Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah berpotensi melanjutkan tren pelemahan menjelang penutupan perdagangan pekan ini akibat kombinasi tekanan sentimen global dan domestik.
Mengutip data Bloomberg pada Kamis (30/7/2026), rupiah di pasar spot ditutup melorot ke level Rp18.111 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, data Trading Economics mencatat rupiah spot bergerak menguat tipis 0,10% ke posisi Rp18.086 per dolar AS.
Baca Juga: Laba Mitra Adiperkasa (MAPI) di Atas Ekspektasi, Begini Rekomendasi Sahamnya
Di sisi lain, berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, mata uang Garuda mencatatkan penguatan sebesar 0,05% ke level Rp18.078 per dolar AS.
Mata uang kawasan regional dan rupiah tercatat kompak tertekan oleh penguatan dolar AS yang dipicu kekhawatiran atas eskalasi konflik di Timur Tengah.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen negatif pasar kian diperberat oleh dinamika internal pasca pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
Lebih lanjut, pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek bakal sangat bergantung pada rilis data ekonomi krusial dari Amerika Serikat.
"Rupiah besok akan dipengaruhi oleh hasil rilis data inflasi PCE dan PDB AS malam ini, dan tentunya investor masih akan terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah," kata Lukman kepada Kontan, Kamis (30/7/2026).
Pada saat yang sama, sinyal pengetatan moneter dari bank sentral AS turut menambah amunisi bagi keperkasaan dolar AS terhadap mata uang global.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengamati bahwa hasil rapat FOMC dini hari tadi yang membuka peluang kenaikan suku bunga acuan sukses membendung potensi penguatan mata uang berkembang.
Ariston juga menyoroti pentingnya kejelasan kepemimpinan di bank sentral untuk menjaga persepsi pasar terhadap arah kebijakan moneter nasional.
"Sosok pimpinan tertinggi bank sentral itu penting karena menunjukkan kredibilitas Bank Sentral dalam mengelola moneter," tegas Ariston.
Untuk perdagangan Jumat (31/7), Lukman memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif pada kisaran Rp18.050 – Rp18.150 per dolar AS.
Sementara itu, Ariston memperkirakan kurs rupiah akan diperdagangkan pada rentang Rp18.050 – Rp18.130 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Minyak, Gas, dan Batubara Kompak Melemah, Apa Penyebabnya?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














