kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Komoditas Batubara Dinilai Lebih Menarik dari Emas, Indo Premier Pilih AADI dan PTBA


Jumat, 04 September 2026 / 06:55 WIB
Komoditas Batubara Dinilai Lebih Menarik dari Emas, Indo Premier Pilih AADI dan PTBA
ILUSTRASI. Harga Emas Naik (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indo Premier Sekuritas menilai prospek sejumlah komoditas masih positif, tetapi investor perlu lebih selektif di tengah dinamika pasar global. Dari sejumlah komoditas yang dipantau, batu bara termal menjadi pilihan utama, disusul emas dan kemudian logam dasar.

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dalam riset 3 September 2026 mengatakan harga emas memang sempat mencatat reli signifikan hingga mencapai US$ 4.600 per ons troi atau naik sekitar 15% dibandingkan Juli 2026. Namun, laju penguatan emas mulai kehilangan momentum setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed dalam simposium Jackson Hole.

“Harga emas sempat melonjak hingga US$ 4.600 per ons troi, atau naik 15% dibandingkan Juli 2026. Namun, momentum kenaikan tersebut mulai kehilangan tenaga setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed dalam simposium Jackson Hole," tulis Ryan.

Baca Juga: Waspadai Profit Taking, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Jumat (4/9)

Pergerakan emas juga berlangsung di tengah kenaikan harga minyak mentah dan produk olahan, terutama diesel. Kondisi tersebut terjadi setelah crack spread melebar hingga menembus US$ 100 per barel akibat gangguan yang masih berlangsung di Selat Hormuz.

Meski momentum emas melambat, Indo Premier belum mengubah pandangan positifnya terhadap komoditas tersebut. Menurut Ryan, koreksi harga emas justru dapat dimanfaatkan investor sebagai peluang untuk masuk.

Salah satu alasan Indo Premier tetap bullish terhadap emas adalah posisi utang pemerintah Amerika Serikat yang telah menembus US$ 40 triliun.

"Kami tetap bullish pada emas dan menilai koreksi terbaru merupakan peluang untuk masuk karena utang nasional AS kini telah melampaui US$ 40 triliun," ujar Ryan.

Indo Premier juga mencermati langkah Departemen Keuangan AS yang menggandakan porsi buyback untuk obligasi berjangka panjang. Kebijakan tersebut dinilai dapat mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga justru berpotensi meningkatkan beban bunga pemerintah AS karena kebutuhan penerbitan US Treasury bills yang lebih tinggi.

Dalam jangka menengah hingga panjang, kondisi tersebut berpotensi kembali menekan indeks dolar AS (DXY). Pelemahan dolar AS pada akhirnya menjadi katalis positif bagi harga emas.

Meski emas masih menawarkan prospek positif, Indo Premier melihat batu bara memiliki katalis yang lebih kuat dalam waktu dekat. Harga batu bara termal maupun batu bara kokas masing-masing telah menguat sekitar 3%-9% secara bulanan.

Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh penurunan produksi batu bara China. Produksi bulanan China turun sekitar 10% secara bulanan pada Juli 2026 setelah pemerintah meningkatkan inspeksi keselamatan tambang menyusul insiden di salah satu tambang batu bara di Shanxi.

Untuk batu bara termal, Indo Premier masih mempertahankan pandangan bullish karena tekanan pasokan diperkirakan belum mereda.

Baca Juga: Simak Saham yang Banyak Dijual Asing Saat IHSG Melonjak 1,09% ke 6.667, Kamis (3/9)

Setidaknya terdapat tiga faktor utama yang menjadi penopang. Pertama, produksi batu bara domestik China yang menurun. Kedua, kondisi kekeringan yang mengganggu jalur sungai di Indonesia. Ketiga, potensi kenaikan permintaan menjelang musim dingin.

Dari Eropa, permintaan juga berpotensi meningkat seiring rendahnya tingkat penyimpanan gas dan penurunan produksi energi terbarukan, terutama dari pembangkit nuklir dan hidro.

"Kami tetap bullish pada batu bara termal karena kendala dari sisi pasokan diperkirakan berlanjut," tulis Ryan.

Dari sisi saham, Indo Premier menilai PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) relatif lebih terlindungi dari dampak gangguan kekeringan sungai.

Kedua saham tersebut juga dinilai menawarkan valuasi yang menarik. AADI dan PTBA saat ini diperdagangkan pada kisaran 5-6 kali proyeksi price to earnings (P/E) 2026.

Dari sisi imbal hasil dividen, AADI menawarkan dividend yield sekitar 8%, dengan potensi tambahan sekitar 3% dari penjualan Kestrel. Sementara itu, PTBA memiliki dividend yield sekitar 7%.

Indo Premier juga mempertahankan pandangan bullish terhadap batu bara kokas. Namun, kenaikan harga komoditas tersebut belum sepenuhnya dapat dinikmati PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).

Pasalnya, kekeringan di bagian hulu Sungai Barito masih menjadi kendala bagi ADMR. Kondisi ini berpotensi membatasi kemampuan perusahaan untuk memanfaatkan kenaikan harga batu bara kokas secara optimal.

Baca Juga: Wall Street Melonjak, Pasar Cerna Sinyal The Fed Tahan Suku Bunga

Berbeda dengan batu bara dan emas, logam dasar, khususnya nikel, justru menjadi pilihan terakhir Indo Premier.

Ryan menjelaskan produksi bijih nikel mulai membaik seiring kondisi cuaca yang lebih kering. Perbaikan pasokan tersebut membuat harga bijih nikel bergerak mendekati Harga Patokan Mineral (HPM), dengan premi hanya sekitar US$ 1 per wet metric tonne (wmt) untuk kadar 1,6%.

Kondisi tersebut bahkan terjadi tanpa memperhitungkan dampak langsung dari tambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Berdasarkan channel check Indo Premier hingga Agustus 2026, belum ada penambang yang secara resmi menerima tambahan kuota RKAB.

Di sisi lain, pasar mulai memperbincangkan potensi kekurangan air yang dapat menghambat produksi mixed hydroxide precipitate (MHP). Profitabilitas MHP juga semakin tertekan dan berpotensi berada di titik impas atau bahkan mencatat kerugian jika biaya bunga turut diperhitungkan.

Untuk produk hilir nikel seperti nickel pig iron (NPI) dan MHP, harga pada Agustus 2026 relatif bertahan dan tidak banyak berubah secara bulanan.

Indo Premier memperkirakan logam dasar berpotensi menghadapi tekanan harga apabila tambahan kuota RKAB nantinya disetujui dan meningkatkan pasokan di pasar.

EMAS dan MDKA Jadi Pilihan di Sektor Emas

Untuk sektor emas, Indo Premier masih menyukai PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Indo Premier menyusun preferensi komoditas dengan urutan batu bara termal, emas, kemudian logam dasar. "Preferensi kami adalah thermal coal > gold > base metals," tulis Ryan.

Dengan demikian, batu bara termal menjadi pilihan yang lebih menarik untuk jangka pendek karena ditopang kombinasi pasokan yang ketat, potensi kenaikan permintaan musiman, serta valuasi emiten yang relatif rendah.

Baca Juga: Return Reksadana Batavia 6,04% di Agustus, Saham Infrastruktur Data Center Dipilih

Sementara itu, emas tetap menjadi pilihan menarik bagi investor yang mengejar potensi kenaikan harga dalam jangka menengah hingga panjang, terutama jika pelemahan dolar AS kembali berlanjut dan kekhawatiran terhadap beban utang pemerintah AS semakin meningkat.

Adapun logam dasar, khususnya nikel, menjadi pilihan terakhir Indo Premier karena adanya risiko peningkatan pasokan apabila tambahan kuota RKAB mulai terealisasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×