kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.606.000   -27.000   -1,03%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri Prospektif, Cek Saham Rekomendasi Analis


Jumat, 17 Juli 2026 / 19:47 WIB
Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri Prospektif, Cek Saham Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Kinerja emiten properti kawasan industri dinilai masih prospektif didukung oleh peningkatan investasi asing Indonesia. Puradelta Lestari (DMAS) (Dok/DMAS)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten properti kawasan industri dinilai masih prospektif didukung oleh peningkatan investasi asing Indonesia.

Pemerintah mencatat realisasi investasi yang masuk ke Indonesia sepanjang semester I-2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun. Nilai tersebut tumbuh 7,2% YoY dan telah mencapai 49,5% dari target investasi tahun ini sebesar Rp 2.041,5 triliun. 

Dari sisi sumber modal, kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat relatif berimbang.

PMA mencapai Rp 507,6 triliun, sedangkan PMDN sebesar Rp 502,9 triliun atau sekitar 49,8% dari total investasi.

Baca Juga: Emiten Properti Kawasan Industri Menuai Berkah Pelemahan Rupiah

Emiten PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) optimistis dalam mencapai target penjualan lahan industri hingga akhir 2026. Ini seiring permintaan yang masih menunjukkan tren positif.

SSIA menargetkan pertumbuhan pendapatan prapenjualan alias marketing sales mencapai 188% di tahun 2026.

VP of Investor Relations SSIA, Erlin Budiman, menyampaikan, target marketing sales perseroan di tahun 2026 seluas 135 hektar.

Rinciannya, seluas 121 hektar berasal dari kawasan Subang Smartpolitan. Sisanya, seluas 14 hektar dari kawasan Karawang.

“Target tersebut naik 188% YoY dari realisasi tahun 2025 yang seluas 46,8 hektar,” katanya kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).

Analis BRI Danareksa Sekuritas Indonesia, Abida Massi Armand, melihat, realisasi investasi Rp 1.010,6 triliun atau 49,5% dari target di semester I 2026 adalah sinyal positif langsung bagi permintaan lahan kawasan industri. 

Komposisi investasi yang didominasi manufaktur, logistik, dan hilirisasi mineral menjadi katalis spesifik bagi emiten kawasan industri.

Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri Beragam di 2025, Simak Prospek Sahamnya

“Kinerja kuartal II 2026 berpotensi lebih solid dari kuartal I seiring konversi inquiry yang terakumulasi selama semester I mulai terealisasi,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengatakan, hal tersebut tentu menjadi sinyal yang positif bagi emiten kawasan industri.

Realisasi investasi yang sudah mencapai lebih dari Rp1.000 triliun menunjukkan bahwa minat investor untuk masuk ke Indonesia masih cukup kuat, meskipun kondisi global masih penuh ketidakpastian.

Namun, dampaknya ke laporan keuangan emiten biasanya tidak langsung terlihat. Sebab, ada jeda waktu antara investasi yang masuk, transaksi pembelian lahan, hingga akhirnya pendapatan diakui di laporan keuangan. 

“Di kuartal II tetap berpotensi membaik dibandingkan kuartal, terutama bagi emiten yang sudah memiliki marketing sales yang kuat. Namun, besarnya peningkatan akan berbeda beda di setiap perusahaan,” ungkapnya kepada Kontan, Jumat (17/7/2026). 

Ester Mulyani, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori mengatakan, wilayah Jawa Barat menjadi salah satu tujuan investasi terbesar dengan realisasi Rp 138,1 triliun, termasuk PMA sebesar Rp 84,9 triliun.

Baca Juga: IDX Basic Materials Tumbuh Positif di Tengah Gejolak, Cek Saham Rekomendasi Analis

Sehingga, emiten yang memiliki kawasan di koridor Cikarang, Bekasi, Karawang, dan Subang berpotensi memperoleh manfaat lebih besar.

Namun, kenaikan realisasi investasi tidak otomatis langsung tercermin pada pendapatan Kuartal II. Dampak awal biasanya lebih dahulu terlihat pada peningkatan inquiry, marketing sales, dan backlog penjualan lahan.

Pendapatan baru diakui setelah transaksi dan serah terima lahan memenuhi ketentuan akuntansi.

 

“Angka investasi ini menjadi leading indicator yang positif, tetapi kinerja keuangan setiap emiten tetap bergantung pada waktu pengakuan penjualan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).

Abida berpandangan, PMA menjadi katalis pendorong yang signifikan bagi emiten properti kawasan industri di sisa tahun 2026. Hal itu didukung oleh relokasi rantai pasok global dari Jepang, Korea, dan China yang mencari lokasi produksi alternatif di Asia Tenggara. 

Hilirisasi mineral yang terus diakselerasi pemerintah mendorong investasi smelter dan fasilitas pengolahan yang langsung membutuhkan lahan kawasan industri berinfrastruktur lengkap.

Recurring income dari utilitas kawasan juga semakin menjadi penopang kinerja yang stabil dan terprediksi,” katanya. 

Baca Juga: Dana Asing Kabur Rp 8,5 Triliun Karena Rebalancing MSCI, Cek Saham Rekomendasi Analis

Imam melihat,prospek sektor kawasan industri hingga akhir tahun juga masih cukup positif. Apalagi realisasi investasi baru enam bulan sudah hampir mencapai 50% dari target tahunan pemerintah. 

“Hal tersebut menunjukkan pipeline investasi masih cukup terjaga,” ungkapnya.

Sentimen positif penggerak kinerja emiten properti kawasan industri ke depan berasal dari berlanjutnya hilirisasi, pengembangan sektor EV, data center, serta relokasi manufaktur ke Indonesia.

Selain itu, keputusan S&P yang tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia juga membantu menjaga kepercayaan investor asing.

Di sisi lain, risikonya masih berasal dari faktor eksternal seperti suku bunga global yang masih tinggi, perlambatan ekonomi China, dan ketidakpastian geopolitik. Jika kondisi global kembali memburuk, keputusan investasi baru bisa saja tertunda.

Menurut Imam, PMA juga masih akan menjadi katalis yang cukup penting tahun ini karena sebagian besar permintaan lahan industri memang berasal dari investor asing. Selama arus investasi tetap terjaga, prospek sektor ini dinilainya masih menarik.

“Yang paling diuntungkan saat ini adalah PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) masih cukup unggul, karena memiliki eksposur yang besar terhadap permintaan data center dan manufaktur di kawasan Cikarang,” paparnya.

Imam pun merekomendasikan beli untuk DMAS dengan target harga Rp 147 per saham.

Baca Juga: Menilik Prospek Emiten Properti Kawasan Industri di Tengah Lesunya Investasi Asing

Ester menilai, prospek emiten kawasan industri hingga akhir 2026 masih moderat, dengan prospek yang masih ditopang oleh PMA dan pembangunan data center. 

PMA dapat menjadi katalis yang signifikan, tetapi perlu dicermati bahwa tidak seluruh investasi asing akan masuk ke kawasan industri emiten tercatat. 

Sebagian besar investasi hilirisasi mineral juga masih terkonsentrasi di Sulawesi, Maluku Utara, dan wilayah luar Jawa.

“Oleh karena itu, emiten yang paling diuntungkan adalah perusahaan yang memiliki pipeline tenant konkret, kesiapan lahan, infrastruktur, serta lokasi yang dekat dengan pelabuhan dan jaringan tol,” katanya.

Sentimen positif lain emiten sektor ini berasal dari pengembangan Pelabuhan Patimban, Tol Trans Jawa, kebutuhan data center, serta masuknya tenant otomotif dan manufaktur. 

Baca Juga: Momentum Mudik Dongkrak Saham Komponen Otomotif, Cek Saham Rekomendasi Analis

Sementara itu risiko yang harus diperhatikan berasal dari ketidakpastian ekonomi global, pelemahan rupiah, suku bunga tinggi, keterlambatan perizinan, persaingan harga lahan, serta potensi penundaan ekspansi investor jika kondisi geopolitik memburuk.

Untuk tahun ini, kata Ester, SSIA berpeluang menjadi salah satu emiten yang diuntungkan sejalan dengan pertumbuhan sektor kawasan industri. 

SSIA juga menargetkan penjualan lahan sekitar 135 hektare pada 2026, terutama dari Subang Smartpolitan yang mulai membentuk ekosistem otomotif dan manufaktur. 

“Selain penjualan lahan, pemulihan bisnis hotel dan konstruksi juga dapat mendukung kinerja konsolidasi,” ungkapnya.

Secara teknikal, SSIA  membentuk ascending channel dengan pola higher low, didukung oleh peningkatan volume, dan net foreign buy. Meskipun terjadi koreksi pada saat menyentuh area resistance, koreksi tersebut masih tergolong normal sebagai profit taking dan belum mengubah tren utama. 

Baca Juga: Prospek Emiten Rumah Sakit Tetap Cerah di 2026, Cek Saham Rekomendasi Analis

“Selama harga mampu bertahan di atas Rp 1.620 – Rp 1.560 per saham, outlook tetap bullish, dengan peluang melanjutkan kenaikan menuju Rp 1.900 – Rp 2.000 per saham apabila resistance Rp 1.800 per saham berhasil ditembus,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×