kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

IHSG Berpeluang Terkoreksi Jumat (4/9), Simak Proyeksi dan Rekomendasi Sahamnya


Kamis, 03 September 2026 / 19:29 WIB
IHSG Berpeluang Terkoreksi Jumat (4/9), Simak Proyeksi dan Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. IHSG Meroket To The Moon (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (3/9/2026) dengan kenaikan 1,09% ke level 6.667,89. Penguatan tersebut didorong oleh sentimen positif dari pasar global, apresiasi rupiah, serta kenaikan beberapa harga komoditas.

Head of Research KISI, Muhammad Wafi, menilai penguatan IHSG pada perdagangan hari ini merupakan rebound signifikan setelah sebelumnya mengalami koreksi tipis dengan pergerakan intraday yang volatil. Dari dalam negeri, sentimen positif turut dipengaruhi oleh konfirmasi Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) serta tingkat inflasi Agustus yang masih terjaga.

“Faktor domestik: konfirmasi Gubernur BI Destry Damayanti yang positive structural, inflasi Agustus masih terjaga,” ujar Wafi.

Dari pasar global, penguatan mayoritas bursa Asia dan penurunan yield US Treasury juga menjadi faktor yang mendukung pasar. Situasi tersebut membuat sentimen risk-on lebih kuat dibandingkan kekhawatiran terhadap kondisi geopolitik di kawasan Selat Hormuz.

Baca Juga: Reksadana Saham Panin AM Cetak Return 7,21%, Energi Masih Jadi Andalan

“Penguatan mayoritas bursa Asia hari ini, penurunan yield US Treasury (positive shift dari level tinggi kemarin), dan sentimen risk-on lebih dominan daripada kekhawatiran geopolitik Selat Hormuz,” kata Wafi.

Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, juga menilai penguatan IHSG masih sejalan dengan proyeksi yang telah disampaikan sebelumnya. Selain dipengaruhi kondisi pasar global, pergerakan indeks turut didukung oleh kenaikan harga komoditas emas dan batu bara serta penguatan rupiah terhadap dolar AS.

“Penguatan IHSG ini masih sejalan dengan analisis yang kami sampaikan pada report pagi, dimana masih terdapat peluang penguatan dari IHSG. Di sisi lain penguatan dari harga komoditas emas dan batu bara turut mendorong IHSG, serta nilai tukar Rupiah yang menguat terhadap USD,” ujar Herditya.

Secara teknikal, Wafi melihat IHSG telah mencatatkan breakout yang signifikan setelah berhasil melewati area resistance sebelumnya di 6.635–6.666. Pergerakan indeks hingga level 6.663 menunjukkan bahwa momentum penguatan masih cukup kuat.

Wafi memperkirakan area support IHSG berada pada kisaran 6.476–6.500. Sementara itu, apabila momentum penguatan terus berlanjut, resistance berikutnya diperkirakan berada di kisaran 6.700–6.730.

Untuk perdagangan Jumat (4/9/2026), para analis masih melihat IHSG memiliki prospek yang cukup positif. Meski demikian, risiko koreksi jangka pendek tetap perlu diwaspadai setelah indeks mengalami penguatan yang cukup tajam.

Herditya memperkirakan IHSG berpotensi mengalami koreksi dalam jangka pendek. Ia menempatkan level support pada 6.655 dan resistance di 6.714. Pandangan tersebut disampaikan dalam analisis untuk perdagangan berikutnya.

Baca Juga: Investor Kripto Wajib Tahu, Ini Risiko Leverage di Perdagangan Futures

Sementara itu, Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, memproyeksikan IHSG masih berpeluang menguji level 6.705 pada perdagangan Jumat. Dari sisi teknikal, Alrich menetapkan resistance pada level 6.700 dan support di 6.600.

“IHSG berpeluang menguji level 6.705 pada perdagangan Jumat (4/9), namun perlu diwaspadai potensi profit taking menjelang akhir pekan di tengah ketidakpastian global yang relatif tinggi,” tulis Alrich dalam risetnya.

Sentimen eksternal masih menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan investor. Herditya menyebutkan bahwa pelaku pasar akan mencermati rilis data neraca perdagangan serta data pekerjaan Amerika Serikat untuk melihat arah kebijakan suku bunga The Fed. Di sisi lain, eskalasi kondisi geopolitik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dan meningkatkan kekhawatiran terhadap distribusi energi.

Wafi mengingatkan adanya risiko profit taking setelah IHSG mencatatkan kenaikan yang cukup tajam dalam sepekan terakhir. Selain perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, investor perlu memperhatikan pergerakan yield US Treasury serta keberlanjutan momentum positif dari Gubernur BI.

“Given kenaikan tajam hari ini setelah sepekan rally, risiko profit taking genuinely perlu diwaspadai,” ujar Wafi.

Selanjutnya, Alrich menyebut pelaku pasar akan menantikan rilis data nonfarm payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Jumat (4/9). Investor juga akan mencermati pertemuan OPEC+ pada 6 September yang akan membahas tingkat produksi minyak untuk Oktober.

Di tengah kondisi pasar tersebut, terdapat sejumlah saham yang dinilai menarik untuk dicermati. Narasumber 1 merekomendasikan saham ASII pada kisaran 5.125–5.200, BMRI pada level 4.510–4.590, serta CDIA di kisaran 745–785.

Baca Juga: ITSEC Asia (CYBR) Dapat Katalis Baru dari Proyek BUMN dan RUU KKS, Begini Prospeknya

Wafi juga merekomendasikan CDIA dengan strategi trading buy pada area 660–690. Saham tersebut memiliki target harga 735 dan 765, dengan stop loss apabila ditutup di bawah level 630. Selain itu, Wafi merekomendasikan SMRA dengan area entry 316–322, target harga 336 dan 344, serta stop loss apabila ditutup di bawah 310.

Sementara itu, Alrich menyarankan investor untuk mencermati sejumlah saham, yaitu JPFA, PANI, CPIN, ANTM, dan ARCI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×