kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.623.000   25.000   0,96%
  • USD/IDR 17.766   5,00   0,03%
  • IDX 6.441   -21,27   -0,33%
  • KOMPAS100 842   -10,21   -1,20%
  • LQ45 640   -8,13   -1,25%
  • ISSI 225   0,94   0,42%
  • IDX30 356   -4,01   -1,11%
  • IDXHIDIV20 444   -5,92   -1,32%
  • IDX80 96   -1,24   -1,27%
  • IDXV30 122   -2,51   -2,02%
  • IDXQ30 115   -1,38   -1,19%

Kinerja Emiten Infrastruktur Lesu di Era Suku Bunga Tinggi, Simak Rekomendasi Analis


Jumat, 18 September 2026 / 17:08 WIB
Diperbarui Jumat, 18 September 2026 / 17:15 WIB
Kinerja Emiten Infrastruktur Lesu di Era Suku Bunga Tinggi, Simak Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Menara BTS XL (Dok/XL Axiata). Kenaikan suku bunga membuat beban pendanaan emiten infrastruktur meningkat. Telko dinilai lebih defensif dibanding tol dan menara.


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

Salah satu faktor penekan berasal dari proyeksi kebijakan The Fed yang masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut pada 2026 serta mempertahankan level suku bunga yang relatif tinggi pada 2027.

Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang BI untuk melakukan pelonggaran suku bunga secara agresif.

Di sisi lain, terdapat sejumlah katalis yang dapat menopang sektor infrastruktur, antara lain realisasi proyek strategis pemerintah, perbaikan belanja pemerintah, serta pertumbuhan kebutuhan data center.

Wafi melihat subsektor telekomunikasi memiliki peluang pertumbuhan dari pengembangan data center dan bisnis digital business-to-business (B2B).

Model bisnis tersebut dinilai dapat memberikan sumber pertumbuhan baru tanpa sepenuhnya bergantung pada tambahan pembiayaan.

Baca Juga: IHSG Turun 1,42% Sepanjang Pekan Ini, Bagaimana Proyeksinya Pekan Depan?

Untuk emiten, Wafi melihat TLKM memiliki sejumlah katalis melalui pengembangan bisnis data center NeutraDC serta peluang monetisasi aset melalui aksi korporasi strategis.

Namun, emiten seperti PT Jasa Marga Tbk (JSMR), MTEL, dan TOWR tetap perlu mencermati risiko leverage karena tingginya kebutuhan pendanaan dapat meningkatkan sensitivitas terhadap perubahan suku bunga.

Sementara itu, Abida melihat sejumlah katalis lain bagi sektor infrastruktur, antara lain kontribusi kenaikan tarif tol, monetisasi aset telekomunikasi melalui FiberCo dan InfraCo, serta pipeline kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) sekitar Rp124 triliun.

Sebaliknya, kenaikan beban bunga, pelemahan rupiah yang dapat meningkatkan biaya utang dalam dolar AS, serta efisiensi belanja pemerintah menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Menurut Abida, subsektor telekomunikasi masih memiliki ruang pertumbuhan karena mulai memasuki fase monetisasi aset sehingga ketergantungan terhadap pendanaan eksternal dapat berkurang.

Ia melihat TLKM dan PT Indosat Tbk (ISAT) memiliki katalis dari pengembangan model bisnis yang lebih asset-light.

Baca Juga: Haji Isam Beli 10 Miliar Saham BYAN: Intip Profil Emiten dan Kinerja Terbarunya

Untuk TLKM, katalis berasal dari monetisasi InfraCo dan program buyback. Sementara untuk ISAT, rencana FiberCo dinilai dapat menjadi katalis bagi penguatan neraca.

Abida merekomendasikan beli untuk TLKM dan ISAT dengan target harga masing-masing Rp3.750 per saham dan Rp3.000 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×