Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan di tengah respons pasar terhadap sikap Bank Indonesia (BI) dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Pada Rabu (22/7/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.917 per dolar AS. Ini membuat rupiah melemah 0,16% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.888 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, rupiah berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) ditutup stagnan di level Rp 17.909 per dolar AS pada perdagangan hari ini, sama dengan posisi penutupan sehari sebelumnya.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Baca Juga: Saham BREN Naik, Pinjaman US$ 300 Juta Jadi Katalis? Ini Analisisnya
Dari faktor eksternal, dolar AS masih bertahan kuat karena investor cenderung mencari aset aman di tengah ketidakpastian global. Sebagai gambaran, indeks dolar AS (DXY) saat ini bertengger di level 101,2 atau menguat 2,9% Ytd.
Selain itu, pelaku pasar juga masih menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
“Dari domestik, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di luar ekspektasi sebagian pelaku pasar turut memengaruhi sentimen terhadap rupiah,” ujar Budi kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).
Seperti diketahui, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21-22 Juli 2026. Selain itu, suku bunga Deposit Facility juga tetap di level 4,75%, dan suku bunga Lending Facility masih pada level 6,50%.
Untuk perdagangan Kamis (23/7/2026), Budi mengatakan investor akan mencermati sejumlah sentimen global dan domestik yang berpotensi memengaruhi arah rupiah.
Baca Juga: Booming AI Ubah Arah Investasi Investor, Ini Sektor Incaran Menurut Goldman Sachs
Di antaranya adalah pergerakan indeks dolar AS, perkembangan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, kondisi geopolitik global, serta arus modal asing yang masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia.
“Selain itu, respons pasar terhadap keputusan BI hari ini juga masih akan memengaruhi pergerakan rupiah,” tandasnya.
Dengan begitu, Budi pun memproyeksikan rupiah pada Kamis (23/7) akan bergerak dalam rentang Rp 17.880 hingga Rp 17.950 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
