kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.002   -55,00   -0,30%
  • IDX 5.279   282,28   5,65%
  • KOMPAS100 680   48,89   7,75%
  • LQ45 530   41,89   8,58%
  • ISSI 180   7,15   4,15%
  • IDX30 298   24,37   8,92%
  • IDXHIDIV20 389   32,13   9,00%
  • IDX80 78   5,77   7,97%
  • IDXV30 108   7,16   7,11%
  • IDXQ30 98   8,45   9,41%

Kinerja Emiten Menara Tak Lagi Seragam, Cermati Saham Pilihan Analis


Jumat, 07 Agustus 2026 / 16:53 WIB
Kinerja Emiten Menara Tak Lagi Seragam, Cermati Saham Pilihan Analis
ILUSTRASI. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) (Dok/TOWR)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli

CEO Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong mengatakan pertumbuhan organik masih berlanjut sepanjang semester pertama. TBIG menambah 2.023 penyewaan bruto yang terdiri dari 1.417 sites baru dan 606 kolokasi.

"Momentum pertumbuhan organik kami terus berlanjut hingga kuartal kedua. Pada semester pertama tahun ini, kami menambah 2.023 penyewaan bruto ke dalam portofolio kami," jelas Hardi. 

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Abdul Azis menilai fundamental MTEL tetap terjaga, meski pertumbuhan laba relatif moderat. Efisiensi beban pendanaan dinilai memberi ruang lebih besar bagi MTEL untuk melanjutkan ekspansi.

Baca Juga: Emiten Menara Cetak Pertumbuhan Laba Pada 2025

"Pertumbuhan laba yang diiringi penurunan beban pendanaan menunjukkan fundamental Mitratel tetap terjaga. Efisiensi ini memberikan ruang lebih besar untuk mendanai ekspansi dan memperkuat daya saing," ujar Azis. 

Sementara itu, Equity Research Analyst Indo Premier Sekuritas Aurelia Barus dan Belva Monica masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham MTEL. Katalis utama berasal dari pengembangan jaringan 5G dan layanan Fixed Wireless Access (FWA).

Menurut mereka, penambahan tenant MTEL diperkirakan meningkat pada semester II-2026 seiring percepatan pembangunan jaringan 5G. Implementasi FWA juga berpotensi meningkatkan permintaan penyewaan menara.

Indo Premier juga mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TOWR dengan target harga Rp 940 per saham. Menurut Aurelia dan Belva, pertumbuhan bisnis menara dinilai masih mampu mengimbangi risiko kenaikan beban bunga pada masa mendatang.

 

Di sisi lain, Indo Premier mempertahankan rekomendasi hold untuk saham TBIG dengan target harga Rp 1.400 per saham.

Baca Juga: Kinerja Emiten Menara Grup Djarum Masih Harum

Meski demikian, mereka menilai peluang kenaikan masih terbuka apabila implementasi FWA dan ekspansi jaringan 5G berlangsung lebih cepat dari perkiraan.

“Dalam jangka panjang, kami menilai implementasi jaringan 5G dan layanan FWA akan menjadi katalis positif bagi bisnis menara telekomunikasi,” tulis Aurelia dan Belva dalam riset.  
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×