Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dinilai berpotensi menekan kinerja emiten farmasi, baik dari sisi biaya pendanaan maupun prospek pertumbuhan penjualan.
Seperti diketahui, Bank Indonesia menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei 2026 sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, mengatakan kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya pendanaan emiten farmasi, terutama bagi perusahaan dengan tingkat leverage tinggi.
“Kondisi ini dapat membuat emiten lebih selektif dalam belanja modal dan ekspansi bisnis ke depan,” kata Azis kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).
Baca Juga: Suku Bunga Acuan Naik, Investor Perlu Cermat Rebalancing Portofolio Saham
Ia menjelaskan, tekanan terhadap kinerja juga dapat datang dari sisi margin. Kenaikan suku bunga akan meningkatkan beban bunga, sementara pelemahan daya beli masyarakat berpotensi menekan permintaan, khususnya pada segmen consumer health.
Selain itu, pelemahan rupiah turut menjadi tantangan tersendiri bagi industri farmasi yang masih bergantung pada impor bahan baku aktif (active pharmaceutical ingredients/API).
“Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, sehingga berpotensi menekan margin emiten farmasi,” tambahnya.
Dari sisi top line, prospek pertumbuhan penjualan emiten farmasi diperkirakan cenderung lebih moderat, terutama pada segmen non-JKN dan produk consumer health.
Meski demikian, Azis menilai permintaan untuk obat-obatan esensial dan produk kesehatan dasar relatif tetap stabil karena bersifat defensif.
“Kebutuhan terhadap produk kesehatan dasar cenderung tidak banyak terpengaruh siklus ekonomi,” jelasnya.
Lebih lanjut, kebijakan suku bunga yang lebih ketat juga dinilai berpotensi membatasi ruang fiskal pemerintah, termasuk dalam belanja sektor kesehatan.
Hal ini dapat berdampak pada permintaan produk farmasi yang berasal dari pengadaan pemerintah, terutama bagi emiten farmasi pelat merah.
Baca Juga: Begini Rekomendasi Teknikal Saham ASII, DEWA, PTBA untuk Jumat (22/5)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













