Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten Danantara mencatatkan pertumbuhan laba bersih sepanjang paruh pertama tahun 2026.
Tengok saja, Laba bersih PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) pada semester I-2026 naik 408,9% year on year (YoY) ke Rp 228,25 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, SMGR cetak laba bersih sebesar Rp 39,97 miliar.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat kenaikan laba periode berjalan sebesar 34% year on year (yoy) menjadi Rp 6,91 triliun pada semester I-2026.
PT Timah Tbk (TINS) membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 300,06 miliar pada semester I-2025. Manajemen TINS mengungkapkan bahwa laba bersih pada semester I-2026 yang mencapai Rp 2,71 triliun melampaui target laba bersih tahun 2026 sebesar Rp 1,61 triliun atau setara dengan 169% dari target.
Baca Juga: Disokong Produksi Tambang Emas Pani, Cermati Rekomendasi Saham EMAS
Dari sektor perbankan, PT Bank Tabungan Tbk (BBTN) mencatat pertumbuhan laba 40,80% YoY menjadi Rp 2,40 triliun pada semester I-2026. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukukan laba Rp31,18 triliun atau tumbuh 17,53% yoy dari Rp26,53 triliun.
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatatkan laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp11,3 triliun atau tumbuh 6,2% YoY, dengan margin sebesar 14,9% sepanjang semester I 2026.
Meskipun industrinya tengah lesu, emiten BUMN karya juga tak ketinggalan menunjukan pertumbuhan laba. Laba bersih PT PP Tbk (PTPP) melonjak 196,5% YoY menjadi Rp 193,46 miliar. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 8,49 miliar per Juni 2026. Angka tersebut tumbuh 12,56% YoY.
Pengamat Pasar Modal & Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menyoroti bahwa Danantara punya peran dalam restrukturisasi emiten pelat merah. Misalnya langkah suntik modal kepada PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).
“Pendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) juga membantu meminimalkan tindakan ilegal dalam perdagangan sumber daya alam,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/8/2026).
Namun, perbaikan emiten pelat merah di paruh pertama tahun 2026 ini tak serta merta didukung penuh oleh peran dari Danantara.
Baca Juga: Yield SBN Bergejolak, Cermati Strategi Masuk Bertahap dan Tenor Pendek
Misalnya, pemulihan kinerja TINS lebih kepada peran pemerintah menyelesaikan tata kelola bisnis dan korupsi tambang timah ditambah harga timah global yang tengah menanjak.
Teguh juga menyoroti ketiadaan akses publik dalam mempelajari kinerja Danantara lantaran tidak dirilisnya laporan keuangan perusahaan itu.
Bahkan, sejumlah kebijakan Danantara sempat membuat investor asing melego saham emiten BUMN, khususnya Himbara. Ini terkait penghimpunan dividen himbara untuk membiayai upaya perbaikan emiten BUMN lain.
“Sebaliknya, kabar penurunan dividend payout ratio BBRI 2026-2027 dan kembalinya dividen BUMN ke APBN justru menjadi sentimen positif dan membuat saham perbankan naik,” paparnya.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama sepakat bahwa perbaikan laba sejumlah emiten BUMN di semester I 2026 menjadi sinyal positif, meski belum semuanya bisa dikaitkan langsung dengan Danantara.
Ke depan, peran Danantara akan lebih terasa melalui restrukturisasi, konsolidasi, efisiensi biaya, optimalisasi aset dan disiplin capital allocation.
“Jika eksekusinya konsisten dan governance tetap terjaga, ini bisa memperbaiki market confidence dan membuka peluang foreign flow kembali ke saham BUMN yang fundamental dan likuiditasnya kuat,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/8/2026).
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama melihat, peran Danantara lebih terlihat dari sisi governance, restrukturisasi, disiplin modal, dan penyehatan fundamental, terutama pada BUMN Karya.
Sementara itu, perbaikan kinerja SMGR dan TINS juga banyak dipengaruhi faktor masing-masing sektor, seperti pemulihan permintaan, harga komoditas, dan penurunan beban keuangan.
”Kalau perbaikan ini bisa berlanjut ke margin, cash flow, dan ROE yang lebih sehat, peluang saham BUMN untuk kembali menarik minat investor asing menurut kami cukup terbuka,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/8/2026).
Momentum perbaikan kinerja bottomline emiten pelat merah pun dinilai belum sepenuhnya membuat sahamnya langsung layak dikoleksi.
Teguh melihat, investor masih harus cermat dalam memilih saham emiten BUMN yang punya kinerja fundamental yang benar-benar sehat.
Sektor perbankan dan sektor komoditas tertentu masih bisa mengalami pertumbuhan kinerja saham dan operasional.
Investor pun disarankan Teguh untuk mencermati saham TINS, INCO, dan BBRI dengan target harga Rp 6.000 per saham, Rp 5.000 - Rp 6.000 per saham, dan Rp 4.500 per saham.
Elandry melihat, sampai akhir 2026 prospek emiten BUMN masih cukup konstruktif tetapi sangat bergantung pada stock picking.
Kinerja bank BUMN masih relatif solid, TINS memiliki momentum pertumbuhan kinerja dari harga timah, sementara SMGR menarik jika pemulihan volume dan margin berlanjut. Untuk BUMN Karya, harus lebih selektif karena utang dan risiko likuiditas masih cukup tinggi.
“Secara keseluruhan, BMRI masih menjadi pilihan utama, disusul TINS untuk momentum komoditas dan SMGR untuk tema pemulihan,” paparnya.
Elandry pun merekomendasikan buy on weakness untuk BMRI dengan target harga Rp 5.800 per saham, accumulate untuk TINS dengan target harga Rp 5.500 per saham, dan accumulate on weakness dengan target harga Rp 2.100 per saham.
Kevin menambahkan, sentimen positif penggerak kinerja emiten BUMN datang dari restrukturisasi oleh Danantara, perbaikan laba, pemulihan utang di sejumlah emiten, serta dukungan harga komoditas untuk BUMN tambang.
Di sisi lain, risiko tetap datang dari nilai tukar rupiah, kondisi pasar global, volatilitas komoditas, dan eksekusi restrukturisasi BUMN Karya yang masih perlu dibuktikan.
Kevin pun merekomendasikan trading buy untuk TINS dengan target harga jangka pendek di kisaran Rp 4.600 – Rp 4.720 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














