kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   13.000   0,51%
  • USD/IDR 18.189   15,00   0,08%
  • IDX 4.920   15,48   0,32%
  • KOMPAS100 632   2,75   0,44%
  • LQ45 501   3,97   0,80%
  • ISSI 163   -0,60   -0,36%
  • IDX30 283   2,68   0,96%
  • IDXHIDIV20 382   4,30   1,14%
  • IDX80 73   0,29   0,40%
  • IDXV30 106   0,87   0,82%
  • IDXQ30 95   1,13   1,20%

Harga Minyak Dunia Anjlok 8%, Pasar Berharap Perang AS-Iran Segera Berakhir


Kamis, 05 November 2026 / 05:31 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok 8%, Pasar Berharap Perang AS-Iran Segera Berakhir
ILUSTRASI. Harga Minyak Mentah AS Di Bawah Nol, Pembeli Tidak Bayar Malah Ditawari Uang (Dok/DW.com)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia merosot lebih dari 8% pada perdagangan Rabu (4/11/2026), menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan.

Pelemahan ini dipicu meningkatnya harapan pasar bahwa perubahan peta politik di Amerika Serikat (AS) dapat mempercepat berakhirnya perang AS-Israel melawan Iran.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman turun US$ 8,98 atau 8,7% menjadi US$ 94,62 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi US$ 7,97 atau 8,3% ke US$ 88,12 per barel.

Kedua acuan harga minyak tersebut ditutup pada level terendah sejak 31 Agustus 2026.

Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump kehilangan kendali atas Kongres dalam pemilihan paruh waktu (midterm election). Partai Demokrat berhasil menguasai DPR dan Senat AS.

Hasil pemilu tersebut memunculkan spekulasi bahwa posisi politik Trump yang melemah akan membatasi ruang geraknya untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.

Pasar pun mulai memperhitungkan peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Sejumlah sumber yang dekat dengan lingkaran pemerintahan negara-negara Teluk menilai Trump kini menghadapi pilihan antara mencari jalan keluar melalui negosiasi atau mengambil risiko eskalasi militer yang lebih besar.

Kendali Demokrat atas Kongres juga berpotensi memperketat pengawasan terhadap belanja militer AS di Timur Tengah sehingga mendorong peluang tercapainya kesepakatan damai lebih cepat.

"Penguasaan Kongres oleh Demokrat dapat meningkatkan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat," kata Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior Perdagangan di BOK Financial.

Tekanan harga minyak juga bertambah setelah Trump menyatakan AS tidak memiliki rencana segera untuk menyerang Iran. Ia bahkan mengakui perang Iran turut berperan dalam kekalahan besar Partai Republik pada pemilu paruh waktu.

Wakil Presiden AS JD Vance juga mulai menjaga jarak dari keputusan untuk berperang dengan Iran. Ia mempertanyakan manfaat perang tersebut dan menyebut konflik itu sebagai salah satu penyebab kekalahan partainya.

Meski demikian, prospek berakhirnya perang belum sepenuhnya pasti. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa sikap permusuhan AS terhadap Iran akan tetap berlanjut, siapa pun partai yang berkuasa di Washington.

Seorang pejabat senior Iran juga menyampaikan bahwa Teheran dan Washington masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Analis Enverus, Carl Larry, mengingatkan bahwa perubahan politik di AS tidak serta-merta menjamin penyelesaian konflik. Menurut dia, risiko eskalasi militer masih perlu diperhitungkan.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Qatar meningkatkan upaya mediasi untuk mencegah kembali meluasnya serangan di kawasan Timur Tengah setelah pemilu AS.

Dari sisi pasokan, ekspor minyak mentah, kondensat, dan produk olahan dari kawasan Teluk, di luar gas minyak cair (LPG), tercatat rata-rata 17,1 juta barel per hari pada Oktober.

Angka ini turun dari 18,9 juta barel per hari pada September, tetapi masih setara sekitar tiga perempat dari tingkat sebelum perang.

Uni Emirat Arab (UEA) juga mempertimbangkan pembangunan jalur pipa minyak ketiga untuk menyalurkan minyak mentah tanpa melewati Selat Hormuz. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.

Sementara itu, data persediaan minyak AS turut memberikan dukungan terhadap harga minyak.

Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 865.000 barel menjadi 409,8 juta barel pada pekan yang berakhir 30 Oktober 2026.

Penurunan ini berlawanan dengan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan persediaan minyak mentah AS justru meningkat 877.000 barel.

Persediaan bensin dan produk distilat AS juga tercatat turun pada periode yang sama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×