kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.027.000   167.000   5,84%
  • USD/IDR 16.805   20,00   0,12%
  • IDX 7.923   -406,88   -4,88%
  • KOMPAS100 1.108   -57,53   -4,94%
  • LQ45 806   -27,29   -3,27%
  • ISSI 278   -19,24   -6,46%
  • IDX30 421   -8,88   -2,07%
  • IDXHIDIV20 505   -4,36   -0,85%
  • IDX80 123   -5,79   -4,48%
  • IDXV30 135   -3,57   -2,57%
  • IDXQ30 137   -1,44   -1,04%

Ketegangan AS-Iran Mereda, Harga Minyak Langsung Anjlok 5%


Senin, 02 Februari 2026 / 18:07 WIB
Ketegangan AS-Iran Mereda, Harga Minyak Langsung Anjlok 5%
ILUSTRASI. Harga minyak anjlok 5% pada Senin (2/2/2026), setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran "serius berbicara" dengan Washington (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak anjlok 5% pada Senin (2/2/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran "serius berbicara" dengan Washington, menandakan de-eskalasi dengan anggota OPEC untuk mengurangi kekhawatiran gangguan pasokan.

Harga minyak mentah Brent turun US$ 3,63, atau 5,2%, menjadi US$ 65,69 per barel pada pukul 0920 GMT. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 3,60, atau 5,5%, menjadi US$ 61,61 per barel.

Brent dan WTI turun setelah mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak 2022 pada Januari 2026, karena "risiko serangan militer terhadap Iran mereda setelah komentar Trump pada akhir pekan". Brent naik 16% pada Januari, sementara WTI naik 13%.

Kurangnya peningkatan ketegangan lebih lanjut di Timur Tengah, serta penurunan gangguan pasokan di AS dan Kazakhstan, menekan harga minyak, kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Baca Juga: Hadapi Tekanan Jual, Prospek Bitcoin Masih Dalam Volatilitas Tinggi

Pada hari Sabtu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Iran "serius dalam pembicaraan," beberapa jam setelah pejabat keamanan tertinggi Teheran, Ali Larijani, mengatakan bahwa pengaturan untuk negosiasi sedang berlangsung.

Trump telah berulang kali mengancam Iran dengan intervensi jika negara itu tidak menyetujui kesepakatan nuklir atau terus membunuh para demonstran. Ancaman yang terus-menerus ini telah menopang harga minyak sepanjang Januari, kata Priyanka Sachdeva, seorang analis di Phillip Nova.

Penurunan harga juga didorong oleh aksi jual pasar komoditas yang lebih luas yang dipimpin oleh kerugian besar pada emas dan perak, yang sebagian dikaitkan oleh analis dengan penguatan dolar AS.

"Penurunan harga baru-baru ini juga diperkuat oleh penguatan kembali dolar AS, yang biasanya membuat minyak yang didenominasikan dalam dolar lebih mahal bagi pembeli non-AS, yang selanjutnya menekan harga," kata Sachdeva seperti dilansir Reuters.

Kekhawatiran tentang pasokan minyak global yang melebihi permintaan juga kembali menjadi fokus setelah de-eskalasi di Timur Tengah, kata para analis. Pada pertemuan hari Minggu, OPEC+ sepakat untuk mempertahankan produksi minyaknya tidak berubah untuk bulan Maret.

Pada bulan November, kelompok tersebut telah membekukan rencana peningkatan lebih lanjut untuk Januari hingga Maret 2026 karena konsumsi yang lebih lemah secara musiman.

"Risiko geopolitik menutupi pasar minyak yang pada dasarnya bearish," kata Capital Economics dalam sebuah catatan pada 30 Januari. "Contoh historis perang 12 hari tahun lalu (antara Israel dan Iran), dan pasar minyak yang pasokannya melimpah, akan tetap menekan harga minyak mentah Brent pada akhir tahun 2026."

Baca Juga: Danantara Buka Peluang Jadi Pemegang Saham BEI Usai Demutualisasi

Selanjutnya: Suku Bunga Simpanan Bank Tinggi, Masalah Special Rate atau Kompetisi?

Menarik Dibaca: Ini 5 Aset Kripto Top Gainers saat Pelemahan Pasar Tak Terbendung

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×