Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
Sementara, sentimen negatif berasal dari daya beli yang belum pulih penuh, biaya konstruksi, dan oversupply di beberapa segmen.
“Emiten ‘jawara’ tahun ini cenderung yang punya recurring kuat dan lokasi premium, seperti PWON dan PANI,” katanya.
Wafi pun merekomendasikan beli untuk PWON, SMRA, dan CTRA dengan target harga masing-masing Rp 520 per saham, Rp 750 per saham, dan Rp 1.200 per saham.
Arinda menambahkan, banyak saham properti saat ini masih diperdagangkan di bawah NAV (diskon RNAV). Namun, secara historis ini memang wajar, karena sektor properti siklikal dan memiliki risiko eksekusi tinggi.
Baca Juga: Komdigi Buka Lelang Frekuensi 700 MHz, Simak Rekomendasi Saham Telekomunikasi
Namun, kondisi saham properti sekarang cukup menarik secara relatif. Sebab, harga saham belum sepenuhnya mencerminkan potensi penurunan suku bunga, dan beberapa emiten sudah menunjukkan pemulihan presales dan recurring income.
Meskipun begitu, pasar cenderung selective rerating, sehingga tidak semua saham emiten akan naik bersama. Emiten yang memiliki visibilitas pendapatan tinggi, proyek berjalan jelas, dan leverage terkontrol akan lebih cepat mendapat rerating.
“Jadi, saham emiten properti masih menarik dikoleksi, tapi pendekatannya harus stock picking, bukan sektoral broad-based,” katanya.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Koreksi Jangka Pendek, Simak Rekomendasi Saham Berikut
Arinda pun merekomendasikan beli untuk PWON, PANI, CTRA, dan SMRA dengan target harga masing-masing Rp 500 per saham, Rp 10.000 per saham, Rp 1.100 per saham, dan Rp 520 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













