kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.971   60,00   0,33%
  • IDX 6.315   -19,16   -0,30%
  • KOMPAS100 830   -5,48   -0,66%
  • LQ45 627   -5,43   -0,86%
  • ISSI 218   0,30   0,14%
  • IDX30 353   -3,74   -1,05%
  • IDXHIDIV20 435   -6,25   -1,42%
  • IDX80 95   -0,51   -0,53%
  • IDXV30 119   -0,20   -0,17%
  • IDXQ30 113   -1,54   -1,35%

Kinerja United Tractors (UNTR) Hingga Mei 2026 Tersendat, Begini Prospek Sahamnya


Kamis, 23 Juli 2026 / 20:04 WIB
Kinerja United Tractors (UNTR) Hingga Mei 2026 Tersendat, Begini Prospek Sahamnya
ILUSTRASI. Ilustrasi alat berat komatsu, UNTR. (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) mengalami perlambatan pada beberapa indikator kinerja operasional hingga pertengahan tahun 2026.

Mengutip data laporan bulanan perusahaan, penjualan alat berat merek Komatsu dari UNTR menyusut 28,05% year on year (yoy) menjadi 1.690 unit pada Januari-Mei 2026. Mayoritas penjualan alat berat UNTR masih berasal dari sektor pertambangan dengan porsi 43%.

Selain itu, realisasi pengupasan lapisan tanah atau overburden removal UNTR melalui PT Pamapersada Nusantara juga turun 8,43% yoy menjadi 398,6 juta bank cubic meter (bcm). Produksi batubara untuk pelanggan UNTR ikut turun 0,72% yoy menjadi 55,2 juta ton.

Baca Juga: Astra International (ASII) Siapkan Strategi Tangkap Peluang Bisnis di GIIAS 2026

Pada periode yang sama, penjualan batubara UNTR melalui PT Tuah Turangga Agung berkurang 5,63% yoy menjadi 6,20 juta ton.

Di sektor mineral non-batubara, UNTR mengalami penurunan penjualan emas dari Agincourt Resources dan Sumbawa Jutaraya sebanyak 87% yoy menjadi 13.000 ounces hingga Mei 2026. UNTR juga mencatatkan penurunan penjualan bijih nikel melalui Stargate sebesar 10,24% yoy menjadi 797.000 wet metric ton dalam lima bulan pertama 2026.

Dalam berita sebelumnya, manajemen UNTR menurunkan panduan operasional di hampir seluruh segmen usaha. Penjualan batubara Tuah Turangga Agung menjadi salah satu yang terdampak paling besar dengan target penjualan hanya 7,5 juta ton atau menurun sekitar 35%. Ini disebabkan rendahnya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Di samping itu, UNTR juga memangkas belanja modal atau capital expenditure (dapex) sebesar 27% menjadi US$ 650 juta dari target awal yaitu US$ 800 juta. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pemangkasan capex Pamapersada Nusantara hingga 50%.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, penurunan penjualan alat berat UNTR dipicu oleh tren koreksi harga batubara global dibanding periode yang sama tahun lalu. Penurunan capital expenditure (capex) dari kontraktor tambang memicu penundaan pembaruan atau pembelian unit alat berat baru.

Di segmen kontraktor pertambangan, pelemahan kinerja overburden removal dan produksi batubara untuk pelanggan UNTR dipengaruhi oleh faktor cuaca berupa curah hujan tinggi pada awal tahun serta efisiensi volume dari pihak klien pertambangan.

Sementara itu, penurunan penjualan emas UNTR yang terlihat drastis sebenarnya bersifat temporer karena adanya penghentian sementara atau pembatasan kegiatan operasional di Tambang Emas Martabe terkait proses perizinan teknis serta optimalisasi atau perawatan fasilitas pengolahan.

Baca Juga: BUMA Grup (DOID) Belum Alihkan Sisa Saham Hasil Buyback Sebanyak 293,84 Juta Saham

Peluang pemulihan kinerja UNTR pada semester II-2026 masih terbuka seiring adanya revisi RKAB di pertengahan tahun yang biasanya mendorong peningkatan aktivitas produksi batubara oleh pelanggan. "Secara otomatis ini akan meningkatkan demand overburden removal bagi Pamapersada Nusantara dan kebutuhan spareparts atau servis alat berat," ujar dia, Kamis (23/7/2026).

Di sisi lain, beroperasinya kembali Tambang Emas Martabe secara penuh akan menjadi penggerak margin laba yang signifikan bagi UNTR dengan memanfaatkan momentum harga emas dunia yang masih cenderung berada di level tinggi.

Untuk mengembalikan tren pertumbuhan kinerja, UNTR perlu melakukan akselerasi diversifikasi di segmen non-batubara. Hal ini mencakup upaya percepatan efisiensi dan kontribusi dari portofolio mineral non-batubara seperti emas dan nikel guna mengurangi ketergantungan siklikal pada siklus harga batubara.

Di samping itu, UNTR perlu melakukan penguatan lini usaha layanan purna jual alat berat sebagai sumber pendapatan tambahan ketika penjualan alat berat baru melambat. Layanan purna jual punya permintaan tinggi, mengingat unit alat berat yang ada di lapangan tetap membutuhkan perawatan berkat aktivitas operasional yang berjalan.

Tak hanya itu, UNTR perlu melakukan penyesuaian fleet management dan efisiensi konsumsi energi di sektor kontraktor pertambangan untuk memangkas biaya produksi atau overburden removal.

"UNTR juga perlu mengoptimalkan digitalisasi pada peralatan pertambangan untuk meningkatkan productivity rate serta meminimalkan downtime unit," imbuh Nafan.

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Buka Suara Terkait Potensi Delisting dari Bursa

Nafan sendiri menyarankan investor untuk wait and see saham UNTR. Sementara itu, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie telah memprediksi bahwa UNTR akan akan menghadapi tantangan regulasi dan pasokan yang signifikan pada 2026. 

Ini mengingat, pemerintah berencana untuk memperketat pasokan hulu secara signifikan dengan membatasi produksi batubara RKAB tahun fiskal 2026 secara ketat sekitar 600 juta ton dan produksi nikel sekitar 260 juta ton. 

Intervensi pasokan yang signifikan ini diperkirakan akan membebani aktivitas pertambangan domestik secara keseluruhan, karena para penambang terpaksa mengurangi ekspansi operasional. "Situasi ini kemungkinan akan menurunkan penjualan alat berat Komatsu dan menurunkan volume kontrak pertambangan di periode mendatang," tulis dia dalam riset tertanggal 5 Juni 2026.

Dia pun tetap merekomendasikan beli saham UNTR dengan target harga di level Rp 29.100 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×