kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.399.000   13.000   0,94%
  • USD/IDR 16.140
  • IDX 7.328   27,17   0,37%
  • KOMPAS100 1.142   4,95   0,44%
  • LQ45 920   5,02   0,55%
  • ISSI 219   0,28   0,13%
  • IDX30 458   2,53   0,56%
  • IDXHIDIV20 549   3,16   0,58%
  • IDX80 129   0,76   0,60%
  • IDXV30 127   0,36   0,29%
  • IDXQ30 155   0,64   0,42%

Isyarat time to buy bertambah kuat


Jumat, 25 Mei 2018 / 13:46 WIB
Isyarat time to buy bertambah kuat
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia


Reporter: Krisantus de Rosari Binsasi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan di pasar saham lokal mulai mereda. Pemodal asing asing pun tampak kembali masuk bursa. Dua hari terakhir, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 1,24 triliun di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ini membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mendekati level psikologis 6.000. Pada transaksi kemarin, IHSG ditutup menguat 2,67% menjadi 5.946,54.

Para investor asing memburu sejumlah saham perbankan dan komoditas. Asing paling getol berbelanja saham BBRI. Selama dua hari, investor asing sudah net buy BBRI senilai Rp 488,22 miliar.

Inikah isyarat time to buy?  Memang pasar masih riskan. Sebab, pemodal asing masih melanjutkan proses rebalancing portofolio. Ini menyusul perubahan indeks acuan yang disusun Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan FTSE International Limited.

Dari Indonesia, ada satu pendatang baru yang masuk daftar indeks MSCI Global Small Cap, yaitu TRAM. Di periode yang sama, ada lima saham emiten asal Indonesia yang keluar. Di indeks MSCI Global Standard, saham pendatang barunya adalah INKP, sementara EXCL keluar.

Sedang di indeks FTSE Value-Stocks ASEAN, ada tiga saham Indonesia masuk, yaitu TLKM, ICBP dan PTBA. Kini, saham yang masuk daftar indeks acuan internasional itu menghiasi daftar saham yang menjadi incaran asing selama dua hari terakhir.

Selain faktor rebalancing indeks acuan global, masuknya dana asing dipicu sentimen positif dari dalam negeri. Salah satunya pengangkatan Perry Warjoyo sebagai Gubernur Bank Indonesia menggantikan Agus Martowardojo.

Pelaku pasar merespons positif kehadiran orang nomor satu di BI tersebut. Nilai tukar rupiah pun menguat dalam dua hari terakhir.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji menilai, asing melirik sektor berfundamental menarik. "Seperti sektor keuangan, konstruksi, aneka industri, infrastruktur dan consumer goods," kata dia, kemarin.

Investor lokal bisa memanfaatkan tingginya animo asing terhadap aset domestik untuk mendompleng masuk ke pasar. "Investor lokal mulai berani mengakumulasi beli saham yang potensial dan dianggap murah. Dengan net buy asing, investor lokal bisa menikmati profit," kata Nafan.

Analis Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar memprediksikan, investor asing bisa mencatatkan net buy tahun ini. Sebab, di semester kedua, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,15%. "Salah satu pemicunya Lebaran yang bisa mendongkrak konsumsi. Lalu ada Asian Games dan pertemuan IMF-World Bank di Bali," kata dia.

Namun Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai asing masih akan membukukan penjualan bersih (net sell) sepanjang tahun ini. Sebab, masih akan muncul sentimen jelek, terutama dari Amerika Serikat.

Saat ini, asing masih membukukan net sell lebih dari Rp 40 triliun di BEI.  "Jika yield US Treasury naik, rupiah akan tertekan dan yield SUN naik lagi. Kenaikan harga minyak juga bisa menekan pasar domestik," ungkap Hans.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×