kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.658   -18,00   -0,10%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Investasi Barang Mewah Kurang Likuid, Porsi Ideal 5%–10% dari Aset


Jumat, 17 April 2026 / 22:18 WIB
Investasi Barang Mewah Kurang Likuid, Porsi Ideal 5%–10% dari Aset
ILUSTRASI. Tas Hermes Victoria Berharga Miliaran Hadiah David Beckham (DOK/cnbc.com)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik geopolitik Timur Tengah turut memengaruhi industri barang mewah. 

Laporan Global Luxury Industry Outlook 2026 dari firma konsultan global Kearney menyatakan pertumbuhan industri barang mewah pada 2026 hanya berada di kisaran 2%–4%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan sejumlah proyeksi eksternal yang memperkirakan pertumbuhan 3%–5%. 

Budi Frensidy, Guru Besar FEB Universitas Indonesia, menilai hanya sebagian kecil barang mewah yang layak dijadikan instrumen investasi.

“Saya pikir hanya sebagian kecil yang bisa jadi investasi terutama yang langka & high demand tapi mayoritas tetap konsumsi dengan nilai emosional," kata Budi kepada Kontan, Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, narasi investasi baru relevan jika investor memahami pasar dan berada dalam komunitasnya.

Dari sisi kinerja, Budi memandang aset barang mewah dinilai belum konsisten dibanding instrumen lain seperti saham maupun emas. 

Baca Juga: Outlook 2026 Moderat, Kolektor Mulai Tahan Belanja Barang Mewah

“Tetapi ada item tertentu (misalnya jam langka atau tas edisi terbatas) yang outperform S&P 500 atau emas, namun itu jarang," ujar Budi. 

Dari sisi likuiditas, barang mewah tergolong sulit dicairkan dalam waktu singkat yang menjadi risiko utama dalam investasi barang koleksi.

Selain itu, valuasi yang tidak transparan membuat harga sulit ditentukan secara objektif.

Budi menyarankan agar alokasi dana pada aset ini dibatasi, maksimal sekitar 5%–10% dari total portofolio.

Baca Juga: Tren Belanja Barang Mewah Melambat pada 2026, Pertumbuhan Bergeser ke Asia Tenggara

Ia menilai porsi yang terlalu besar berisiko karena tidak menghasilkan arus kas.

Untuk meminimalkan risiko, investor perlu memastikan keaslian barang dengan membeli dari authorized dealer atau reputable reseller, minta certificate of authenticity dan invoice.

Budi memperkirakan penjualan aset mewah pada kuartal II-2026 akan menurun.

Dengan berbagai karakteristik tersebut, barang mewah sebaiknya tidak dijadikan investasi utama.

Baca Juga: Investasi Barang Mewah Menarik, Simak Saran Perencana Keuangan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×