Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski dibayangi volatilitas jangka pendek akibat tekanan suku bunga global, pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia menawarkan peluang akumulasi yang menarik bagi investor berkat kuatnya penopang makroekonomi domestik serta potensi capital gain jangka menengah.
Berdasarkan data Trading Economics per Rabu (2/9/2026), yield SBN tenor 10 tahun naik 0,239% ke level 7,23%, sementara yield SBN tenor 5 tahun menguat 0,148% ke level 7,09%.
Ketahanan ekonomi nasional menjadi fondasi utama daya tarik pasar obligasi domestik.
Baca Juga: JP Morgan Sebut Rencana Penghapusan Batas Minimum Saham Rp 50 Dorong Likuiditas
Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 yang mencapai 5,29% secara year-on-year (YoY) serta penegasan peringkat utang dari S&P di level BBB/Stable memberikan bantalan kuat bagi ketahanan instrumen Surat Berharga Negara (SBN) di tengah risiko ketidakpastian global.
Di sisi lain, pergerakan arus modal asing (foreign fund flows) di pasar Surat Berharga Negara saat ini amat bergantung pada dinamika stabilitas nilai tukar rupiah dibandingkan dengan sekadar selisih imbal hasil (yield differential).
Kepemilikan asing yang relatif rendah di kisaran 13% turut membatasi volatilitas akibat potensi aksi jual pemodal luar negeri.
Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menjelaskan bahwa risiko nilai tukar menjadi faktor penentu utama masuknya dana asing ke pasar obligasi domestik.
"Jadi kuncinya menurut saya adalah currency risknya. Kalau asing melihat, oke rupiahnya Rp 18.000, tapi mau menguat ke Rp 17.000, meskipun yield differential kita sudah mulai tightening, selama nggak ada downgrade rating dan lain-lain, asing masih akan masuk ke kita, karena dia dapat forex gain dari sisi return investasinya," ujar Handy dalam paparannya, Kamis (3/9/2026).
Guna menangkap peluang di tengah kondisi kurva yield yang cenderung landai (flat), penataan durasi dan diversifikasi instrumen menjadi langkah krusial. Investor dapat memanfaatkan momentum kenaikan yield untuk melakukan akumulasi pada tenor menengah 5 hingga 10 tahun.
Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management Domingus Sinarta Ginting menyarankan pemodal untuk menjaga profil risiko dengan memadukan SBN dan obligasi korporasi berkualitas.
"Strateginya menurut kami tetap diversifikasi antara SBN dan obligasi korporasi, serta tidak terlalu agresif mengambil risiko durasi," kata Domingus kepada Kontan, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: Laba Emiten BUMN di Bawah Danantara Membaik, Simak Prospek dan Rekomendasi Sahamnya
Mengenai proyeksi pergerakan yield SBN hingga akhir tahun 2026, Handy memproyeksikan yield SBN tenor 10 tahun berpeluang melandai ke kisaran 6,8%–7,0%, dengan level yield 7,5%–7,7% sebagai titik masuk (entry point) yang sangat menarik.
Sementara itu, Domingus memperkirakan yield SBN tenor 5 tahun maupun 10 tahun bergerak di rentang 6,9%–7,6% seiring kurva yield yang diproyeksikan relatif flat hingga penutupan tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














