kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.868.000   -20.000   -0,69%
  • USD/IDR 17.206   48,00   0,28%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

Tren Belanja Barang Mewah Melambat pada 2026, Pertumbuhan Bergeser ke Asia Tenggara


Jumat, 17 April 2026 / 18:44 WIB
Tren Belanja Barang Mewah Melambat pada 2026, Pertumbuhan Bergeser ke Asia Tenggara
ILUSTRASI. Pameran Jam Tangan Mewah & Barang-Barang Premium Berkelas Atas Lainnya (Dok/Jakarta Wacth Exchange (JWX))


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren belanja barang mewah global diperkirakan memasuki fase transisi pada 2026, setelah beberapa tahun mengalami lonjakan harga yang agresif. 

Melansir laporan Global Luxury Industry Outlook 2026 dari firma konsultan global Kearney menilai, kinerja sektor ini mulai menunjukkan pergeseran, baik dari sisi kategori produk maupun kawasan pertumbuhan.

Barang mewah tradisional seperti pakaian siap pakai dan produk kulit kini cenderung stabil setelah beberapa tahun terakhir mengalami kenaikan agresif.

Harga tas tangan di berbagai rumah mode terkemuka sebelumnya naik hingga 10%, tetapi pada akhir 2025 harganya cenderung stabil. Sedangkan, pakaian dan alas kaki pada 2025 tercatat turun sekitar 5% hingga 7%.

Namun, daya tahan konsumsi dari kelompok pelanggan inti membuat industri tetap mencatat kinerja relatif solid sepanjang tahun lalu.

Memasuki 2026, peta pertumbuhan industri mewah diperkirakan tidak banyak berubah dari sisi pemain utama, tetapi dinamika di baliknya semakin beragam.

Amerika Serikat, Eropa, dan China masih menjadi tiga pasar terbesar yang menopang pengeluaran global. Meski demikian, ketiga kawasan ini diproyeksikan lebih berperan sebagai penopang stabilitas, bukan sumber pertumbuhan agresif.

Baca Juga: Outlook 2026 Moderat, Kolektor Mulai Tahan Belanja Barang Mewah

Sebaliknya, pertumbuhan justru bergeser ke kawasan yang selama ini kurang dominan. 

Jepang, Asia Tenggara, dan Timur Tengah dinilai menjadi pusat pertumbuhan baru seiring meningkatnya permintaan struktural dan investasi di sektor ritel mewah.

Di China, yang sebelumnya menjadi motor utama industri, pertumbuhan diperkirakan melambat. Setelah periode volatil pada 2024 dan stabilisasi di 2025, pasar diproyeksikan hanya tumbuh satu digit rendah hingga menengah pada 2026.

Perilaku konsumen di negara tersebut juga mengalami perubahan. Pengeluaran semakin selektif dan terpolarisasi berdasarkan tingkat pendapatan dan kota. 

Selain itu, minat terhadap emas dan perhiasan meningkat karena dianggap sebagai penyimpan nilai, sementara belanja berbasis pengalaman seperti perjalanan dan gaya hidup terus menguat.

Di sisi lain, Jepang menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Konsumsi barang mewah di negara ini didukung oleh belanja wisatawan serta permintaan domestik dari konsumen kelas atas. 

Meski pelemahan yen sempat menjadi pendorong utama pada 2024, faktor tersebut mulai berkurang pada 2025.

Menariknya, di antara grup besar seperti LVMH, Hermes, dan Kering, hanya Hermès yang mencatatkan pertumbuhan di Jepang pada 2025. Hal ini mencerminkan semakin selektifnya konsumen serta meningkatnya pentingnya kekuatan merek.

Baca Juga: Industri Barang Mewah Masuk Fase Transisi, Pertumbuhan 2026 Diproyeksi Melambat

Sementara itu, Asia Tenggara muncul sebagai salah satu kawasan dengan prospek pertumbuhan paling menarik. 

Permintaan didorong oleh kombinasi antara kelompok kaya yang mapan dan kelas profesional muda dengan daya beli yang terus meningkat.

Kota-kota seperti Singapura, Bangkok, dan Ho Chi Minh menjadi pusat pertumbuhan baru, terutama untuk kategori kecantikan, aksesoris kecil, dan kacamata. Merek global pun mulai menggabungkan identitas internasional dengan sentuhan lokal untuk menarik konsumen di kawasan ini.

Adapun Timur Tengah juga menunjukkan momentum kuat, ditopang oleh konsentrasi kekayaan di negara-negara Teluk seperti Dubai dan Riyadh. Investasi besar di sektor ritel, pariwisata, dan infrastruktur belanja turut mendorong pertumbuhan industri mewah di kawasan tersebut.

Dengan dinamika ini, Kearney memperkirakan industri barang mewah global pada 2026 tidak lagi bergantung pada satu pasar utama. Pergeseran ke kawasan baru menjadi kunci, di tengah konsumen yang semakin selektif dan sensitif terhadap nilai.

Baca Juga: Pasar Barang Mewah Stagnan, Kolektor Kian Selektif Berburu Nilai

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×