Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten menara telekomunikasi pada semester I-2026 menunjukkan tren yang tidak lagi seragam. Ini sejalan dengan strategi dan ekspansi masing-masing emiten yang berbeda satu sama lain.
Di mana, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mencatat pertumbuhan paling tinggi. Sementara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) membukukan kenaikan yang lebih moderat.
Berdasarkan laporan keuangan masing-masing emiten per 30 Juni 2026, TOWR membukukan pendapatan Rp 7,20 triliun atau tumbuh 12,69% secara tahunan atau Year on Year (YOY). Laba periode berjalan juga meningkat 16,47% YoY menjadi Rp 1,92 triliun.
Baca Juga: Laba Emiten Menara Kompak Melesat, Guyuran Cuan Fiber Optik Sukses Jadi Juru Selamat!
Di sisi lain, MTEL atau yang dikenal Mitratel membukukan pendapatan Rp 4,69 triliun atau naik 2,07% secara tahunan. Sementara itu Laba periode berjalan MTEL tumbuh 1,53% secara tahunan menjadi Rp 1,11 triliun pada semester I-2026.
Sementara itu, TBIG mencatat pendapatan Rp 3,46 triliun atau naik tipis 0,28% secara tahunan. Laba periode berjalan juga meningkat 1,30% YoY menjadi Rp 863,72 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Perbedaan laju pertumbuhan tersebut mencerminkan strategi bisnis yang mulai berbeda. TOWR memperoleh dorongan dari pertumbuhan bisnis non-menara, MTEL mempercepat transformasi menjadi penyedia infrastruktur digital, sedangkan TBIG masih mengandalkan pertumbuhan organik bisnis menara.
Direktur Utama Dayamitra Telekomunikasi Theodorus Ardi Hartoko mengatakan transformasi menuju Next-Gen Tower Company menjadi strategi MTEL untuk memperkuat daya saing sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan jangka panjang.
"Transformasi menuju Next-Gen Tower Company memungkinkan MTEL menghadirkan solusi yang lebih komprehensif bagi pelanggan, memperluas peluang pertumbuhan, serta mendukung percepatan transformasi digital Indonesia," ujar pria yang akrab dipanggil Teddy belum lama ini.
Baca Juga: Kinerja Emiten Restoran Tak Seragam, FORE Melaju Kencang saat PZZA dan MAPB Tertekan
Hingga akhir Juni 2026, MTEL mengelola 40.563 menara telekomunikasi atau meningkat 2% dibandingkan tahun lalu. Jumlah kolokasi naik 10,3% menjadi 23.303 dengan tenancy ratio meningkat menjadi 1,57 kali.
Di sisi lain, jaringan fiber optik anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ini mencapai 59.239 kilometer (km) atau tumbuh 8,8% secara tahunan. Sementara billable fiber meningkat 13,9% menjadi 74.779 km hingga akhir semester I-2026.
Sementara itu, TBIG tetap mengandalkan pertumbuhan organik. Hingga akhir Juni 2026, TBIG memiliki 25.280 sites telekomunikasi dengan total 42.332 penyewaan dan tenancy ratio mencapai 1,68 kali.
CEO Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong mengatakan pertumbuhan organik masih berlanjut sepanjang semester pertama. TBIG menambah 2.023 penyewaan bruto yang terdiri dari 1.417 sites baru dan 606 kolokasi.
"Momentum pertumbuhan organik kami terus berlanjut hingga kuartal kedua. Pada semester pertama tahun ini, kami menambah 2.023 penyewaan bruto ke dalam portofolio kami," jelas Hardi.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Abdul Azis menilai fundamental MTEL tetap terjaga, meski pertumbuhan laba relatif moderat. Efisiensi beban pendanaan dinilai memberi ruang lebih besar bagi MTEL untuk melanjutkan ekspansi.
Baca Juga: Emiten Menara Cetak Pertumbuhan Laba Pada 2025
"Pertumbuhan laba yang diiringi penurunan beban pendanaan menunjukkan fundamental Mitratel tetap terjaga. Efisiensi ini memberikan ruang lebih besar untuk mendanai ekspansi dan memperkuat daya saing," ujar Azis.
Sementara itu, Equity Research Analyst Indo Premier Sekuritas Aurelia Barus dan Belva Monica masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham MTEL. Katalis utama berasal dari pengembangan jaringan 5G dan layanan Fixed Wireless Access (FWA).
Menurut mereka, penambahan tenant MTEL diperkirakan meningkat pada semester II-2026 seiring percepatan pembangunan jaringan 5G. Implementasi FWA juga berpotensi meningkatkan permintaan penyewaan menara.
Indo Premier juga mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TOWR dengan target harga Rp 940 per saham. Menurut Aurelia dan Belva, pertumbuhan bisnis menara dinilai masih mampu mengimbangi risiko kenaikan beban bunga pada masa mendatang.
Di sisi lain, Indo Premier mempertahankan rekomendasi hold untuk saham TBIG dengan target harga Rp 1.400 per saham.
Baca Juga: Kinerja Emiten Menara Grup Djarum Masih Harum
Meski demikian, mereka menilai peluang kenaikan masih terbuka apabila implementasi FWA dan ekspansi jaringan 5G berlangsung lebih cepat dari perkiraan.
“Dalam jangka panjang, kami menilai implementasi jaringan 5G dan layanan FWA akan menjadi katalis positif bagi bisnis menara telekomunikasi,” tulis Aurelia dan Belva dalam riset.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
