CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.962   17,00   0,09%
  • IDX 6.232   56,24   0,91%
  • KOMPAS100 823   8,72   1,07%
  • LQ45 628   5,84   0,94%
  • ISSI 214   2,70   1,27%
  • IDX30 354   2,95   0,84%
  • IDXHIDIV20 440   1,97   0,45%
  • IDX80 94   1,10   1,18%
  • IDXV30 118   0,63   0,54%
  • IDXQ30 114   0,48   0,43%

Rupiah Berpeluang Menguat pada Senin (20/7/2026), Cermati Sentimen Pendorongnya


Senin, 20 Juli 2026 / 07:00 WIB
Rupiah Berpeluang Menguat pada Senin (20/7/2026), Cermati Sentimen Pendorongnya
ILUSTRASI. Analis memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 17.870 hingga Rp 17.930 per dolar AS pada perdagangan hari ini.(TRIBUNNEWS/Jeprima)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berpeluang melanjutkan penguatan pada Senin (20/7/2026), meski pergerakannya masih dibayangi ketidakpastian global, terutama memanasnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong harga minyak dunia tetap tinggi.

Pada pekan lalu, rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (17/7/2026). Melansir Bloomberg, pada Jumat (17/7) kurs rupiah di pasar spot ditutup menguat Rp 65 atau 0,36% menjadi Rp 17.921 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah spot menguat 0,80% dari posisi Rp 18.065 per dolar AS pada Jumat (10/7).

Kurs rupiah Jisdor juga tercatat menguat 0,54% menjadi Rp 17.944 per dolar AS pada Jumat (17/7/2026). Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor menguat 0,69% dari posisi Rp 18.069 per dolar AS pada akhir pekan lalu.

Baca Juga: Daftar Broker Pembeli & Penjual Blue Chip (17 Juli 2026), Satu Broker Dominan

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berpeluang menguat pada perdagangan Senin (20/7/2026). 

Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 17.870 hingga Rp 17.930 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Sedikit mereview, penguatan rupiah pada pekan lalu didorong oleh sentimen domestik yang cukup positif, terutama setelah Bank Indonesia (BI) melaporkan aktivitas dunia usaha pada kuartal II-2026 meningkat.

Berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), Saldo Bersih Tertimbang (SBT) tercatat sebesar 12,97%, naik dari 10,11% pada kuartal sebelumnya. 

Peningkatan tersebut ditopang oleh membaiknya kinerja sejumlah sektor utama, seperti pertanian, konstruksi, pertambangan, serta akomodasi dan makan minum seiring momentum hari besar keagamaan dan libur sekolah.

Selain itu, kapasitas produksi terpakai juga meningkat menjadi 73,8% dari sebelumnya 73,33%.  Peningkatan kapasitas produksi terpakai terutama ditopang oleh LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Pertambangan dan Penggalian, dan LU Pengadaan Listrik.

"Sementara itu, kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik pada aspek likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses kredit yang tetap mudah," ujar Ibrahim, Jumat (17/7/2026).

Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (17 Juli 2026), Dua Saham Jadi Sorotan

Namun, Ibrahim mengingatkan bahwa sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan rupiah. Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap target di Iran, yang dibalas Teheran dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran terganggunya pasokan minyak dunia dan berpotensi mempertahankan harga minyak pada level tinggi. Kondisi ini juga dikhawatirkan dapat menghidupkan kembali tekanan inflasi global.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak dapat mempersulit langkah bank sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk segera memangkas suku bunga, meski data inflasi AS terbaru menunjukkan tekanan harga mulai mereda.

"Pejabat Federal Reserve terus menekankan bahwa risiko inflasi tetap ada. Mereka membutuhkan beberapa bulan lagi data inflasi yang rendah sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga, terlebih harga minyak berpotensi tetap tinggi akibat konflik di Timur Tengah," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×