kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.638.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.766   5,00   0,03%
  • IDX 6.441   -21,27   -0,33%
  • KOMPAS100 842   -10,21   -1,20%
  • LQ45 640   -8,13   -1,25%
  • ISSI 225   0,94   0,42%
  • IDX30 356   -4,01   -1,11%
  • IDXHIDIV20 444   -5,92   -1,32%
  • IDX80 96   -1,24   -1,27%
  • IDXV30 122   -2,51   -2,02%
  • IDXQ30 115   -1,38   -1,19%

Inflasi naik, mengancam laba Indosat


Kamis, 20 November 2014 / 18:53 WIB
ILUSTRASI. Simak cara tepat untuk menjaga sikat gigi tetap bersih


Reporter: Annisa Aninditya Wibawa | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi Rp 2.000 per liter dapat mengerek inflasi ke tingkat yang lebih tinggi. Emiten telekomunikasi seperti PT Indosat Tbk (ISAT) merasa kondisi ini bisa mempengaruhi kinerja keuangannya.

"Meningkatnya biaya. Ini dapat menekan laba. Kalau inflasi naik 7%, kita harus tekan biaya," sebut Direktur Keuangan ISAT Curt Stefan Carlsson, Kamis, (20/11).

Direktur Utama ISAT Alexander Rusli mengatakan belanja operasional atau operational expenditure (opex) ISAT cukup besar. Ini karena adanya komponen besar tarif listrik pada operasional jaringan. Namun, pihaknya akan berusaha untuk menjaga margin di kisaran 42% sampai 44%. Sekedar informasi bahwa pada kuartal ketiga kemarin, ISAT mengalami penurunan EBITDA margin dari 44,8% menjadi 42,9%.

Lebih lanjut, Alex menyebut adanya kekhawatiran turunnya pengeluaran masyarakat untuk telekomunikasi. Menurutnya, persentase pengeluaran masyarakat Indonesia untuk telekomunikasi terbilang rendah dibanding negara regional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×