kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.559.000   -11.000   -0,43%
  • USD/IDR 18.166   -36,00   -0,20%
  • IDX 5.098   -184,26   -3,49%
  • KOMPAS100 656   -29,76   -4,34%
  • LQ45 515   -24,19   -4,48%
  • ISSI 171   -5,38   -3,04%
  • IDX30 289   -13,61   -4,49%
  • IDXHIDIV20 388   -17,40   -4,29%
  • IDX80 76   -3,38   -4,28%
  • IDXV30 108   -4,36   -3,89%
  • IDXQ30 98   -4,24   -4,16%

Laba Pertamina Geothermal (PGEO) Naik 21,43% di Kuartal III-2026, Begini Prospeknya


Kamis, 29 Oktober 2026 / 17:47 WIB
Laba Pertamina Geothermal (PGEO) Naik 21,43% di Kuartal III-2026, Begini Prospeknya
ILUSTRASI. PGE (PGEO) Mulai Bor Sumur Kedua PLTP Lumut Balai Unit 3, Target Rampung dalam 40 Hari (Dok/PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO))


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan hingga kuartal III-2026. Emiten panas bumi ini membukukan pendapatan sebesar US$ 350,20 juta, tumbuh 10,46% secara tahunan. Sementara itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 21,43% menjadi US$ 126,63 juta.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mengatakan, pertumbuhan pendapatan PGEO terutama ditopang peningkatan produksi listrik dan uap. Salah satu pendorongnya adalah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi pada Juni 2025, sehingga kontribusinya terhadap kinerja sepanjang 2026 lebih besar dibandingkan tahun lalu.

Selain itu, kinerja pembangkit lain yang beroperasi dengan baik turut mendukung pendapatan perusahaan. Dari sisi laba, keuntungan selisih kurs pada semester pertama juga memberikan tambahan kontribusi. Namun, kenaikan biaya operasional dan penyusutan aset perlu dicermati karena dapat menahan pertumbuhan laba ke depan.

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Menguat Terbatas, Simak Proyeksi Kurs Jumat (30/10)

Dari sisi pengembangan usaha, Kevin menilai Lumut Balai Unit 2 menjadi proyek baru yang kontribusinya paling jelas terhadap kinerja PGEO saat ini. Adapun proyek Ulubelu Binary ditargetkan mulai beroperasi pada 2027, sedangkan Hululais dan pengembangan lanjutan Lumut Balai berpotensi menopang pertumbuhan dalam jangka panjang.

"Jika Ulubelu Binary selesai sesuai jadwal, proyek itu bisa memberi tambahan pendapatan. Sementara itu, progres Hululais dapat mendukung prospek jangka panjang," ujar Kevin kepada Kontan, Kamis (29/10/2026).

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menambahkan, prospek bisnis PGEO masih menarik dalam jangka panjang seiring meningkatnya kebutuhan energi bersih dan ekspansi kapasitas panas bumi.

Menurut Alrich, pertumbuhan kinerja PGEO turut ditopang oleh optimalisasi aset pembangkit dan kontribusi Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 megawatt (MW). Ke depan, investor perlu mencermati pengembangan Hululais serta Lumut Balai Unit 3 sebagai sumber pertumbuhan kapasitas dalam jangka menengah.

Selain itu, sejumlah proyek yang perlu diperhatikan meliputi Lumut Balai Unit 4, Lahendong Unit 7 dan 8, serta Lahendong Low Pressure. PGEO juga berpeluang mengoptimalkan potensi panas bumi melalui penerapan teknologi co-generation.

Meski berpotensi memperkuat kapasitas produksi dan membuka sumber pendapatan baru, realisasi manfaat ekonomi proyek-proyek tersebut bergantung pada jadwal pengerjaan dan kebutuhan investasi. Risiko keterlambatan proyek, kenaikan biaya pengeboran, besarnya belanja modal, serta kepastian regulasi masih menjadi tantangan.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, pertumbuhan laba PGEO yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan mengindikasikan adanya perbaikan profitabilitas. Kondisi ini dapat ditopang oleh efisiensi operasional, pengendalian biaya, dan optimalisasi produksi.

Menurut Hendra, bisnis panas bumi memiliki keunggulan karena mampu memasok listrik secara berkelanjutan sehingga berpotensi memberikan pendapatan yang relatif stabil. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati volume produksi, harga jual listrik, biaya operasional, serta kontribusi setiap wilayah kerja terhadap pendapatan perusahaan.

Dari sisi prospek, Kevin memperkirakan kinerja PGEO masih berpeluang tumbuh hingga akhir 2026, didukung peningkatan produksi dan kontribusi Lumut Balai Unit 2. Namun, pertumbuhan pendapatan dan laba pada 2027 berpotensi lebih moderat karena sejumlah proyek baru belum beroperasi secara komersial.

Baca Juga: GOTO Cetak Laba Bersih Rp 1,16 Triliun Per Kuartal III 2026

Sejalan dengan itu, Hendra menilai prospek PGEO tetap positif pada 2027 seiring meningkatnya kebutuhan energi bersih dan peluang penambahan kapasitas pembangkit panas bumi. Katalis lainnya berasal dari realisasi proyek baru dan dukungan kebijakan pemerintah terhadap energi terbarukan.

Kendati demikian, Hendra mengingatkan bahwa pertumbuhan laba perlu diimbangi dengan kemampuan perusahaan menjaga arus kas dan tingkat pengembalian investasi. Kebutuhan investasi besar, proses pengembangan proyek yang panjang, kenaikan biaya, serta kepastian harga jual listrik menjadi sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan.

"Bagi investor, hal terpenting bukan hanya melihat besarnya potensi cadangan panas bumi PGEO, melainkan memastikan potensi tersebut dapat dikonversi menjadi produksi, pendapatan, dan laba secara berkelanjutan," jelas Hendra.

Dari sisi saham, Hendra merekomendasikan strategi buy on weakness saham PGEO di area Rp 930 per saham dengan target harga Rp 1.100 per saham. Meski demikian, investor perlu mencermati tren harga dan volume transaksi untuk mengonfirmasi potensi pembalikan arah.

Sementara itu, Kevin menyarankan investor untuk menerapkan strategi wait and see. Menurut dia, harga saham PGEO masih cenderung mengarah ke area support Rp 935 per saham sehingga investor perlu menunggu indikasi rebound dari area tersebut.

Adapun Alrich menilai prospek fundamental PGEO masih menarik untuk jangka panjang. Namun, investor perlu menunggu konfirmasi penguatan harga dan volume sebelum mengambil keputusan investasi.

"Secara fundamental, PGEO menarik untuk dicermati dalam jangka panjang. Namun, secara teknikal, investor perlu menunggu konfirmasi penguatan harga dan volume," tutup Alrich.

Baca Juga: Laba dan Pendapatan Mayora (MYOR) Kompak Naik di Kuartal III 2026, Cek Prospeknya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×