kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Kinerja Emiten Infrastruktur Masih Prospektif, Cermati Saham Rekomendasi Analis


Minggu, 23 Agustus 2026 / 14:26 WIB
Kinerja Emiten Infrastruktur Masih Prospektif, Cermati Saham Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Infrastruktur Telekomunikasi (DOK/IIF)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID  - JAKARTA. Kinerja emiten infrastruktur masih prospektif di tengah era suku bunga tinggi.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026.

Di tengah penahan suku bunga BI, saham emiten-emiten infrastruktur terpantau melemah. 

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan, ada cukup banyak faktor penurunan kinerja emiten infrastruktur.

Mulai dari beban utang yang sangat tinggi untuk membiayai proyek, terutama dalam bentuk mata uang dolar Amerika Serikat (AS). 

Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri Prospektif, Cek Saham Rekomendasi Analis

Selain itu, situasi dan kondisi yang penuh dengan ketidakpastian, juga telah membuat beberapa saham atau hampir seluruh saham dari seluruh sektor mengalami penurunan. 

“Mulai dari perang, pelemahan rupiah, stabilitas politik, hingga kebijakan fiskal dalam negeri yang selalu menjadi perhatian,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (23/8/2026).

Per Jumat (21/8) lalu, indeks IDXINFRA bahkan sudah turun 28,18% sejak awal tahun alias year to date (YTD). Sebagai perbandingan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 24,53% YTD.

Setidaknya ada 10 emiten dengan bobot terbesar dalam sektor ini. Yaitu ISAT, EXCL, TLKM, BREN, CDIA, TOWR, dan MORA.

Saham TLKM turun 25% YTD, BREN 64,33% YTD, CDIA 57,49% YTD, TOWR 25,81% YTD, dan EXCL 24,27% YTD.

 

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan, penurunan IDXINFRA lebih disebabkan faktor earnings, leverage, capital expenditure (capex), foreign outflow dan sentimen pasar yang masih selektif. 

Baca Juga: Kinerja Emiten Kawasan Industri Beragam, Simak Saham Rekomendasi Analis

“Jadi saat ini suku bunga bukan satu-satunya perhatian. Tekanan di saham-saham besar, seperti TLKM, juga ikut membebani indeks,” katanya kepada Kontan, Minggu (23/8).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengatakan, penyebab penurunan IDXINFRA tidak terlepas dari aksi profit taking yang dilakukan pelaku pasar di sektor ini. 

Saham seperti BREN yang merupakan saham dengan market cap terbesar di sektor ini. Selain itu, saham lainnya yang juga memiliki market cap yang besar, seperti CDIA dan MORA, di tahun sebelum 2026 tengah mencatatkan kenaikan yang signifikan.

“Sehingga sesuatu yang wajar jika secara YTD mencatatkan penurunan yang signifikan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (21/8/2026).

Hal tersebut juga dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari ketegangan geopolitik, naiknya harga minyak, inflasi, naiknya suku bunga, kebijakan MSCI, dan lain sebagainya. 

Menurut Imam, kebijakan BI mempertahankan suku bunga di dalam RDG pekan ini tidak serta-merta menjadi katalis yang membuat sektor infra langsung berbalik positif. 

Baca Juga: Dana Asing Kabur Rp 8,5 Triliun Karena Rebalancing MSCI, Cek Saham Rekomendasi Analis

“Namun, jika melihat pergerakan dari price action IDXINFRA, juga mulai menunjukkan adanya potensi trend reversal setelah terjadi breakout pada pola ascending triangle pada 18 Agustus 2026 lalu,” ungkapnya.

Nico melihat, di sektor infrastruktur, kinerja TLKM dan ISAT masih akan prospektif hingga akhir tahun 2026. Alasannya karena kedua emiten itu mengandalkan dominasi pendapatan berulang (recurring revenue) dalam bentuk rupiah.

Investor pun disarankan untuk mencermati saham EXCL dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 3.270 per saham dan Rp 3.440 per saham.

Elandry melihat, subsektor telekomunikasi dan digital infrastructure memiliki kinerja paling menarik hingga akhir 2026, seiring pertumbuhan trafik data, 5G, cloud dan AI. 

Saham ISAT, EXCL, dan TLKM bisa sebagai pilihan yang lebih defensif. Katalis utamanya pertumbuhan pendapatan, efisiensi capex, konsolidasi industri, dan peningkatan permintaan data.

“TLKM lebih bisa menjadi alternatif bagi investor yang lebih mengutamakan fundamental dan dividend yield,” paparnya.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Cermati Pemicu dan Saham Rekomendasi Analis

Imam melihat, emiten sektor infrastruktur adalah emiten yang cenderung defensif, karena cenderung memiliki fokus bisnis utilitas atau secara produk digunakan oleh banyak orang untuk aktivitas sehari-hari.

Artinya, emiten ini cenderung memiliki earning power yang cukup kuat. 

Kinerja emiten-emiten ini akan jauh lebih baik jika ke depan kondisi makro seperti bank sentral, baik BI ataupun The Fed, yang lebih dovish.

“Atau mungkin ada aksi korporasi yang organik dan anorganik. Perlu menjadi perhatian juga valuasi sahamnya,” paparnya.

Imam pun merekomendasikan beli untuk PGEO dengan target harga terdekat Rp 1.140 per saham dan target harga selanjutnya Rp 1.215 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×