Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Meski kinerja keuangan emiten ritel tumbuh positif, pelemahan daya beli masyarakat masih menjadi tantangan. Survei Bank Indonesia (BI) memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) September 2026 hanya tumbuh 1,4% yoy.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kinerja emiten ritel belum tentu mencerminkan pemulihan konsumsi masyarakat secara merata.
Alrich menjelaskan, karakteristik bisnis masing-masing emiten membuat dampak pelemahan daya beli tidak sama. Peritel kebutuhan sehari-hari seperti AMRT dan MIDI cenderung lebih defensif karena menjual produk yang dibutuhkan secara rutin.
Baca Juga: Prospek Emiten Semen Masih Positif di 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Sebaliknya, emiten ritel di segmen discretionary seperti MAPI, MAPA, ACES, dan ERAA lebih bergantung pada kondisi daya beli konsumen serta momentum peluncuran produk baru.
Senada, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, pelemahan daya beli masih menjadi tantangan, terutama di kalangan konsumen menengah bawah. Namun, pengaruhnya terhadap setiap emiten berbeda, bergantung pada karakteristik konsumen dan produk yang dijual.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Elandry menyarankan investor mencermati saham AMRT, MIDI, MAPA, ERAA, dan ACES.
Baca Juga: Prospek Emiten Alat Berat Berpeluang Membaik di 2027, Cek Saham Rekomendasi Analis
Ia memberikan target harga indikatif AMRT sebesar Rp 2.125 per saham, MIDI Rp 496 per saham, MAPA Rp 870 per saham, ERAA Rp 630 per saham, dan ACES Rp 480 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
