Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan aksi jual investor asing masih membayangi pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun berpotensi bergerak fluktuatif seiring meningkatnya sentimen risk off akibat ketidakpastian global.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan kondisi pasar saat ini masih dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global.
“Pasar sedang berada dalam fase risk off. Jika konflik berkepanjangan dan harga minyak naik ke atas US$130–150 per barel, maka risiko lanjutan adalah inflasi global meningkat dan suku bunga bertahan tinggi lebih lama,” ujarnya kepada Kontan, Senin (30/3/2026).
Menurut Hendra, kondisi tersebut dapat menekan nilai tukar rupiah dan mendorong investor asing terus melakukan aksi jual di pasar saham domestik.
Ia memperkirakan, dalam skenario terburuk, IHSG berpotensi turun menguji level psikologis 7.000, bahkan bisa melemah ke kisaran 6.800–6.900. Meski demikian, penurunan tersebut dinilai bersifat sementara.
Baca Juga: IHSG Turun Tipis 0,08%, Intip Proyeksi dan Rekomendasi Sahamnya untuk Esok (31/3)
“Secara fundamental ekonomi Indonesia masih relatif stabil, sehingga area 6.800-6.900 bisa menjadi support kuat dalam kondisi krisis geopolitik berkepanjangan,” jelasnya.
Di tengah tekanan global, Hendra melihat masih ada sejumlah sentimen domestik yang dapat menahan pelemahan IHSG, seperti inflasi yang terjaga, stabilitas suku bunga Bank Indonesia, serta potensi belanja pemerintah.
Selain itu, kenaikan harga komoditas energi seperti minyak dan batubara justru memberikan dampak positif bagi Indonesia sebagai eksportir komoditas.
“Terjadi dikotomi di pasar. Saham energi naik, sementara saham perbankan dan konsumer tertekan. Ini yang membuat IHSG tidak jatuh terlalu dalam,” katanya.
Baca Juga: Dipengaruhi Harga Komoditas, Begini Prospek dan Rekomendasi Saham Emiten Migas
Hendra menambahkan, kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa saham-saham blue chip, khususnya sektor perbankan, menjadi target aksi jual investor asing. Namun tekanan ini lebih dipengaruhi faktor eksternal ketimbang penurunan fundamental emiten.
Dalam situasi ini, investor disarankan untuk lebih selektif dan tidak agresif dalam mengambil posisi.
“Strategi yang tepat adalah buy on weakness dan bertahap. Cash is king tetap penting di tengah ketidakpastian pasar,” imbuhnya.
Ia juga menilai volatilitas pasar saat ini justru membuka peluang bagi investor, terutama pada saham yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas dan memiliki fundamental kuat.
Beberapa saham yang direkomendasikan untuk dicermati antara lain PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga Rp3.500, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) speculative buy target Rp2.100, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) speculative buy target Rp280, serta PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) trading buy target Rp1.600.
“Saham berbasis komoditas dan energi berpotensi menjadi outperform di tengah IHSG yang masih berfluktuasi,” pungkasnya.
Baca Juga: Lonjakan Harga Komoditas Jadi Pemicu Kinerja Emiten Batubara
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













