Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dalam tekanan pada perdagangan Rabu, 29 Januari 2026. Di tengah banyaknya sentimen negatif di pasar saham domestik, apakah ada peluang untuk investasi?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 8.232,20 pada akhir perdagangan Kamis (29/1/2026). IHSG turun 88,35 poin atau 1,06% dibandingkan hari sebelumnya. Padahal, pada perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG sempat berada di level 8.320,56.
Pelemahan pasar saham tersebut membuat investor semakin berhati-hati dalam menempatkan dana. Sentimen negatif yang dipicu peringatan MSCI terkait aspek investability pasar modal Indonesia mendorong terjadinya rotasi portofolio ke saham-saham berfundamental kuat dengan valuasi relatif aman.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai IHSG masih rawan mengalami koreksi lanjutan dalam jangka pendek. Meski demikian, peluang rebound tetap terbuka seiring langkah mitigasi yang dilakukan regulator.
“Downgrade ini bisa memicu tekanan tambahan, meskipun sebagian dapat dimitigasi oleh langkah OJK. Dalam waktu dekat, pasar modal masih sensitif terhadap sentimen,” ujar Wafi kepada Kontan, Kamis (29/1/2026).
Baca Juga: Saham Terus Turun, Hermina (HEAL) Anggarkan Dana Buyback Rp 200 Miliar
Menurut Wafi, saham-saham yang paling banyak dilepas investor asing berasal dari kelompok konglomerasi serta saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya digosipkan masuk indeks MSCI, namun batal terealisasi.
“Saham konglomerasi yang sempat digadang-gadang masuk MSCI menjadi sasaran jual. Big caps juga terkena spill over effect, tetapi sifatnya cenderung sementara dan justru bisa menjadi momentum entry,” jelasnya.
Di tengah volatilitas, Wafi melihat rotasi dana mulai mengarah ke saham-saham old economy berkapitalisasi besar dengan valuasi yang masih wajar. Selain itu, sektor konsumsi defensif dan saham komoditas emas juga dinilai menarik karena didukung kenaikan harga emas global.
“Investor bisa mulai fokus ke first liner big caps dengan valuasi reasonable dan masuk secara bertahap. Consumer defensive dan saham emas juga menarik untuk menjaga stabilitas portofolio,” tambah Wafi.
Senada, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai tekanan pasar tidak seharusnya berlangsung berlebihan seiring komitmen regulator dalam meningkatkan transparansi kepemilikan saham.
“OJK dan BEI sudah berjanji membuka data Ultimate Beneficial Owner (UBO) kepada MSCI. Ini seharusnya dapat meredam kekhawatiran pasar,” ujar Harry.
Ia menambahkan, saham-saham yang paling rentan terhadap tekanan adalah emiten konglomerasi dengan struktur kepemilikan yang kurang transparan.
“Saham konglomerasi yang UBO-nya tidak jelas itu yang paling rawan dilepas investor asing,” katanya.
Sebaliknya, Harry melihat saham-saham BUMN justru berpotensi menjadi penopang rebound IHSG karena memiliki struktur kepemilikan yang jelas dan transparan.
“UBO saham BUMN adalah pemerintah Indonesia. Ini menjadi nilai tambah dan bisa menarik minat investor saat sentimen mulai membaik,” jelasnya.
Tonton: Danantara: Tambang Emas Martabe Milik Agincourt Bakal Diambilalih BUMN Perminas
Pengamat pasar modal Irwan Ariston juga menilai peluang rebound IHSG masih terbuka, terutama ditopang oleh saham perbankan besar dan sektor konsumsi kebutuhan sehari-hari.
“Perbankan besar dan saham konsumsi defensif memiliki fundamental kuat, valuasi menarik, serta ketahanan laba di tengah volatilitas pasar,” kata Irwan.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menegaskan fokus regulator saat ini bukan pada proyeksi outflow yang disampaikan Goldman Sachs, melainkan pada reformasi pasar modal untuk memulihkan kepercayaan investor global.
OJK bersama BEI memastikan berbagai instrumen stabilisasi, seperti kebijakan buyback saham tanpa RUPS dan pengaturan auto rejection bawah (ARB), tetap diberlakukan di tengah volatilitas. Selain itu, regulator juga mempercepat penyesuaian perhitungan free float serta mewajibkan porsi kepemilikan publik minimal 15% bagi seluruh emiten.
Mahendra menambahkan, koordinasi lintas pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan Danantara, terus diperkuat untuk menjaga stabilitas pasar. Bahkan, pimpinan OJK berkomitmen berkantor langsung di Gedung Bursa guna memastikan reformasi berjalan efektif menjelang evaluasi MSCI pada Mei mendatang.
Dengan kondisi pasar yang masih fluktuatif, analis menilai peluang investasi saham di BEI tetap terbuka. Strategi selektif pada saham big caps berfundamental kuat, sektor defensif, serta emiten dengan struktur kepemilikan transparan menjadi kunci untuk menghadapi fase volatilitas IHSG saat ini.
Selanjutnya: Mengapa Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag Belum Juga Cair?
Menarik Dibaca: Cek 5 Tanda Anda Butuh Dopamine Detox, Bantu Atasi Kecanduan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













