Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penawaran umum atas dua perusahaan yang menerbitkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan ditutup besok Jumat 3 Juli 2026. Apakah dua saham IPO ini layak dibeli?
Dua perusahaan tersebut adalah PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) dan PT Niramas Utama Tbk (JELI). keduanya memulai masa penawaran umum IPO saham pada 1 Juli 2026.
JECX, perusahaan pengelola jaringan rumah sakit mata, JEC Eye Hospitals & Clinics ini menawarkan maksimal sekitar 487,98 juta saham di harga Rp 1.250. Ini setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor pasca IPO.
Dalam aksi korporasi, JECX juga menawarkan 162,88 saham divestasi milik DR. Dr. Waldenius Girsang, SpM(K) yang mewakili 2% dari modal ditempatkan disetor pasca penawaran umum saham.
Baca Juga: BEI Suspensi Puluhan Saham Ini Mulai Juli 2026, Dua Milik Menteri Erick Thohir
Dengan demikian, dana dari IPO yang berpotensi dikantongi JEXC mencapai Rp 609,97 miliar. Ini terdiri dari Rp 406,65 miliar dari penerbitan saham baru dan Rp 203,32 saham hasil divestasi.
Bersamaan dengan IPO ini, JECX juga mengadakan program alokasi saham karyawan dengan mengalokasikan saham sebesar 2,29% dari jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO atau setara dengan 11,16 juta.
Sedangkan JELI menetapkan harga IPO sebesar Rp 900 per saham. Dengan menawarkan 2,66 juta saham baru, perusahaan makanan dan minuman penutup dengan merek INACO ini berpotensi meraup dana segar Rp 239 miliar.
Berdasarkan prospektusnya, Price to Earning Ratio (PER) JECX sebesar 49,52 kali dan Price to Book Value (PBV) sebesar 4,51 kali. Kemudian pada harga penawaran di Rp 120 per saham, maka PER RPDL mencapai 8,61 kali dan PBV 0,000022 kali.
Tonton: IHSG Naik ke 5.690, Saham Grup Prajogo Pangestu Jadi Bintang LQ45
Rekomendasi Analis
Sementara, Tim Riset Ekuitas Ajaib Sekuritas Asia menghitung P/E JELI mencapai 23,06 kali dengan PBV sebesar 6,18 kali. Perhitungan tersebut didasarkan pada laba per saham Rp 39,02 dan nilai buku per saham sebesar Rp 145,52.
Valuasi JELI dan JECX dinilai cukup premium sehingga membutuhkan pembuktian pertumbuhan kinerja agar dapat menopang kenaikan harga saham ke depan.
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan ketiga calon emiten tersebut menawarkan profil investasi yang berbeda sehingga tidak bisa disamakan hanya karena sama-sama melaksanakan IPO.
"Iinvestor JELI membayar premi terhadap efisiensi, sedangkan JECX mengharuskan investor membayar harga yang sangat mahal untuk perusahaan yang masih berada dalam proses memulihkan profitabilitasnya," kata Hendra kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).
Hendra menambahkan JELI memiliki kekuatan pada merek INACO dan jaringan distribusi yang luas. Akan tetapi, pertumbuhan pendapatan dalam beberapa tahun terakhir masih melambat sehingga kenaikan laba lebih banyak ditopang efisiensi biaya.
Sementara itu, JECX memang bergerak di sektor rumah sakit yang defensif. Namun, valuasi sahamnya dinilai sudah cukup premium, sedangkan tingkat pengembalian modal dan pemulihan profitabilitasnya masih belum sebanding.
"Harga murah belum tentu benar-benar murah apabila fundamentalnya rapuh. Sebaliknya, harga yang terlihat mahal belum tentu kemahalan apabila perusahaan mampu menciptakan pertumbuhan laba yang konsisten," ucap Hendra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














