kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.770   61,00   0,34%
  • IDX 6.486   -32,52   -0,50%
  • KOMPAS100 844   -3,83   -0,45%
  • LQ45 639   -2,60   -0,40%
  • ISSI 228   -1,13   -0,49%
  • IDX30 358   -1,35   -0,38%
  • IDXHIDIV20 438   -0,35   -0,08%
  • IDX80 96   -0,40   -0,42%
  • IDXV30 122   0,66   0,54%
  • IDXQ30 114   -0,31   -0,27%

IHSG September 2026 Berpotensi Volatil, Investor Perlu Cermati Risiko Global


Senin, 31 Agustus 2026 / 09:54 WIB
IHSG September 2026 Berpotensi Volatil, Investor Perlu Cermati Risiko Global
ILUSTRASI. Setelah mencatat penguatan signifikan sepanjang Agustus 2026, IHSG memasuki September dengan tantangan yang tidak ringan (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah mencatat penguatan signifikan sepanjang Agustus 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki September dengan tantangan yang tidak ringan. Sejumlah agenda bank sentral utama dunia, arah suku bunga Amerika Serikat, hingga pergerakan rupiah berpotensi meningkatkan volatilitas pasar saham Indonesia.

Sepanjang Agustus 2026, IHSG menguat 5,06%. Namun, secara historis September menjadi salah satu bulan yang perlu diwaspadai investor. Kiwoom Sekuritas mencatat rata-rata return IHSG dalam 10 tahun terakhir pada September berada di level minus 0,94%.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menjelaskan, September 2026 tetap memiliki peluang positif, meski ruang penguatan IHSG diperkirakan terbatas karena kombinasi risiko global dan agenda pasar domestik.

“Kami memperkirakan IHSG berpeluang 40%–45% ditutup positif pada September 2026, sedikit di atas rata-rata probabilitas historis 33%, namun tetap condong ke skenario konsolidasi dengan bias pelemahan jangka pendek,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (28/8/2026).

Liza memproyeksikan IHSG bergerak dalam kisaran 6.400–6.705 sepanjang September. Tekanan terhadap pasar saham diperkirakan meningkat pada 10–18 September, bertepatan dengan sejumlah agenda penting bank sentral global.

Baca Juga: Tertekan Sinyal The Fed, Harga Emas Turun ke Kisaran US$ 4.460 per Ons Troi

Menurutnya, agenda utama yang perlu dicermati mencakup keputusan European Central Bank (ECB) pada 10 September, data CPI Amerika Serikat pada 11 September, serta keputusan The Fed dan Bank of Japan (BOJ) pada 16–18 September.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22–23 September. Liza menilai stabilnya BI-Rate di 5,75% masih membuka ruang pelonggaran, apabila pergerakan rupiah tetap mendukung.

Risiko The Fed dan Yield US Treasury

Liza mengatakan, risiko terhadap IHSG pada September 2026 juga berasal dari perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed. Pasca pidato Kevin Warsh di Jackson Hole, peluang kenaikan suku bunga September menurut CME FedWatch mencapai 34%. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko.

Dia mencatat yield US Treasury 10 tahun berada sekitar 4,6%–4,7%, sedangkan tenor dua tahun sekitar 4,2%–4,3%. Menurut Liza, kenaikan yield dapat menekan valuasi saham, terutama saham yang berorientasi pada pertumbuhan dan sektor teknologi.

Di Eropa dan Jepang, ECB serta BOJ juga mulai membuka peluang kebijakan yang lebih hawkish. Kondisi tersebut berpotensi mengetatkan likuiditas global melalui pengurangan transaksi carry trade berbasis yen.

Meski demikian, komoditas berpotensi menjadi penyeimbang bagi pasar saham Indonesia. Liza melihat harga crude palm oil (CPO), nikel, dan emas masih berada dalam tren kenaikan sehingga dapat menopang kinerja emiten komoditas ketika pasar saham global menghadapi tekanan.

Baca Juga: IHSG Melemah Tipis ke 6.515,8 di Pagi Ini (31/8), Top Losers LQ45: HRTA, AMMN, MDKA

Pilarmas Prediksi IHSG Lebih Berisiko Melemah

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai peluang pelemahan IHSG pada September 2026 lebih besar. Sejumlah faktor eksternal diperkirakan masih menjadi katalis yang dapat menekan pasar saham.

“Tahun ini, rasanya besar kemungkinan akan mengalami pelemahan. Namun tentu ada banyak faktor yang menentukan hal tersebut, mulai dari perang Amerika dan Iran hingga kemungkinan The Fed menahan atau menaikkan suku bunga,” ucapnya.

Nico memperkirakan IHSG memiliki probabilitas 43% untuk menyentuh level 6.750 pada September. Sementara itu, titik exit atau keluar berada di level 6.230.

Dengan potensi volatilitas yang meningkat, investor dinilai perlu mencermati level support kuat sebelum menentukan strategi transaksi.

Analisis Teknikal IHSG Masih Positif

Di sisi teknikal, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta masih melihat tren IHSG berada dalam kondisi positif. Sejumlah indikator teknikal juga menunjukkan adanya konfirmasi terhadap tren penguatan.

“Secara teknikal, pergerakan IHSG akan membentuk pola high baru karena faktor uptrend. Berdasarkan indikator, MA20&60 telah menunjukkan positive crossover, Stochastics K_D menunjukkan sinyal positif, dan RSI berpotensi membentuk pola golden cross,” katanya.

Menurut Nafan, koreksi yang terjadi pada September belum tentu mengubah tren jangka panjang IHSG. Dalam skenario bullish, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguji level 7.400 pada 2026.

Baca Juga: Pernyataan Hawkish Pejabat The Fed Dongkrak Indeks Dolar ke Kisaran 99,6

Lebih lanjut, Nafan memasukkan sejumlah saham dengan fundamental kuat ke dalam daftar pilihan saham 2026, yakni BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, BBTN, CPIN, CTRA, INDF, ITMG, JSMR, TPIA, dan EXCL.

September Bisa Jadi Momentum Re-entry

Di tengah potensi volatilitas pasar, Liza menilai September justru dapat menjadi momentum bagi investor jangka menengah hingga panjang untuk melakukan re-entry. Koreksi pasar dinilai tidak serta-merta menjadi alasan bagi investor untuk keluar sepenuhnya dari pasar saham.

Secara historis, periode Oktober hingga Desember memiliki peluang penguatan yang lebih tinggi. Liza menyebut pola tersebut dapat menjadi window akumulasi menuju potensi reli pada kuartal IV.

Rata-rata return IHSG pada Oktober dan Desember masing-masing mencapai 1,16% dan 2,41%. Sementara itu, probabilitas kenaikan pada periode tersebut mencapai 78%.

Untuk pilihan saham, Kiwoom Sekuritas memilih INCO dengan target harga Rp 6.300, ANTM Rp 4.800, PANI Rp 9.925, BBRI Rp 3.600, MTEL Rp 705, JSMR Rp 3.850, JPFA Rp 3.140, KLBF Rp 970, dan BBNI Rp 4.100.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×