Reporter: Dimas Andi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 50 bps menjadi 5,75% patut menjadi perhatian bagi para investor, apalagi kenaikan tersebut tampak belum mampu meredam tekanan di pasar saham. Alhasil, investor perlu mengatur ulang kembali portofolio investasi sahamnya.
Sebagai informasi, sehari setelah BI memutuskan mengerek suku bunga acuan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merosot 3,54% ke level 6.094,94 pada penutupan perdagangan Kamis (21/5). IHSG pun telah anjlok 30,33% year to date (ytd) sejak awal tahun.
Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas Dipta Daniswara mengatakan, terlepas dari suku bunga acuan naik atau tidak, rebalancing portofolio tetap perlu dilakukan secara rutin dan berkala. Investor perlu menyesuaikan portofolionya dengan perkembangan kondisi pasar serta momentum yang sedang terjadi saat itu.
Baca Juga: IHSG Anjlok, Analis: Masih Rawan Koreksi pada Jumat (22/5)
Secara teori, ketika BI mengerek suku bunga, sektor-sektor yang sensitif terhadap pembiayaan dan konsumsi biasanya akan lebih terdampak, seperti properti, otomotif, hingga teknologi yang mengandalkan ekspansi dan biaya pendanaan. Namun, Dipta melihat sektor poultry dan tembakau cenderung lebih tahan banting dalam kondisi seperti saat ini.
“Kedua sektor tersebut masih memiliki daya tahan permintaan yang relatif stabil, sehingga dapat menjadi pilihan menarik bagi investor di tengah volatilitas pasar,” ujar dia, Kamis (21/5).
Dipta menambahkan, strategi investasi saham ketika suku bunga naik pada dasarnya disesuaikan dengan karakter masing-masing saham. Untuk saham-saham blue chip yang masih punya fundamental kuat, investor dapat memanfaatkan momentum pelemahan pasar dengan strategi buy on weakness atau cicil beli secara bertahap untuk jangka menengah dan panjang.
Di samping itu, investor juga dapat memanfaatkan kondisi koreksi pasar sebagai momentum mendapatkan valuasi yang lebih menarik. Sedangkan untuk sektor yang masih dalam tren bullish seperti tembakau dan poultry, investor dapat mempertimbangkan strategi speculative buy.
Sementara itu, Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menilai, ketika suku bunga acuan naik, imbasnya akan terasa ke hampir seluruh sektor saham. Pasalnya, kenaikan tingkat suku bunga akan berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi, mengurangi nilai investasi, dan membatasi daya beli atau konsumsi.
“Semua sektor akan terkena dampaknya, kecuali sektor kesehatan yang dianggap defensif. Sektor yang masih menarik biasanya ada pada consumer goods dan komoditas,” ungkap dia, Kamis (21/5).
Dari situ, investor jelas perlu melakukan rebalancing di tengah kondisi pasar saham yang bergerak volatil tak menentu. Namun, upaya meracik ulang portofolio perlu disesuaikan kembali dengan tujuan investasi, durasi investasi, hingga profil risiko investor itu sendiri. Hal itu penting supaya investor bisa menjaga keseimbangan portofolio investasinya.
Jika investor yang bersangkutan punya orientasi jangka pendek, maka kesempatan untuk menungganggi volatilitas dapat diambil. Sebaliknya, investor berorientasi jangka panjang dapat menjadikan akumulasi sebagai opsi ideal.
“Semua tergantung pada sejauh mana perspektif dan persepsi pelaku pasar dan investor terhadap situasi dan kondisi saat ini,” tutur Nico.
Di lain pihak, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengingatkan supaya investor tidak panik, tapi tetap perlu melakukan rebalancing terbatas. Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan menjadi sinyal bahwa BI memprioritaskan stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal.
Untuk saat ini, strategi yang lebih aman dilakukan investor adalah investasi secara selektif dan bertahap, bukan agresif. Aktivitas trading masih bisa dilakukan, namun hanya untuk investor yang disiplin cut los dan paham terhadap risiko volatilitas.
“Bagi investor ritel, lebih baik akumulasi bertahap pada saham berkualitas, bukan averaging down membabi buta,” tukas dia, Kamis (21/5).
Secara umum, Budi melihat dalam jangka pendek IHSG masih berpotensi bergerak volatil. Gejolak kemungkinan bertahan sampai pasar melihat stabilitas rupiah, arah suku bunga acuan global, dampak rebalancing MSCI, hingga kejelasan kebijakan pemerintah.
Sentimen yang bisa mengangkat IHSG adalah rupiah yang mulai stabil, penurunan yield obligasi Amerika Serikat (AS), laju kenaikan harga minyak yang mereda, arus dana asing yang kembali masuk, serta komunikasi kebijakan pemerintah yang lebih jelas.
Berkaca pada kondisi saat ini, Budi memproyeksikan secara konservatif IHSG akan berada di kisaran 6.700–7.200 pada akhir 2026.
Di sisi lain, Nico menyebut bahwa selama pemerintah tidak melakukan tindakan secara cepat untuk mengatasi ketidakpastian ini, maka pasar akan semakin terpuruk. Bahkan, Nico menganggap peluang IHSG untuk kembali ke level 7.000 sangat kecil dan terkesan hanya sebuah mimpi untuk saat ini. Sudah cukup bagus jika IHSG bisa ke level 6.500 dalam beberapa waktu mendatang.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.667 Kamis (21/5), Bagaimana Nasib Jumat Besok?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












