kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.709   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

Laba Semester 1 2026 Naik 34%, Harga Saham Blue Chip Ini Masih Di Bawah, Bel/Juali?


Senin, 31 Agustus 2026 / 05:23 WIB
Laba Semester 1 2026 Naik 34%, Harga Saham Blue Chip Ini Masih Di Bawah, Bel/Juali?
ILUSTRASI. Laba Semester 1 2026 Naik 34%, Harga Saham Blue Chip Ini Masih Di Bawah, Bel/Juali?


Reporter: Dimas Andi | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan kinerja bagus pada semester I 2026. Namun, harga saham blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini masih berada di level bawah. Apakah, saham ANTM layak beli?

Saham blue chip adalah saham lapis satu yang berasal dari perusahaan dengan fundamental kuat dan likuiditas pasar tinggi. Di BEI, saham blue chip biasanya menjadi anggota indeks mayor seperti LQ45.

Saham ANTM adalah salah satu anggota LQ45 sejak beberapa tahun lalu. Pada perdagangan Jumat 28 Agustus 2026, harga saham ANTM ditutup di Rp 3.160 turun 20 poin atau 0,63% secara harian. Harga saham ANTM masih belum pulih dibandingkan pencapaian tertinggi tahun ini yang sempat menembus Rp 4.600-Rp4.700.

Sementara itu, ANTM membukukan laba periode berjalan sebesar Rp6,91 triliun pada semester I-2026. Capaian tersebut tumbuh 34% secara tahunan atau year on year (yoy).

Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan penguatan EBITDA yang mencapai Rp9,62 triliun, naik 35% yoy.

Dari sisi pendapatan, ANTM mencatat penjualan bersih Rp62,71 triliun atau tumbuh 6% yoy. Penjualan domestik masih menjadi penopang utama dengan kontribusi Rp60,15 triliun atau sekitar 96% dari total penjualan.

Baca Juga: Mata Uang Komoditas Menarik untuk Diversifikasi, Simak Risikonya

Produk emas menjadi kontributor terbesar terhadap penjualan ANTM dengan porsi sekitar 80%. Penjualan emas mencapai Rp50,39 triliun, naik 1% yoy, dengan volume penjualan sebanyak 18.080 kilogram atau sekitar 581.286 troy ounce.

Sementara itu, segmen nikel yang terdiri dari feronikel dan bijih nikel menyumbang sekitar 17% terhadap total penjualan. Nilai penjualannya mencapai Rp10,41 triliun atau tumbuh 32% yoy.

Secara operasional, ANTM mencatat penjualan bijih nikel sebesar 6,77 juta wet metric ton (wmt), sedangkan penjualan feronikel mencapai 7.605 ton nikel dalam feronikel (TNi).

Segmen bauksit dan alumina turut mencatat pertumbuhan. Penjualan dari segmen ini mencapai Rp1,88 triliun atau meningkat 28% yoy, dengan kontribusi sekitar 3% terhadap total penjualan.

Adapun volume penjualan bijih bauksit mencapai 1,26 juta wmt dan alumina sebanyak 100.437 ton.

Tonton: Elpiji 3 Kg Bakal Dibatasi Pakai Desil, Warga: Jangan Sampai Salah Sasaran!

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Aneka Tambang Arini Kasmira mengatakan perseroan saat ini berfokus memastikan pertumbuhan kinerja dapat dikonversikan menjadi arus kas yang sehat dan berkelanjutan.

ANTM juga terus memperkuat pengelolaan modal kerja dan persediaan, cash conversion, serta melakukan alokasi modal secara prudent.

"Didukung posisi likuiditas yang tetap terjaga dan portofolio komoditas yang terdiversifikasi, ANTM memasuki paruh kedua 2026 dengan fundamental yang kokoh serta fleksibilitas keuangan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan operasional, mendukung agenda pertumbuhan, dan menciptakan nilai jangka panjang secara berkelanjutan," ungkap Arini dalam keterbukaan informasi, Jumat (28/8).

Prospek Saham ANTM Semester II-2026

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai prospek kinerja ANTM pada semester II-2026 masih positif.

Menurut Rully, harga emas menjadi salah satu katalis utama bagi ANTM. Harga emas yang berada di kisaran US$4.500 per ons troi dinilai memberikan dukungan terhadap bisnis emas yang selama ini menjadi kontributor terbesar pendapatan perseroan.

Selain emas, kinerja ANTM pada semester II-2026 akan dipengaruhi oleh pergerakan harga nikel, alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), serta tingkat utilisasi fasilitas pengolahan.

"Emas memberikan dukungan earnings dalam jangka pendek, sementara nikel dan hilirisasi menjadi sumber pertumbuhan berikutnya," kata Rully, Minggu (30/8).

Meski harga emas berada di level tinggi, Rully menilai ANTM tetap perlu memastikan ketersediaan pasokan untuk memenuhi permintaan emas domestik yang kuat.

ANTM juga perlu meningkatkan kontribusi emas yang berasal dari produksi sendiri. Langkah tersebut penting agar kenaikan harga emas dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap margin perusahaan.

Di sisi lain, Rully mengingatkan ANTM untuk tetap disiplin dalam pengelolaan belanja modal, modal kerja, dan arus kas.

Posisi arus kas ANTM yang mencapai sekitar Rp9,2 triliun pada semester I-2026 memberikan ruang bagi perseroan untuk melakukan ekspansi. Namun, sejumlah proyek hilirisasi membutuhkan investasi dalam jumlah besar.

"Oleh karena itu, pertumbuhan volume dan ekspansi kapasitas perlu tetap diikuti dengan return on investment yang memadai," imbuh Rully.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menambahkan, potensi permintaan emas domestik yang tinggi perlu diantisipasi ANTM dengan memperkuat kapasitas fasilitas pemurnian.

Selain itu, ANTM dinilai perlu memperluas kerja sama dengan bullion bank serta meningkatkan jaringan distribusi, baik secara offline maupun digital.

Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Harry merekomendasikan buy saham ANTM dengan target harga Rp4.600 per saham.

Rekomendasi tersebut juga sejalan dengan pandangan Harry sebelumnya yang menilai ANTM memiliki prospek relatif defensif di tengah tingginya harga emas.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko koreksi harga emas, perkembangan harga nikel, kebutuhan belanja modal, serta kemampuan ANTM menjaga margin dan arus kas.

Dengan demikian, harga emas masih menjadi katalis utama bagi kinerja ANTM dalam jangka pendek, sementara pengembangan bisnis nikel dan proyek hilirisasi menjadi faktor yang akan menentukan sumber pertumbuhan perseroan dalam jangka menengah.


 

RUU Perampasan Aset Masukkan 13 Tindak Pidana, Apa Saja?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×