kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.525   25,00   0,14%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Kinerja Emiten Properti Beda Arah di Kuartal I-2026, Simak Rekomendasi Sahamnya


Selasa, 05 Mei 2026 / 19:55 WIB
Kinerja Emiten Properti Beda Arah di Kuartal I-2026, Simak Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Pakuwon Group Property Expo 2025 (SURYA/HABIBUR ROHMAN)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi menyampaikan, perbedaan kinerja emiten properti ditentukan oleh komposisi bisnis antara recurring income atau development. 

Emiten yang kuat di recurring income seperti PWON cenderung lebih stabil dan tumbuh di kuartal I karena traffic sudah pulih.

”Sementara yang lebih bergantung ke penjualan properti (development) seperti SMRA dan CTRA lebih sensitif ke demand dan timing pengakuan pendapatan, sehingga laba bisa fluktuatif meskipun revenue naik,” ujarnya kepada Kontan, Selasa.

Baca Juga: IHSG Ada Peluang Menguat, Simak Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas (30/4)

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty menambahkan, SMRA masih mencatat pertumbuhan pendapatan karena serah terima proyek berjalan. Namun, laba tertekan akibat margin yang turun lantaran biaya konstruksi, bunga, dan insentif pemasaran. 

Sementara, CTRA cenderung lebih “development-heavy”, sehingga ketika marketing sales melambat atau ada penundaan serah terima, maka pendapatan maupun laba ikut turun. 

Sebaliknya, PWON relatif diuntungkan oleh porsi recurring income (mal, hotel, perkantoran) yang stabil dan mulai pulih pasca normalisasi mobilitas. 

Sedangkan, sentimen kinerja PANI dan CBDK lebih spesifik lagi. Kedua emiten afiliasi Sugianto Kusuma alias Aguan itu diuntungkan oleh land sales besar dan proyek kawasan premium (PIK 2).

Sehingga, lonjakan kinerja lebih didorong oleh transaksi non-berulang bernilai besar. 

“Jadi, faktor pembeda utama kinerja mereka adalah eksposur ke recurring atau development, margin proyek, dan timing revenue recognition, bukan sekadar jenis aset semata,” ujarnya kepada Kontan, Selasa.

Baca Juga: IHSG Ada Potensi Rebound, Simak Rekomendasi Saham dari BNI Sekuirtas Senin (4/5)

Untuk prospek di tahun 2026, arah kinerja emiten properti kemungkinan masih selektif, belum bisa pulih secara keseluruhan. 

Menurut Liza, selama suku bunga masih tinggi, permintaan residensial akan ketahan, dan developer tidak bisa menaikkan volume tanpa mengorbankan margin. 

Tapi di sisi lain, konsumsi urban yang mulai pulih tetap jadi angin segar buat pemain seperti PWON. 

“Proyek premium seperti PANI juga masih punya momentum, tapi itu lebih ke story spesifik, bukan cerminan sektor secara keseluruhan,” ungkapnya.

Liza bilang, risiko kinerja emiten properti di tahun 2026 masih berasal dari daya beli kelas menengah belum benar-benar pulih, cost of fund (CoF) masih tinggi, serta di beberapa segmen masih ada potensi oversupply

Dari sisi valuasi, masih banyak saham properti yang masih diskon terhadap net asset value (NAV). Namun, valuasi murah saham properti itu lantaran pasar masih tunggu katalis, terutama soal arah suku bunga. 

“Jadi sektor ini lebih cocok dilihat sebagai play terhadap penurunan suku bunga, bukan sekadar ‘murah lalu pasti naik’,” katanya.

Baca Juga: IHSG Hobi Ambruk, Investor Asing Net Sell Rp 2,04 T, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Wafi berpandangan, emiten properti bisa memulih secara gradual di tahun 2026, tetapi belum bisa menorehkan kinerja yang kuat.

Arah suku bunga Bank Indonesia (BI) juga sangat krusial. Saat suku bunga turun, nantinya akan mendorong permintaan KPR dan penjualan aset properti. 

Alhasil, aset recurring income kemungkinan menjadi tulang punggung kinerja para emiten properti di tahun ini, terutama untuk mereka yang mempunyai aset mall dan mixed-use. 

Sentimen positif untuk emiten properti berasal dari potensi penurunan suku bunga, insentif properti, dan permintaan masyarakat urban. 




TERBARU

[X]
×