kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.807.000   -30.000   -1,06%
  • USD/IDR 17.017   26,00   0,15%
  • IDX 7.092   -5,39   -0,08%
  • KOMPAS100 977   0,13   0,01%
  • LQ45 717   -1,48   -0,21%
  • ISSI 252   2,66   1,07%
  • IDX30 389   -2,31   -0,59%
  • IDXHIDIV20 489   0,39   0,08%
  • IDX80 110   0,25   0,22%
  • IDXV30 136   2,13   1,58%
  • IDXQ30 127   -0,98   -0,77%

Lonjakan Harga Komoditas Jadi Pemicu Kinerja Emiten Batubara


Senin, 30 Maret 2026 / 19:11 WIB
Lonjakan Harga Komoditas Jadi Pemicu Kinerja Emiten Batubara
ILUSTRASI. Logistik batubara Grup Titan Infra Sejahtera (TIS) (Dok/Grup Titan)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peluang emiten produsen batubara untuk meningkatkan kinerjanya terbuka lebar pada 2026 seiring melejitnya harga komoditas tersebut. Namun, bukan berarti emiten di sektor ini luput dari tantangan.

Berdasarkan data Trading Economics, harga batubara di pasar global melesat 15,44% dalam sebulan terakhir ke level US$ 137,55 per ton hingga Senin (30/3) sore.

Di tengah lonjakan harga batubara, salah satu emiten, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bakal mengimplementasikan strategi yang serupa dengan tahun lalu yakni optimalisasi efisiensi produksi sekaligus memperkuat pengendalian biaya. 

Baca Juga: Tembus Level Psikologis, Rupiah Berpotensi Melemah Lagi ke Rp 17.250 Per Dolar AS

"Strategi ini telah menghasilkan kinerja keuangan yang positif pada tahun 2025," imbuh Chief Corporate Affairs Officer Bumi Resources Christopher Fong, Senin (30/3).

Seperti yang diketahui, BUMI mampu meraih kenaikan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 20,1% year on year (yoy) menjadi US$ 81 juta pada 2025. Padahal, pada saat yang sama pendapatan BUMI menyusut 15,9% yoy menjadi US$ 4,81 miliar.

Memasuki tahun 2026, BUMI menargetkan volume penjualan batubara berada di kisaran 76 juta ton--78 juta ton. Emiten Grup Bakrie ini juga memproyeksikan harga batubara rata-rata sekitar US$ 60 per ton-US$ 62 per ton. 

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, tren kenaikan harga batubara yang terjadi sepanjang bulan Maret 2026 menjadi sentimen positif bagi kinerja emiten batubara sepanjang tahun ini.

Sebab, gangguan pasokan energi akibat konflik geopolitik Timur Tengah mendorong berbagai negara untuk beralih ke batubara sebagai substitusi gas alam atau Liquefied Natural Gas (LNG). "Hal ini membuka peluang ekspor ke Jepang, Korea Selatan, dan Eropa," kata Abida, Senin (30/3).

Walau begitu, kenaikan harga batubara tidak otomatis menjadi keuntungan penuh bagi pihak emiten. Ini mengingat, harga minyak dunia juga ikut melesat sehingga turut mengerek biaya produksi dan berpotensi memangkas margin emiten batubara. Perlu diketahui, kontribusi bahan bakar mencapai 30%--50% dari total biaya operasional tambang.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 17.002, Ekonom Nilai Kebijakan FX Repo BI Tak Cukup Ampuh

Untuk memaksimalkan momentum menjulangnya harga batubara, emiten perlu memperkuat efisiensi biaya, mengamankam kontrak dengan pelanggan dalam jangka panjang, diversifikasi pasar ekspor, dan pengelolaan penjualan domestic market obligation (DMO) yang efisien. Transformasi ke energi terbarukan dan hilirisasi juga menjadi kunci daya tahan bagi emiten batubara secara jangka menengah. 

Sementara itu, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menambahkan, emiten juga harus memperkuat efisiensi stripping ratio dan melakukan lindung nilai (hedging) pada harga solar untuk mengunci biaya produksi.

Di luar volatilitas harga komoditas, tantangan lain yang perlu diwaspadai oleh emiten batubara adalah ancaman fenomena El Niño secara ekstrem mulai April 2026. Fenomena tersebut dapat menimbulkan kekeringan yang berisiko menyurutkan debit air sungai yang menjadi jalur utama logistik batubara.

Selain itu, wacana pengetatan porsi DMO di atas 25% dan kelanjutan pemangkasan produksi nasional juga patut diwaspadai oleh emiten produsen batubara.

Menurut David, emiten batubara yang berpeluang menjadi jawara dari sisi kinerja adalah mereka yang memiliki biaya produksi rendah dan kemampuan diversifikasi ke batubara metalurgi sebagai bahan baku baja.

"Emiten dengan neraca keuangan yang sehat dan rasio utang rendah juga berpeluang unggul," tutur dia, Senin (30/3/2026).

Terdapat beberapa saham batubara yang menurut David cukup menarik untuk dikoleksi oleh investor. Di antaranya adalah ADRO yang sedang fokus transformasi hijau, PTBA yang menjadi raja pembagi dividen, ITMG yang sensitif terhadap harga batubara global, dan ABMM yang memiliki valuasi menarik.

Di lain pihak, Abida menilai, saham batubara layak dipertimbangkan untuk strategi trading dan akumulasi selektif. Dia menjagokan ITMG sebagai pilihan utama bagi investor dengan target harga di level Rp 32.100 berkat dukungan proyeksi dividen interim September 2026 dengan yield sekitar 8%. 

Baca Juga: Cek Prospek Erajaya (ERAA) di Tahun 2026 Usai Raih Kenaikan Laba di 2025

Saham PTBA juga dipandang menarik dengan target harga wajar hingga level Rp 3.700 per saham berdasarkan nilai intrinsik arus kas. Saham AADI dan ADRO juga disarankan beli dengan target harga masing-masing di level Rpb12.200 per saham Rp 2.630 per saham. 

"Sektor ini masih menarik untuk trading meski tidak lagi dalam fase supercycle, dengan seleksi ketat pada emiten dengan fundamental kuat," ujar dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×