Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah sejumlah mata uang utama lainnya khususnya mata uang safe haven. Hal tersebut juga terlihat pada indeks dolar (DXY) yang cenderung turun setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rincian kebijakan tarif impor baru.
Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (3/4) pukul 10.54 WIB, indeks dolar AS berada di level 103,051 atau turun 0,28% dibanding penutupan hari sebelumnya.
Alhasil, mata uang utama lain mencetak peningkatan terhadap dolar AS. Contohnya, euro yang berhasil menguat 0,61% dan poundsterling yang sukses naik 0,46%. Setali tiga uang, yen berhasil melonjak 1,38% terhadap the greenback.
Namun di sisi lain, dolar AS tampil perkasa di hadapan mata uang emerging market. Lihat saja, yuan China yang terlihat melemah 0,39%, rupiah pun terkoreksi 0,21%.
Sentimen pergerakan indeks dolar AS terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif dasar 10% untuk impor dari semua negara.
Baca Juga: Rupiah Tumbang ke Rp 16.771 Per Dolar AS di Pembukaan Hari Ini (3/4), Rekor Terburuk
Tarif yang lebih tinggi dikenakan pada negara-negara dengan surplus perdagangan besar, seperti China, Uni Eropa, dan Jepang. Ketiga negara ini disebut termasuk lima negara importir terbesar AS, sehingga Trump menyebut tarif tambahan ini sebagai tarif “timbal balik”.
Uni Eropa yang memasok lebih dari US$ 553 miliar barang impor pada 2022 dikenakan tarif tambahan 20%. Sementara China dengan pasokan impor lebih dari US$ 536 miliar dan Jepang lebih dari US$ 148 miliar pada tahun yang sama, masing-masing dikenakan tarif 34% dan 24%.
Untuk China, tarif tersebut merupakan tambahan dari tarif 20% yang sebelumnya telah diberlakukan Trump kepada negara tersebut. Maka secara total, China dikenakan tarif impor 54%.
Di sisi lain, Meksiko dan Kanada yang sebelumnya telah meluncurkan kebijakan tarif balasan tidak turut dikenakan tarif timbal balik tambahan. Dus, barang-barang dalam perjanjian USMA dan barang-barang lain yang telah lebih dulu dikenakan tarif 25%, seperti baja dan alumunuim, juga tidak dikenakan tarif tambahan.
DXY melemah seiring investor memperhatikan dampak kebijakan tarif terhadap tensi perdagangan global. Selanjutnya, pasar menanti data Non-Farm Payroll (NFP) untuk menentukan arah kebijakan The Fed yang juga akan mempengaruhi USD.
Selanjutnya: Ini Daftar Negara dan Wilayah yang Kena Tarif Baru Trump, Ada Indonesia
Menarik Dibaca: Kumpulan Gift Code Ojol The Game 3 April 2025 Terupdate dari Codexplore
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News