kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

IHSG Menguat Tipis Usai Evaluasi MSCI, Ini Prospek dan Rekomendasi Sahamnya


Minggu, 21 Juni 2026 / 05:00 WIB
IHSG Menguat Tipis Usai Evaluasi MSCI, Ini Prospek dan Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Pengumuman MSCI tentang aksesibilitas pasar membuat IHSG bergejolak. Proyeksi terbaru menunjukkan IHSG konsolidasi hingga akhir Juni. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat tipis setelah pengumuman terbaru dari MSCI mengenai tinjauan aksesibilitas pasar global. Pada penutupan perdagangan Jumat (19/6/2026), IHSG naik 0,078% ke level 6.177,14 meski sempat bergerak volatil dengan kecenderungan melemah sepanjang sesi perdagangan.

Pergerakan pasar terjadi setelah MSCI merilis hasil tinjauan aksesibilitas pasar global pada Kamis (18/6), yang menunjukkan Indonesia mengalami penurunan penilaian pada aspek arus informasi (information flow) dari sebelumnya positif menjadi negatif.

Dalam laporannya, MSCI menilai masih terdapat keterbatasan keterbukaan data kepemilikan dan aktivitas pasar di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat proses pembentukan harga yang wajar serta membatasi kemampuan investor global dalam menilai free float saham secara akurat.

Selain itu, MSCI juga menyoroti pasar valuta asing Indonesia yang masih menghadapi sejumlah kendala, termasuk belum tersedianya pasar offshore yang efisien serta adanya pembatasan di pasar onshore.

Baca Juga: BI Rate Naik Lagi Jadi 5,75%, Begini Proyeksi Rupiah Sampai Akhir Tahun

Meski demikian, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana Hans Kwee menilai mayoritas indikator aksesibilitas pasar saham Indonesia yang dievaluasi MSCI masih berada dalam kategori positif dan tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk tetap mempertahankan status sebagai emerging market ketika MSCI mengumumkan keputusan final pada 23 Juni 2026.

Hans menjelaskan bahwa volatilitas yang terjadi pada awal hingga pertengahan perdagangan lebih banyak dipicu aksi ambil untung (profit taking) setelah reli kuat IHSG dalam beberapa hari terakhir.

“Prospek IHSG saat ini masih relatif konstruktif meski pasar sedang mengalami fase konsolidasi,” ujar dia, Jumat (19/6/2026).

Sentimen Global dan Kebijakan Suku Bunga Masih Membayangi Pasar

Dari sisi eksternal, pasar global juga tengah memasuki fase konsolidasi setelah meredanya euforia terkait konflik geopolitik di Timur Tengah. Investor kini lebih mencermati dampak lanjutan terhadap pasokan energi, inflasi, serta pertumbuhan ekonomi global.

Di saat yang sama, sikap bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih membuka peluang mempertahankan suku bunga acuan turut memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko, termasuk saham-saham di pasar negara berkembang (emerging market).

Sementara dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75% juga menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan IHSG. Terlebih lagi, BI dinilai masih berpotensi melanjutkan kebijakan tersebut untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Lingkungan suku bunga tinggi membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam berinvestasi di pasar saham dan berpotensi mengalihkan dana ke instrumen pendapatan tetap.

“Namun, fundamental ekonomi Indonesia masih solid dan itu bisa menjadi penopang utama bagi pasar saham,” tutur dia.

IHSG Diproyeksikan Konsolidasi hingga Akhir Juni

Untuk jangka pendek hingga akhir Juni 2026, Hans Kwee memperkirakan IHSG masih akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kisaran level 6.200 hingga 6.500.

Menurutnya, setelah mengalami kenaikan cukup tajam dalam beberapa hari terakhir, pasar membutuhkan waktu untuk mencerna berbagai sentimen yang berkembang sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.

Baca Juga: Hasil Review MSCI Keluar, Ini Kata Bos Baru BEI

Dengan kondisi tersebut, peluang penguatan IHSG masih tetap terbuka, meski diperkirakan tidak akan berlangsung secara agresif dalam waktu dekat.

Saham Perbankan dan Emas Dinilai Menarik

Dalam kondisi pasar saat ini, Hans merekomendasikan investor untuk mencermati saham-saham sektor perbankan seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI. Emiten-emiten tersebut dinilai memiliki struktur pendanaan yang kuat serta relatif lebih mampu bertahan di tengah kenaikan suku bunga acuan.

Selain sektor perbankan, saham-saham pertambangan emas juga dianggap menarik karena logam mulia masih menjadi salah satu aset lindung nilai (safe haven) di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Di sisi lain, Hans mengingatkan investor untuk mewaspadai saham-saham sektor properti dan multifinance yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Pasalnya, tingginya suku bunga acuan dapat memengaruhi permintaan pembiayaan, baik untuk pembelian rumah maupun kendaraan bermotor, sehingga berpotensi menekan kinerja kedua sektor tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×