Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transaksi waran terstruktur dan derivatif terus merekah. Apalagi kedua produk itu memberikan opsi yang berbeda dibandingkan saham, yaitu memasang posisi jual terlebih dahulu seperti short selling.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Senin (9/3), nilai transaksi atas futures mencapai Rp 402,54 juta sepanjang tahun berjalan ini. Sementara nilai transaksi waran terstruktur mencapai Rp 2,02 triliun.
Sebagai pembanding, nilai transaksi di produk derivatif sepanjang 2025 mencapai Rp 3,85 miliar. Sementara nilai transaksi atas produk waran terstruktur di tahun lalu menembus Rp 2,36 triliun.
Baca Juga: Rotasi Saham Blue Chip dan Komoditas Dorong Kinerja Reksadana di Awal Tahun
Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, permintaan terhadap produk terstruktur dan derivatif mulai menunjukkan peningkatan.
Dia bilang produk derivatif memungkinkan investor untuk mendapatkan exposure ketika market sedang bearish. Pasalnya, investor dapat memanfaatkan put warrant dalam structured warrant untuk mendapatkan keuntungan ketika market bearish.
“Sedangkan untuk derivatif, investor dapat mengambil posisi short untuk mendapatkan keuntungan ketika market bearish sekaligus bertindak sebagai alat lindung nilai atas portfolio,” jelasnya kepada Kontan, Senin (9/3/2026).
Jeffrey mengatakan BEI selalu mendorong investor mengetahui risk dan return dari setiap produk investasi. Untuk produk derivatif, cocok untuk investor dengan tipe yang higher risk dan higher return jika dibandingkan saham atau reksadana.
“Oleh karena itu BEI aktif melakukan sosialisasi dan edukasi atas produk derivatif agar investor lebih mencermati risk dan return dan menyesuaikan investasi dengan risk profile investor,” ucapnya.
Jeffrey menegaskan produk derivatif tidak dianjurkan untuk investor pemula, tetapi lebih cocok untuk investor dengan pengetahuan dan pengalaman yang lebih banyak dan sudah melakukan investasi di saham.
Baca Juga: Simak Prospek Kinerja Emiten Grup Lippo Pasca Hibah Lahan untuk Program 3 Juta Rumah
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan sekitar belasan tahun lalu, sebenarnya produk index futures sudah ada tetapi transaksi hariannya tidak besar dan lama-lama mati.
“Tetapi dengan banyaknya investor ritel yang mencapai 20 juta SID, semoga investor sekarang bisa ramai karena dua dekade lalu jumlah investor hanya ratusan ribu,” kata Budi.
Menurutnya, kunci keberhasilan transaksi di pasar derivatif ialah kehadiran market market yang bersedia menjadi pembeli dan penjual siaga di pasar. Jika tidak ada, pasar derivatif hanya mengandalkan investor yang benar- benar paham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













