kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

ITSEC Asia (CYBR) Dapat Katalis Baru dari Proyek BUMN dan RUU KKS, Begini Prospeknya


Kamis, 03 September 2026 / 19:08 WIB
ITSEC Asia (CYBR) Dapat Katalis Baru dari Proyek BUMN dan RUU KKS, Begini Prospeknya
ILUSTRASI. Ilustrasi web site PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) (KONTAN/Panji Indra)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek bisnis PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) pada semester II-2026 mulai menunjukkan peluang pemulihan seiring pertumbuhan pendapatan pada kuartal II-2026. Namun, konsistensi kinerja masih perlu dicermati karena realisasi proyek pemerintah dan BUMN menjadi salah satu faktor penting yang menentukan pertumbuhan perseroan.

Pada kuartal II-2026, CYBR membukukan pendapatan Rp115,03 miliar, tumbuh 21% secara tahunan. Pada periode yang sama, laba usaha perseroan melonjak 1.171% menjadi Rp23,01 miliar.

Meski demikian, secara kumulatif semester I-2026, pendapatan CYBR masih turun menjadi Rp201,2 miliar. Perseroan tetap membukukan laba bersih sebesar Rp34,3 miliar pada enam bulan pertama tahun ini.

Baca Juga: Yield SBN 10 Tahun Tembus 7,23%, Intip Strategi Akumulasi dan Prospek Capital Gain

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai pertumbuhan pendapatan pada kuartal II-2026 menjadi sinyal positif bagi momentum bisnis CYBR. Namun, menurut dia, kenaikan laba usaha perlu dibaca secara lebih hati-hati.

"Laba usaha kuartal II naik kemungkinan besar karena low base effect kuartal II tahun sebelumnya yang sangat rendah, bukan structural improvement yang sustainable," kata Wafi kepada Kontan, Kamis (3/9/2026).

Menurut Wafi, pertumbuhan pendapatan secara tahunan lebih mencerminkan momentum bisnis yang sebenarnya. Pasalnya, pendapatan kuartal II tumbuh 21% meski kinerja semester I secara keseluruhan masih mengalami kontraksi.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kinerja kuartal I kemungkinan cukup lemah sehingga pertumbuhan pada kuartal II belum sepenuhnya mampu mengangkat kinerja semester pertama.

Karena itu, kinerja kuartal III dan kuartal IV menjadi periode penting untuk melihat apakah pertumbuhan pendapatan CYBR dapat berlanjut atau hanya bersifat sementara.

Salah satu peluang pertumbuhan CYBR berasal dari pengembangan bisnis dengan BUMN dan institusi pemerintah. Perseroan sebelumnya menjalin kerja sama dengan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI serta PT Len Industri (Persero) yang tergabung dalam DEFEND ID.

Wafi menilai potensi monetisasi dari proyek-proyek tersebut sangat bergantung pada jadwal realisasi kontrak. Bisnis keamanan siber untuk BUMN umumnya bersifat berbasis proyek sehingga pengakuan pendapatan dapat berbeda antar kuartal.

Hal ini juga dapat menjelaskan adanya perbedaan antara pertumbuhan pendapatan yang cukup kuat pada kuartal II dengan penurunan pendapatan secara kumulatif pada semester I-2026.

Baca Juga: JP Morgan Sebut Rencana Penghapusan Batas Minimum Saham Rp 50 Dorong Likuiditas

Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai peluang monetisasi dari kerja sama tersebut cukup besar. Namun, kerja sama CYBR dengan PT INTI maupun Len Industri melalui DEFEND ID masih berbentuk nota kesepahaman atau MoU sehingga belum dapat diperlakukan sebagai kontrak maupun backlog yang pasti.

Menurut Liza, nilai strategis kerja sama dengan PT INTI terletak pada akses perusahaan tersebut ke jaringan BUMN dan pemerintah daerah. Adapun kolaborasi dengan DEFEND ID membuka peluang bagi CYBR untuk masuk ke kebutuhan keamanan siber sektor pertahanan, termasuk C4ISR atau C5ISR serta perlindungan infrastruktur pertahanan.

Karena masih berada dalam tahap pengembangan, kontribusi proyek tersebut terhadap kinerja semester II-2026 kemungkinan berlangsung secara bertahap.

Monetisasi dapat dimulai dari pembuktian konsep atau proof of concept (PoC), implementasi security operations center (SOC), layanan managed security services hingga program pelatihan.

Dengan demikian, realisasi kerja sama tersebut belum serta-merta memberikan kontribusi material secara penuh terhadap pendapatan CYBR pada tahun ini.

Selain eksekusi proyek pemerintah, perkembangan Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS) juga menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi prospek bisnis CYBR.

Liza menilai pengesahan RUU KKS dapat menjadi katalis struktural bagi industri keamanan siber. Jika regulasi tersebut menetapkan kewajiban keamanan siber, audit, penanganan insiden, SOC dan pengembangan sumber daya manusia bagi penyelenggara infrastruktur kritikal, kebutuhan terhadap layanan keamanan siber dapat meningkat.

Kondisi tersebut berpotensi mengubah karakter belanja keamanan siber dari yang sebelumnya lebih bersifat discretionary menjadi kebutuhan yang didorong oleh kepatuhan regulasi.

"RUU KKS lebih tepat dipandang sebagai medium-term demand multiplier, sedangkan pendorong 2H26 tetap konversi pipeline menjadi kontrak dan kualitas eksekusi proyek," ujar Liza.

Baca Juga: Laba Emiten BUMN di Bawah Danantara Membaik, Simak Prospek dan Rekomendasi Sahamnya

Namun, dampak RUU KKS terhadap pendapatan CYBR tidak akan langsung terlihat. Realisasinya masih bergantung pada pengesahan regulasi, aturan turunan, alokasi anggaran serta implementasi dan penegakan kewajiban tersebut.

Bagi CYBR, peluang tersebut dapat menguntungkan karena perseroan memiliki layanan keamanan siber end-to-end, sertifikasi dan kapasitas managed services yang dapat mendukung kebutuhan perusahaan maupun institusi pemerintah.

Liza memperkirakan pertumbuhan pendapatan kuartal II-2026 sebesar 21% YoY menjadi indikasi awal pemulihan setelah pendapatan CYBR pada kuartal I hanya sekitar Rp86,2 miliar.

Namun, pertumbuhan tersebut belum cukup untuk menghapus penurunan pendapatan semester I-2026 sebesar 12,7% secara tahunan.

Jika CYBR mampu mempertahankan tingkat pendapatan seperti kuartal II sepanjang semester II-2026, pendapatan FY2026 berpotensi berada di kisaran Rp430 miliar hingga Rp450 miliar.

Potensi kenaikan menuju Rp450 miliar hingga Rp470 miliar terbuka apabila proyek-proyek publik mulai dieksekusi lebih cepat.

Meski demikian, Liza mengingatkan investor agar tidak hanya melihat lonjakan laba usaha. Pada kuartal II-2026, laba usaha CYBR juga mendapatkan kontribusi dari pendapatan lain bersih sekitar Rp10,3 miliar, terutama berasal dari keuntungan kurs.

Di sisi lain, margin laba kotor justru turun dari 48,9% menjadi 45,3%. Laba bersih semester I-2026 juga mendapat dukungan dari manfaat pajak nonkas sebesar Rp28,9 miliar.

Karena itu, indikator pemulihan yang lebih sehat adalah konsistensi pertumbuhan pendapatan serta perbaikan margin dan laba operasional inti pada kuartal III dan IV.

Baca Juga: Disokong Produksi Tambang Emas Pani, Cermati Rekomendasi Saham EMAS

Dari sisi katalis, Wafi melihat realisasi kontrak BUMN dan pemerintah sesuai jadwal menjadi faktor utama yang dapat menopang kinerja CYBR hingga akhir tahun. Perkembangan RUU KKS juga berpotensi menjadi pendorong permintaan dalam jangka menengah apabila regulasi tersebut disahkan.

Namun, model bisnis berbasis proyek membuat pendapatan CYBR berpotensi mengalami volatilitas antar kuartal. Pengakuan pendapatan yang bergantung pada penyelesaian proyek dapat menyebabkan kinerja perseroan terlihat fluktuatif.

Selain itu, ketergantungan terhadap siklus anggaran pemerintah menjadi risiko lain yang perlu diperhatikan. Keterbatasan fiskal dapat memengaruhi waktu maupun besaran belanja untuk proyek keamanan siber.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×