ini mencapai sekitar Rp 195.000 per gram atau sekitar 7,03%.
"Jadi investor yang membeli emas pada akhir April 2026 lalu menjualnya hari ini kemungkinan masih mengalami kerugian meskipun harga emas dunia sebenarnya sudah naik," kata Yusuf.
Namun dalam jangka panjang, emas tetap dinilai menarik. Yusuf mencontohkan investor yang membeli emas pada Mei 2025 saat harga masih sekitar Rp 1,9 juta per gram kini telah menikmati kenaikan sekitar 35% berdasarkan harga buyback.
Baca Juga: Emas Dinilai Efektif Jaga Nilai Dana Haji, Ini Strateginya
Oleh karena itu, Yusuf menyarankan investor menggunakan strategi dollar cost averaging (DCA) atau membeli emas secara bertahap dan rutin agar harga rata-rata pembelian lebih terjaga.
Dengan cara itu investor tidak terlalu bergantung pada timing pasar. Sebaliknya, kalau orientasinya trading beberapa bulan, emas batangan sebenarnya kurang ideal karena spread yang besar tadi menjadi beban awal yang cukup berat.
Di sisi lain, emas digital dinilai semakin menarik terutama bagi investor muda karena lebih efisien dan fleksibel. Spread emas digital rata-rata hanya sekitar 2%–3%, dengan proses transaksi yang dapat dilakukan melalui aplikasi.
"Dengan dana Rp 10.000 pun investor sudah bisa mulai membeli emas. Itu sebabnya emas digital cukup menarik untuk milenial dan Gen Z,” ujar Yusuf.
Meski demikian, Yusuf mengingatkan investor tetap perlu memperhatikan legalitas platform emas digital dan memastikan penyelenggara terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) serta memiliki kustodian yang jelas.
Baca Juga: Diversifikasi Portofolio, AllianzGI Sarankan Investasi Emas di Tahun 2026
Menurut Yusuf, emas digital dan emas fisik sebaiknya tidak dipertentangkan karena keduanya memiliki fungsi berbeda dan dapat saling melengkapi.
Yusuf mencontohkan, sebagian digunakan untuk akumulasi rutin lewat digital, sementara sebagian lagi disimpan dalam bentuk fisik untuk jangka panjang.
Untuk kuartal III-2026, Yusuf memperkirakan harga emas berpotensi bergerak di kisaran US$ 4.500 hingga US$ 4.900 per ons troi dengan asumsi The Fed mempertahankan suku bunga di level saat ini dan dolar AS menguat moderat.
Sementara harga perak diperkirakan berada di kisaran US$ 72 hingga US$ 82 per ons troi, didukung defisit pasokan global dan permintaan industri dari sektor panel surya serta kendaraan listrik.
Baca Juga: Strategi Investasi Direktur Allo Bank, dari Reksadana ke Portofolio Terdiversifikasi
Adapun, harga emas Antam diproyeksikan berada di kisaran Rp 2.750.000 hingga Rp 3.000.000 per gram pada kuartal III-2026 dengan asumsi kurs rupiah bergerak di rentang Rp 16.300–Rp 16.500 per dolar AS.
Yusuf menambahkan, investor kini tidak bisa hanya terpaku pada isu penurunan suku bunga The Fed dalam membaca arah harga emas.
Menurutnya, sejak 2024 pola pergerakan emas mulai berubah karena dipengaruhi faktor lain seperti pembelian besar-besaran oleh bank sentral negara berkembang, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS, serta meningkatnya kebutuhan lindung nilai akibat ketidakpastian geopolitik global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













