Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten di sektor unggas, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan pada semester I-2026. Kinerja apik tersebut tercermin dari peningkatan penjualan serta lonjakan laba bersih perusahaan.
Melansir laporan keuangannya di keterbukaan informasi, penjualan dan pendapatan usaha JPFA tercatat sebesar Rp 35,36 triliun, naik 28,7% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 27,48 triliun
Sejalan dengan top line, posisi laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih mencapai Rp 2,48 triliun, melonjak 100,2% yoy atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan Rp 1,24 triliun pada periode sebelumnya.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan kinerja JPFA terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan yang kuat dan pemulihan margin. Penjualan naik 28,6% YoY menjadi Rp 35,35 triliun, sementara laba meningkat sekitar 100%.
Perbaikan kinerja tersebut didukung kondisi supply dan demand poultry yang lebih sehat, harga broiler atau Day Old Chick (DOC) yang lebih baik, serta operating leverage.
Baca Juga: Harga Bitcoin Melonjak 11% ke US$ 71.000, Tapi Siklus Bearish Dinilai Belum Berakhir
"Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi katalis positif terhadap permintaan ayam dan telur," kata Azis kepada Kontan, Kamis (20/8/2026).
Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat kenaikan laba yang sangat kuat tersebut terutama berasal dari kombinasi pertumbuhan volume penjualan, harga jual unggas yang lebih baik, serta ekspansi margin.
"Menurut saya faktor utama kinerja JPFA lebih tepat dikaitkan dengan perbaikan siklus industri unggas dan poultry pricing environment, bukan semata-mata karena program pemerintah," ucap Nafan.
Terkait program MBG, Nafan berpandangan program tersebut memang berpotensi menjadi katalis positif bagi JPFA, khususnya melalui peningkatan permintaan protein hewani seperti ayam dan telur.
Namun, kontribusinya terhadap lonjakan laba pada periode laporan ini sebaiknya tidak dibesar-besarkan. MBG lebih tepat dipandang sebagai katalis tambahan terhadap demand unggas, sedangkan pendorong utama lonjakan profitabilitas JPFA adalah perbaikan harga jual, volume, utilisasi produksi, dan margin. Perseroan sendiri memang telah dikaitkan dengan peluang dari MBG.
Prospek JPFA Masih Positif
Azis memproyeksikan prospek JPFA masih positif jika harga broiler dan DOC tetap sehat serta supply tetap terkendali. Adapun investor perlu mencermati harga broiler atau DOC, biaya pakan, potensi oversupply, serta realisasi program MBG.
Azis merekomendasikan buy saham JPFA dengan target Rp 3.140 per saham.
Sementara itu, Nafan melihat prospek JPFA masih positif, terutama apabila konsumsi protein hewani domestik terus meningkat dan harga ayam hidup maupun produk unggas tetap berada pada level yang remuneratif.
Program MBG dapat menjadi structural demand driver karena menciptakan tambahan permintaan yang relatif berkelanjutan. Namun, investor tetap perlu memperhatikan karakter industri unggas yang cyclical, terutama keseimbangan antara supply demand ayam, harga DOC, harga pakan, jagung, soybean meal, serta potensi oversupply yang dapat kembali menekan harga jual dan margin.
Ke depan, Nafan melihat JPFA masih konstruktif, dengan katalis utama berupa pertumbuhan konsumsi protein, MBG, poultry pricing yang sehat, efisiensi biaya, dan kemampuan mempertahankan margin.
Tetapi setelah kenaikan laba yang sangat tinggi, investor sebaiknya tidak hanya melihat pertumbuhan secara tahunan, melainkan mulai memperhatikan sustainability earnings, margin, harga jual rata-rata, feed cost, supply-demand unggas, serta valuasi saham.
"Selama fundamental dan margin tetap terjaga, JPFA masih menarik; namun apabila terjadi margin normalization yang tajam, ruang rerating saham tentu menjadi lebih terbatas," ucap Nafan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













