Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS 2026) siap kembali digelar mulai 30 Juli 2026 hingga 19 Agustus 2026 mendatang.
Pameran mobil tersebut akan diikuti oleh sejumlah perusahaan otomotif, salah satunya PT Astra International Tbk (ASII).
Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk, Windy Riswantyo mengatakan Astra memanfaatkan momentum GIIAS 2026 dengan menghadirkan berbagai pilihan kendaraan dari merek-merek Grup Astra yang didukung oleh ekosistem layanan yang terintegrasi, mulai dari pembiayaan, asuransi, hingga layanan purnajual.
"Melalui partisipasi dalam GIIAS, Astra ingin memberikan kemudahan serta pengalaman terbaik bagi pelanggan dalam memenuhi kebutuhan mobilitas mereka," kata Windy kepada Kontan, Kamis (23/7/2026).
Baca Juga: BUMA Grup (DOID) Belum Alihkan Sisa Saham Hasil Buyback Sebanyak 293,84 Juta Saham
Astra juga menghadirkan berbagai program penjualan melalui merek-merek kendaraan Grup Astra yang berpartisipasi di GIIAS 2026. Ini juga didukung oleh Astra Financial yang kembali menjadi Platinum Financial Partner GIIAS dengan menghadirkan berbagai solusi pembiayaan dan penawaran khusus selama pameran untuk memberikan kemudahan bagi pelanggan dalam memiliki kendaraan.
Disamping itu, Windy juga bilang di tengah kondisi perekonomian saat ini serta dinamika yang ada pada industri otomotif, Astra tetap berkomitmen untuk mempertahankan kepemimpinan pasar otomotif Grup Astra, jaringan penjualan dan layanan yang luas di seluruh Indonesia, serta ketersediaan solusi pembiayaan.
"Astra akan terus berkomitmen untuk meluncurkan produk, teknologi dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan dan minta pelanggan yang bervariasi," jelasnya.
Secara terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengungkapkan GIIAS merupakan salah satu momentum penting bagi ASII karena menjadi ajang peluncuran model baru, pengenalan teknologi, serta peningkatan penjualan kendaraan melalui berbagai program promosi.
"Dengan portofolio merek yang dimiliki Astra, momentum ini berpotensi meningkatkan sales volume pada semester II-2026," ucap Elandry.
Namun, dampaknya terhadap kinerja keuangan biasanya tidak bersifat instan, melainkan akan tercermin secara bertahap pada penjualan beberapa bulan setelah pameran. Elandry melihat peluang tahun ini cukup baik, terutama apabila didukung daya beli masyarakat yang membaik, suku bunga yang stabil, serta penawaran pembiayaan yang kompetitif.
"Momentum GIIAS dapat menjadi katalis positif bagi saham ASII dalam jangka pendek karena mampu meningkatkan market sentiment terhadap prospek penjualan otomotif," tambah Elandry.
Baca Juga: Pasar Tokenisasi Aset Indonesia Diproyeksi Tembus US$ 88 Miliar pada 2030
Namun secara historis, pengaruh pameran terhadap harga saham cenderung terbatas apabila tidak diikuti realisasi penjualan yang kuat atau perbaikan kinerja keuangan. Dus, pergerakan saham ASII tetap akan lebih dipengaruhi oleh ekspektasi laba, kondisi daya beli masyarakat, penjualan kendaraan nasional, serta perkembangan suku bunga dan consumer financing.
Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie menambahkan, secara historis sentimen pameran otomotif seperti GIIAS cenderung memberi dorongan psikologis jangka pendek terhadap saham-saham otomotif, terutama bila diikuti data penjualan yang solid pasca-pameran, namun dampaknya biasanya sementara dan tidak sebesar katalis fundamental seperti harga komoditas atau suku bunga, mengingat kontribusi non-otomotif juga cukup besar terhadap laba konsolidasi ASII.
"Jadi GIIAS lebih tepat dilihat sebagai sentimen pendukung jangka pendek, bukan penggerak utama arah saham ke depan," tambah Adrian.
Secara teknikal, Adrian merekomendasikan trading buy terhadap ASII dengan potensi peningkatan ke level Rp 5.300 per saham.
Sementara itu, Elandry mempertahankan rekomendasi buy untuk ASII dengan target harga Rp5.700. Pasalnya, valuasi ASII masih relatif menarik dibandingkan fundamentalnya, didukung diversifikasi bisnis yang kuat, posisi neraca yang solid, serta potensi pertumbuhan dari segmen otomotif, jasa keuangan, dan alat berat.
Meski begitu, investor tetap perlu mencermati risiko berupa perlambatan daya beli, persaingan yang semakin ketat di industri otomotif, serta potensi penurunan harga komoditas yang dapat memengaruhi kontribusi laba dari lini non-otomotif.
Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Buka Suara Terkait Potensi Delisting dari Bursa
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














