kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Indeks Dolar AS Terkoreksi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi yang Masih Tinggi


Kamis, 15 Mei 2025 / 13:19 WIB
Indeks Dolar AS Terkoreksi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi yang Masih Tinggi
ILUSTRASI. Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 69,5 poin atau 0,41 persen menjadi Rp16.891 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.822 per dolar AS. ANTARA FOTO/Fathul Habib Sholeh/sgd/Spt.


Reporter: Rizki Caturini | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke level sekitar 100,9 pada hari Kamis (15/5) dari sehari sebelumnya yang berada di level 101. Indeks dolar AS tetap berada di bawah tekanan karena investor mempertimbangkan ketidakpastian terkait perdagangan yang terus berlanjut meskipun ketegangan baru-baru ini mereda. 

Greenback melemah terutama terhadap beberapa mata uang Asia, khususnya won Korea Selatan, di tengah spekulasi bahwa Washington menganjurkan dolar yang lebih lemah sebagai bagian dari negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung. 

Baca Juga: Rupiah Terus Menguat ke Rp 16.536 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (15/5)

Seperti dikutip Tradingeconomics, Kamis (15/5), Pemerintahan Donald Trump berpendapat bahwa dolar AS yang kuat dan kelemahan mata uang regional telah merugikan eksportir AS. Reli dolar baru-baru ini, yang didorong oleh optimisme atas pengurangan tarif AS-Tiongkok, juga mulai memudar karena fokus pasar bergeser kembali ke implikasi ekonomi yang lebih luas dari kebijakan perdagangan AS. 

Ke depannya, investor mengamati data penjualan ritel AS dan inflasi produsen wawasan baru tentang permintaan konsumen dan tren inflasi AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×