kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.859   16,00   0,09%
  • IDX 8.232   -32,90   -0,40%
  • KOMPAS100 1.160   -7,78   -0,67%
  • LQ45 830   -8,97   -1,07%
  • ISSI 295   -0,61   -0,20%
  • IDX30 433   -2,92   -0,67%
  • IDXHIDIV20 517   -3,89   -0,75%
  • IDX80 130   -0,94   -0,72%
  • IDXV30 143   -0,14   -0,10%
  • IDXQ30 140   -1,37   -0,97%

Nasib Investor ANTM & NCKL: Produksi Nikel Dipangkas, Waspada!


Kamis, 12 Februari 2026 / 05:25 WIB
Nasib Investor ANTM & NCKL: Produksi Nikel Dipangkas, Waspada!
ILUSTRASI. Kuota Produksi Nikel 2026 Dipangkas ke 260 Juta Ton, Saham ANTM, INCO, dan NCKL Berpotensi Terdampak Pemerintah memangkas kuota produksi nikel 2026 menjadi 260–270 juta ton dari 379 juta ton tahun ini. Bagaimana dampaknya terhadap saham ANTM, INCO, dan NCKL serta harga nikel global?


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Informasi penting untuk investor yang masih mengempit saham ANTM, INCO dan NCKL. Tiga saham ini diprediksi akan terimbas kebijakan pemerintah yang memangkas kuota produksi nikel tahun 2026.

Pemerintah resmi memangkas kuota produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi 260 juta–270 juta ton. Angka ini turun signifikan dibandingkan kuota 2025 yang mencapai 379 juta ton.

Kebijakan ini diperkirakan berdampak langsung terhadap kinerja emiten nikel seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).

Baca Juga: Gaikindo Prediksi Penjualan Mobil 2026 Lebih Tinggi, Cek Rekomendasi Saham ASII

Dampak Pemangkasan Kuota terhadap Harga dan Volume Penjualan

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai kebijakan ini positif dalam jangka menengah karena membantu menyeimbangkan harga nikel global yang sebelumnya tertekan isu oversupply.

“Emiten terpaksa mengurangi produksi, tetapi berpotensi diuntungkan dari kenaikan average selling price (ASP) akibat penurunan suplai,” ujar Wafi kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).

Sebagai produsen nikel terbesar dunia, pengetatan suplai dari Indonesia berpotensi menjadi katalis bullish bagi harga nikel global. Namun dalam jangka pendek, volume penjualan bijih diperkirakan turun sebelum kenaikan harga mampu mengompensasi dampaknya terhadap pendapatan.

Tonton: Terungkap! Ini Tujuan Prabowo Bentuk Perminas untuk Industri Rare Earth Indonesia

Strategi Emiten Nikel Menjaga Margin

Di tengah kuota yang lebih ketat, strategi menjaga margin menjadi faktor krusial.

- ANTM dan NCKL diperkirakan akan memprioritaskan pasokan bijih ke smelter afiliasi untuk mengamankan nilai tambah hilirisasi.
- INCO cenderung fokus pada efisiensi energi guna menekan biaya produksi dan menjaga cash cost tetap kompetitif.

Dari sisi paparan bisnis, ANTM dinilai paling terdampak pada segmen penjualan bijih domestik. Meski demikian, lini bisnis emas berpotensi menjadi penopang kinerja.

INCO relatif lebih stabil karena mengandalkan ekspor nickel matte dengan kontrak jangka panjang. Sementara itu, NCKL diuntungkan oleh integrasi hulu-hilir yang kuat sehingga risiko kelangkaan bahan baku smelter lebih terkelola.

“Proyeksi sektor berpotensi membaik dari negatif ke netral seiring intervensi pemerintah untuk menyeimbangkan suplai,” tambah Wafi.

Tonton: F-16 TNI AU Mendarat di Tol Trans Sumatra!

Rekomendasi Saham dan Prospek Sektor Nikel

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai pemangkasan kuota berisiko menekan volume penjualan dan pendapatan emiten secara tahunan (YoY). Namun, dalam jangka menengah, kebijakan ini dapat menopang harga nikel global.

Untuk menjaga profitabilitas, emiten disarankan memperkuat hilirisasi, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengoptimalkan pasar domestik.

Menurut David:

- ANTM relatif lebih defensif berkat diversifikasi bisnis ke emas dan bauksit.
- INCO sangat bergantung pada efisiensi energi.
- NCKL perlu memastikan integrasi tambang hingga smelter berjalan optimal.

“Sektor nikel berpotensi memasuki fase konsolidasi. IPOT merekomendasikan buy untuk INCO dengan target harga Rp 8.000 per saham,” ujar David.

Dengan kombinasi pengetatan suplai dan potensi stabilisasi harga global, sektor nikel berpeluang memasuki fase penyeimbangan baru pada 2026.


 

Kementerian ESDM DMO Batubara 30% Berlaku untuk Tambang PKP2B Generasi I dan BUMN

Selanjutnya: Wall Street Goyah: Proyeksi Suku Bunga The Fed Goyang Pasar Saham AS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×